Perjuangan Chusnul, Orang Tua Tunggal Raih Gelar Doktor UIN Walisongo lewat Riset Kepemimpinan Kiai

Moh. Miftahul Arief
0
Chusnul Chotimah menerima dokumen kelulusan doktor dari Rektor UIN Walisongo Semarang usai dinyatakan lulus dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor, Selasa (29/9/2026).

Semarang. EDUKASIA.ID
- Chusnul Chotimah, orang tua tunggal asal Demak, meraih gelar doktor pada Program Studi S-3 Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang setelah mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor, Selasa (29/9/2026).

Chusnul dinyatakan lulus dengan hasil sangat memuaskan. Ia menjadi doktor ke-456 yang diluluskan UIN Walisongo Semarang.

Ketua Sidang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., menyampaikan keputusan tersebut setelah seluruh rangkaian ujian promosi doktor selesai.

"Saudari Chusnul Chotimah kami nyatakan lulus Program Doktor. Oleh karena itu, kepadanya diberikan gelar Doktor Studi Islam dan merupakan doktor ke-455 yang telah diluluskan UIN Walisongo," ujarnya.

Ujian tersebut diikuti tim sidang yang terdiri atas Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. sebagai Ketua Sidang/Penguji, Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed., St. sebagai Sekretaris Sidang/Penguji, Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag. sebagai Promotor/Penguji, dan Dr. H. Abdul Wahib, M.Ag. sebagai Co-Promotor/Penguji.

Selain itu, hadir Dr. H. Siti Fatimah, M.Hum. sebagai Penguji Eksternal, Prof. Dr. H. Musthofa, M.Ag., Dr. H. Abdul Wahid, M.Ag., serta Dr. Agus Sutiyono, M.Ag., M.Pd. sebagai penguji.

Di balik capaian akademiknya, Chusnul menjalani proses doktoral sembari mengasuh anak dan mencari nafkah sebagai orang tua tunggal. Ia menyebut perjalanan tersebut tidak mudah.

"Sebagai orang tua yang merawat anak dan mencari nafkah, alhamdulillah bisa melalui proses doktoral ini. Perjalanan Kudus, Rembang, Pati dan Purworejo memang berat, tetapi semuanya telah terlampaui," katanya usai ujian.

Ketangguhan itu ditempa sejak lama. Chusnul lahir di Demak pada 20 Juni 1981 dari keluarga religius yang juga menekuni dunia usaha. Ayahnya yang berprofesi sebagai wiraswasta dan petani meninggal dunia pada 2001, bertepatan dengan tahun pertama dirinya menempuh pendidikan di Pondok Tahfidh Yanbu'ul Qur'an Putri Kudus.

Menurut Chusnul, sosok ibunya menjadi sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan. Meski kini berusia 69 tahun, sang ibu tetap aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan di Kabupaten Demak.

"Dari beliau saya belajar untuk tetap semangat, aktif berorganisasi, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan hidup," tuturnya.

Perempuan kelahiran Demak itu memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Ia pernah menempuh pendidikan di Pondok Modern Assalaam Pabelan dan sekitar 10 tahun belajar di Pondok Tahfidh Yanbu'ul Qur'an Putri Kudus.

Dari pesantren tersebut, Chusnul menyelesaikan hafalan Al-Qur'an 30 juz. Latar belakang pendidikan itu kemudian berjalan beriringan dengan perjalanan akademiknya di bidang pendidikan dan studi Islam.

Chusnul menyelesaikan dua program sarjana di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, yakni Pendidikan Agama Islam dan Sejarah Peradaban Islam. Setelah itu, ia menempuh Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Pendidikan doktoralnya kemudian ditempuh di UIN Walisongo Semarang. Saat ini ia aktif mengajar pada Program Ta'lim Al-Qur'an UIN Sunan Kudus, menyimak hafalan Al-Qur'an mahasiswa, menekuni jasa pendidikan, serta aktif di berbagai organisasi keagamaan dan alumni.

Teliti Kepemimpinan Tiga Kiai


Dalam ujian promosi doktor, Chusnul mempertahankan disertasi berjudul Kepemimpinan Kharismatik Kiai dalam Mempertahankan Tradisi Pondok Pesantren di Era Disrupsi 5.0 (Studi Tokoh KH. Muhammad Ulin Nuha Arwani, al-Hafiz, KH. Mustofa Bisri, KH. Achmad Chalwani).

Penelitian tersebut mengkaji kepemimpinan tiga kiai dalam mempertahankan tradisi pondok pesantren di tengah perubahan teknologi dan sosial pada era disrupsi 5.0.

Chusnul menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi tokoh. Kajian tersebut melihat kepemimpinan KH. Muhammad Ulin Nuha Arwani, al-Hafiz, KH. Mustofa Bisri, dan KH. Achmad Chalwani dalam konteks keberlanjutan tradisi pesantren sekaligus menghadapi perubahan zaman.

Menurut Chusnul, kepemimpinan kiai tetap memiliki relevansi karena bertumpu pada keteladanan moral, otoritas keilmuan, kedalaman spiritualitas, kemampuan komunikasi, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sosial.

“KH. Muhammad Ulin Nuha Arwani menampilkan model kepemimpinan profetik berbasis Al-Qur'an dan penjagaan sanad keilmuan,” ungkapnya.

Sementara KH. Mustofa Bisri, menurut hasil penelitian Chusnul, mengembangkan kepemimpinan kultural-transformatif melalui pendekatan seni, budaya, dan humanisme Islam.

Adapun KH. Achmad Chalwani disebut mengintegrasikan tradisi pesantren dengan pendekatan manajerial modern serta penguatan jejaring sosial-keagamaan.

"Ketiganya menunjukkan bentuk kepemimpinan yang berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga kesinambungan tradisi pesantren sekaligus mendorong adaptasi terhadap perubahan zaman," ujarnya.

Penelitian tersebut juga menempatkan perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), dan perubahan sosial sebagai bagian dari konteks yang dihadapi pesantren pada era Society 5.0.

Keteladanan Moral Menjadi Kunci


Dalam kesempatan terpisah, Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag., menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Chusnul menyelesaikan studi doktoralnya di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sebagai orang tua tunggal.

Menurut Muhyar, capaian tersebut menunjukkan ketangguhan dalam menjalani tugas akademik sekaligus tanggung jawab sosial di masyarakat. Ia juga menilai tema disertasi yang diangkat Chusnul relevan dengan tantangan yang dihadapi tokoh agama dan pesantren di era disrupsi.

"Apresiasi yang tinggi kepada Dr. Chusnul Chotimah. Berkat ketahanannya yang kuat dalam menghadapi tugas kuliah dan kemasyarakatan, akhirnya studinya terselesaikan," ujarnya.

Muhyar menambahkan, hasil penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa tantangan yang dihadapi tokoh agama saat ini semakin kompleks. Namun, di antara berbagai perubahan yang terjadi, keteladanan moral tetap menjadi faktor paling penting dalam menjaga wibawa dan pengaruh seorang pemimpin agama.

"Tantangan paling nyata adalah keteladanan moral. Keteladanan moral akan menjadi palang pintu penyelamat bagi kharisma seorang tokoh agama," tegasnya.

Ia menilai penguasaan teknologi memang penting di era digital. Namun, kemajuan teknologi tidak boleh menggeser nilai-nilai keteladanan yang menjadi fondasi kepemimpinan keagamaan.

"Tokoh agama bisa saja gaptek atau gagap teknologi, tetapi tidak boleh gaptel, gagap keteladanan. Jika keteladanan moralnya tergerus, maka kharismanya akan pupus," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top