Rogoh Kocek Pribadi, Dosen Unwahas Ini Kembali Jadi Petugas Keamanan Muktamar NU

Moh. Miftahul Arief
0
Dr. A. Saiful Aziz pada saat jadi petugas keamanan Muktamar NU di Jombang. Foto ist.

EDUKASIA.ID - Mengenakan seragam pengamanan, Dr. A. Saiful Aziz tampak berdiri di antara para petugas yang mengawal jalannya Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang. Sulit menebak bahwa pria tersebut sehari-hari merupakan dosen tetap Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang sekaligus advokat.

Untuk menjalankan tugas itu, ia berangkat dari Pekalongan dengan biaya dan akomodasi pribadi. Amanah sebagai petugas keamanan muktamar diterimanya melalui Pagar Nusa Jawa Tengah.

Ini bukan kali pertama Aziz terlibat dalam pengamanan forum tertinggi NU. Sebelumnya, ia juga mendapat tugas serupa pada Muktamar NU di Lampung, lima tahun yang lalu..

"Muktamar NU adalah forum tertinggi musyawarah para kiai dan ulama. Kami mendapat amanah untuk membantu memastikan kegiatan berjalan aman dan tertib," katanya.

Ditempa di Lingkungan Pesantren


Perjalanan hidup Aziz tidak lepas dari dunia pesantren. Ia pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Langitan, Widang, Tuban, serta menjadi bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Tugurejo, Semarang.

Menurutnya, pendidikan pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Pesantren juga membentuk karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap masyarakat.

"Kami dididik di pesantren dengan nilai bahwa ilmu harus memberikan manfaat. Seorang santri tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi harus mampu hadir memberikan kebaikan bagi masyarakat, agama, dan bangsa," ujarnya.

Nilai itu pula yang terus dipegang hingga saat ini. Selain mengajar sebagai dosen tetap di Universitas Wahid Hasyim Semarang, Aziz juga aktif menjalankan profesi advokat sejak 2016.

Ia juga tercatat aktif di Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) berdasarkan Surat Keputusan Nomor 37.a/A.II.04/07/2022 tanggal 5 Juli 2022.

Tinggalkan Sejenak Aktivitas Kampus


Saat mendapat amanah untuk bertugas dalam Muktamar ke-35 NU, Aziz terlebih dahulu berkoordinasi dengan pimpinan Universitas Wahid Hasyim Semarang.

Aziz menyebut, pihak kampus memberikan dukungan penuh terhadap tugas yang akan dijalankannya. Bahkan, ia memperoleh surat tugas resmi selama lima hari, mulai 27 hingga 31 Agustus 2026.

"Sebelum berangkat, saya sudah menyampaikan izin secara lisan kepada pimpinan Universitas Wahid Hasyim Semarang. Alhamdulillah mendapatkan respons yang sangat baik. Beliau menyampaikan bahwa jika ada tugas muktamar, silakan berangkat karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk berkhidmah secara langsung dalam forum besar seperti ini," jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan dalam muktamar juga sejalan dengan semangat pengabdian yang menjadi bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi.

"Saya melihat ini bukan sebagai meninggalkan pekerjaan, tetapi sebagai bagian dari pengabdian. Seorang dosen juga harus hadir di tengah masyarakat melalui pengabdian," tambahnya.

Berangkat Mandiri untuk Menjalankan Amanah


Untuk menjalankan tugas tersebut, Aziz berangkat dari tempat tinggalnya di Pekalongan menggunakan kereta api. Seluruh kebutuhan perjalanan dan akomodasinya ditanggung secara pribadi.

Ia mengaku hal itu bukan persoalan besar. Baginya, yang terpenting adalah amanah yang diberikan dapat dijalankan dengan baik.

"Sebagai santri, ketika mendapatkan amanah khidmah, kita harus siap secara lahir dan batin. Termasuk dalam hal pembiayaan, kita berusaha mandiri dan menunjukkan tanggung jawab sebagai kader NU," katanya.

Selama muktamar berlangsung, Aziz bergabung bersama personel Pagar Nusa lainnya untuk membantu pengamanan berbagai kegiatan yang dihadiri ribuan peserta dari seluruh Indonesia.

Belajar Khidmah dari Sang Kakak


Aziz mengaku ketertarikannya pada dunia khidmah tidak lepas dari sosok sang kakak, Zaenal Muttaqin. Baginya, sang kakak bukan hanya saudara, tetapi juga sosok yang menggantikan peran ayah dalam hidupnya.

Dari Zaenal Muttaqin lah, ia pertama kali mengenal tradisi pengabdian kepada kiai, pesantren, dan organisasi. Menariknya, pada Muktamar ke-35 NU kali ini, sang kakak juga ikut bertugas dalam pengamanan.

Meski usianya tidak lagi muda, Zaenal Muttaqin tetap hadir menjalankan amanah di lapangan. Hal itu menjadi pelajaran tersendiri bagi Aziz.

"Saya berterima kasih kepada kakak saya, Zaenal Muttaqin, yang memperkenalkan saya kepada khidmah kepada kiai. Sampai hari ini beliau tetap ikut bertugas dan memberikan contoh secara langsung," ujarnya.

Menurut Aziz, banyak nilai yang ia pelajari dari sang kakak. Salah satunya adalah bahwa pengabdian tidak cukup diajarkan melalui nasihat, tetapi juga melalui keteladanan.

"Saya terbiasa dengan klien, berdebat dan bernegosiasi dengan aparat. Namun terhadap kakak saya tetap harrus seperti anak kecil. Saya sangat takzim karena beliau, apalagi sosoknya adalah pengganti ayah saya yang telah tiada," katanya.

Santri Harus Tetap Memberi Manfaat


Aziz berharap santri masa kini terus menjaga semangat pengabdian di tengah berbagai profesi yang bisa ditekuni.

Menurutnya, santri dapat menjadi dosen, advokat, pengusaha, birokrat, maupun profesional di bidang lainnya. Namun nilai yang diperoleh selama mondok tidak boleh ditinggalkan.

"Santri harus mampu menunjukkan bahwa nilai pesantren dapat berjalan bersama dengan profesionalitas. Santri harus memiliki ilmu, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan untuk hadir memberikan manfaat sesuai bidangnya masing-masing," tuturnya.

Ia menegaskan, pengabdian tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan pendidikan di pesantren. Justru setelah memiliki ilmu dan kemampuan, tanggung jawab untuk memberi manfaat kepada masyarakat semakin besar.

"Justru setelah memiliki ilmu dan kemampuan, seorang santri memiliki tanggung jawab untuk kembali memberikan manfaat kepada masyarakat. Itulah makna khidmah yang diajarkan para guru dan masyayikh," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top