Muhammad Aldi, M.Pd. Foto UIN Malang.
Malang, EDUKASIA.ID - Muhammad Aldi, M.Pd. berhasil meraih gelar magister sekaligus dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Magister Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada Wisuda Periode III Tahun 2026.
Pencapaian itu menjadi buah dari perjalanan panjang Aldi dalam menempuh pendidikan. Sebelum mengenakan toga, ia pernah menjalani berbagai pekerjaan sederhana untuk membiayai sekolah, mulai dari membongkar kayu balok, membersihkan selokan hingga membersihkan rumput.
Keterbatasan ekonomi tidak membuat Aldi menyerah mengejar pendidikan. Setelah menyelesaikan S1 dan mengajar di Kota Padang, ia kembali berusaha mencari jalan agar bisa melanjutkan studi ke jenjang magister.
Saat itu, Aldi sebenarnya mendapat rekomendasi untuk mengambil S2 di Kota Padang. Namun, persoalan biaya membuat rencana tersebut sulit diwujudkan.
Ia kemudian mencoba peruntungan melalui Beasiswa LPDP Kementerian Keuangan RI Batch 1 Tahun 2024. Selama enam bulan, Aldi membagi waktunya antara mengajar dan mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi.
Usahanya membuahkan hasil. Aldi berhasil lolos LPDP Batch 1 Tahun 2024 jalur Non-LOA pada percobaan pertamanya.
Tak hanya mendapatkan beasiswa, Aldi juga diterima di tiga kampus untuk program Magister Pendidikan Agama Islam. Ketiganya yakni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UPI Bandung.
Setelah melakukan riset terhadap ketiga pilihan tersebut, ia akhirnya memilih UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Pilihan itu kemudian mengantarkannya pada salah satu pencapaian penting dalam hidupnya. Aldi berhasil menyelesaikan studi magister dan memperoleh gelar M.Pd.
Namun, perjalanan tersebut tidak dimulai dari kondisi yang mudah.
Tumbuh Bersama Nenek
Aldi tumbuh tanpa kedua orang tua. Sejak kecil, ia tinggal bersama nenek dan almarhum kakeknya yang menjadi sosok penting dalam perjalanan hidupnya.Kondisi tersebut membuat Aldi terbiasa berjuang memenuhi kebutuhan pendidikannya sendiri. Bahkan sejak masih kecil, ia sudah bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhannya.
Ketika kuliah S1 di Kota Padang, perjuangan serupa masih dijalani. Aldi tinggal di panti asuhan agar kebutuhan pendidikannya dapat terpenuhi.
Pengalaman hidup itu membuatnya memahami bahwa pendidikan tidak selalu bisa ditempuh dengan fasilitas yang lengkap. Meski begitu, ia tetap mempertahankan keinginannya untuk melanjutkan sekolah.
“Saya mungkin tidak bisa memilih dari keluarga mana berasal, akan tetapi saya bisa memilih mau jadi seperti apa di masa depan,” tuturnya.
Bagi Aldi, keadaan keluarga bukan sesuatu yang bisa dipilih. Namun, masa depan masih dapat diperjuangkan.
Ingin Putus Mata Rantai Kesulitan
Ada sejumlah sosok yang menjadi sumber kekuatan Aldi ketika menghadapi masa sulit. Senyum nenek, almarhum kakek dan almarhum abangnya menjadi alasan baginya untuk terus bertahan.Ia kemudian berusaha menjadi pambangkik batang tarandam. Ungkapan Minang tersebut ia maknai sebagai upaya menjadi pembangkit dalam keluarga yang mengalami keterbatasan sekaligus memutus mata rantai kesulitan.
Keinginan itu juga berkaitan dengan keluarga yang kelak ingin ia bangun.
“Kelak nanti saya berkeluarga, anak-anak saya tidak akan merasakan hal pedih yang saya rasakan,” ungkapnya.
Bagi Aldi, pendidikan menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan harapan tersebut. Perjalanan dari Padang hingga Malang bukan hanya membawanya meraih gelar magister, tetapi juga mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Kini, perjalanan yang dahulu diwarnai pekerjaan membongkar kayu, membersihkan selokan dan merawat rumput berujung di panggung wisuda.
Toga yang dikenakannya menjadi penanda bahwa keterbatasan di awal perjalanan tidak harus menentukan akhir dari sebuah mimpi.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.