Dorong Ketahanan Digital Mahasiswa, HMJ TI UIN Walisongo Gelar “Digital Resilience”

Moh. Miftahul Arief
0
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., bersama narasumber dalam Seminar Nasional Digital Resilience oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi (HMJ TI) . Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID - Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi (HMJ TI) Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang Semarang membekali mahasiswa menghadapi perubahan dunia kerja dan kehidupan sosial akibat pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Upaya tersebut dilakukan melalui Seminar Nasional dan Pameran Teknologi bertajuk Digital Resilience: Empowering Future Leaders in the AI Era di Teater Rektorat UIN Walisongo Semarang, Jumat 18 September 2026.

Sekitar 150 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, praktisi, komunitas teknologi, dan masyarakat umum.

Forum itu mempertemukan unsur perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan komunitas untuk membahas kesiapan generasi muda menghadapi transformasi digital.

Melalui tema Digital Resilience, mahasiswa diajak tidak hanya menguasai keterampilan teknis. Mereka juga perlu mampu beradaptasi, memahami etika digital, menjaga keamanan data, dan menghadapi disinformasi.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., mengatakan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menyiapkan lulusan yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

“Perkembangan AI harus dipandang sebagai momentum untuk melahirkan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat, bukan sekadar mengejar kecanggihan teknologi,” ujarnya.

Ia juga mengajak mahasiswa membangun karakter yang kuat, menjaga integritas dalam berkarya, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai instrumen pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, kolaborasi antara kampus, pemerintah, industri, dan komunitas menjadi kunci untuk melahirkan talenta digital yang adaptif sekaligus peduli terhadap persoalan sosial.

Pemerintah Susun Peta Jalan AI


Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Alfreno Kautsar Ramadhan, hadir sebagai pembicara kunci dengan memaparkan arah pembangunan ekosistem kecerdasan artifisial nasional.

Dalam paparannya, Alfreno mengutip pesan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bahwa masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh algoritma, kapasitas komputasi, atau besarnya investasi.

Arah perkembangan AI juga dipengaruhi nilai yang dipertahankan, pilihan yang dibuat, serta tanggung jawab manusia. Pengembangan teknologi karena itu perlu berpihak pada kepentingan publik dan menjunjung etika.

Alfreno menyampaikan, Indonesia telah masuk dalam 10 besar pengguna aktif harian AI generatif di dunia. Adopsi AI di berbagai organisasi nasional juga terus meningkat.

Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing ekonomi digital apabila didukung talenta AI yang berkualitas.

Pemanfaatan AI telah merambah sektor pemasaran, pendidikan, dan industri kreatif. Teknologi tersebut juga diproyeksikan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada dekade mendatang.

Pemerintah kini tengah menyusun Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional 2026–2029 yang selaras dengan RPJPN, RPJMN, dan Asta Cita.

Peta jalan tersebut berfokus pada sepuluh bidang prioritas, termasuk ekonomi, kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan, dan reformasi birokrasi.

Penyusunan pedoman etika AI juga diperkuat melalui pendekatan berbasis risiko atau risk-based approach. Pendekatan itu mengedepankan transparansi, keamanan, perlindungan data pribadi, serta prinsip human-in-the-loop.

Prinsip tersebut memastikan manusia tetap memegang kendali dalam pengambilan keputusan yang berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat.

Nilai Akademik Saja Belum Cukup


Kesiapan mahasiswa memasuki dunia kerja menjadi perhatian dosen Program Studi Teknologi Informasi UIN Walisongo, Moh Hadi Subowo, M.T.I.

Berbekal pengalaman sebagai engineer, manajer proyek, pelaku industri, dan akademisi, Hadi membawakan materi Talent Readiness: Talenta Digital Tangguh di Era AI.

Ia menyoroti fenomena hiring paradox, yakni kondisi ketika perusahaan menerima banyak pelamar, tetapi tetap kesulitan menemukan kandidat yang sesuai.

Kesenjangan itu muncul karena kompetensi, pengalaman, portofolio, dan kemampuan menyelesaikan masalah yang dimiliki pelamar belum selalu sesuai dengan kebutuhan industri.

Mahasiswa karena itu didorong tidak hanya mengumpulkan nilai akademik. Mereka juga perlu membangun portofolio proyek, mampu menunjukkan hasil kerja, serta menentukan bidang spesialisasi yang ingin ditekuni.

Pilihan tersebut antara lain software engineering, network engineering, cloud computing, data, dan keamanan siber. Portofolio dan spesialisasi menjadi bukti kompetensi saat mahasiswa memasuki dunia profesional.

AI untuk Menjawab Persoalan Sosial


Praktisi literasi digital Masruhan Mufid mengajak mahasiswa memanfaatkan AI untuk menghadirkan kemaslahatan sosial, bukan hanya meningkatkan efisiensi kerja.

Mahasiswa dinilai perlu menjadi jembatan antara kecanggihan teknologi dan penguatan karakter melalui semangat tabayyun, amanah, dan kolaborasi.

Masruhan memaparkan sejumlah contoh penerapan AI yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di antaranya pengembangan platform pembelajaran daring, pemetaan produk halal bagi UMKM, dan edukasi keamanan siber di pesantren.

AI juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan sistem pendeteksi hoaks sebagai bagian dari penguatan literasi digital di ruang publik.

Mahasiswa turut didorong melakukan reskilling, menguasai prompt engineering, memanfaatkan ekosistem AI secara produktif, dan membangun kolaborasi lintas sektor.
Pamerkan Inovasi Mahasiswa

Selain seminar, HMJ TI UIN Walisongo menggelar pameran teknologi yang menampilkan karya mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi.

Berbagai proyek berbasis AI, Internet of Things (IoT), dan pengembangan aplikasi dipamerkan sebagai solusi atas persoalan di masyarakat.

Karya tersebut meliputi platform aksesibilitas berbasis AI bagi penyandang disabilitas, sistem analisis kesehatan kulit, aplikasi nutrisi berbasis AI, dan situs pengecekan indikasi status halal.

Mahasiswa juga memamerkan sistem parkir pintar berbasis IoT serta sejumlah solusi digital yang mendukung pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal.

Diskusi selama kegiatan membahas strategi membangun karier di tengah otomatisasi AI, peluang mengikuti program pengembangan talenta digital nasional, hingga cara menciptakan inovasi sesuai kebutuhan masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat upaya Program Studi Teknologi Informasi UIN Walisongo dalam mengintegrasikan inovasi digital dengan nilai kemanusiaan.

Melalui inisiatif HMJ TI, dukungan Fakultas Sains dan Teknologi, serta kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas teknologi, mahasiswa dipersiapkan menjadi talenta digital yang adaptif, berintegritas, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top