Perjuangan Lailiyah, Kuliah Sambil Rawat Bayi hingga Raih Gelar Doktor UIN Walisongo

Moh. Miftahul Arief
0
Dr. Siti Lailiyah menerima dokumen kelulusan doktor dari Ketua Sidang Promosi Doktor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., usai mempertahankan disertasinya, Senin (28/9/2026). Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID - Kesibukan mengajar dan mengasuh tiga anak, tak menyurutkan semangat Siti Lailiyah dalam berproses menemouh pendidikan S3, berkat itu ia meraih gelar doktor bidang Studi Islam pada Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang, Senin 28 September 2026.

Disertasi waita penghafal Qur'an itu dinyatakan lulus dan mengantarkannya menjadi doktor ke-453 yang diluluskan UIN Walisongo.

Gelar tersebut diraih melalui perjuangan yang tidak ringan. Selain berstatus sebagai dosen tetap Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ) Wonosobo, Lailiyah juga harus menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dari tiga anak yang masih membutuhkan pendampingan.

Tantangan itu semakin besar ketika salah satu anaknya masih berusia bayi saat ia menempuh pendidikan doktoral di Program Studi S-3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang.

"Kuliah doktor ketika punya bayi perlu perjuangan lebih, terutama saat harus meninggalkan bayi saat kuliah, kuliah sambil pumping ASI. Belum lagi saat harus menginap karena masuk pagi, mau tidak mau anak bayi diajak serta," ungkapnya.

Di tengah tuntutan akademik yang padat, Lailiyah berusaha tetap menjalankan perannya sebagai ibu. Saat proses penyelesaian disertasi, ia harus membagi waktu antara mengajar, mengerjakan penelitian, dan mengurus keluarga.

"Mengerjakan disertasi dengan dobel peran, mahasiswi S-3, wanita karier yang mengajar di UNSIQ, menjadi istri, dan seorang ibu dari tiga anak yang masih kecil-kecil. Sebagai seorang ibu, istri sekaligus mahasiswi harus bisa membagi waktu untuk tetap bisa memberikan perhatian ke anak," katanya.

Menurutnya, proses penyelesaian disertasi tidak membuatnya meninggalkan tanggung jawab dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

"Sambil menyelesaikan disertasi tetap harus meluangkan waktu untuk anak-anak. Alhamdulillah anak pertama umur 9 tahun, kelas 4 SD, sudah selesai/khatam Qur'an 30 juz. Ini menjadi PR besar saya untuk terus membersamai anak agar lebih giat dalam murojaah menjaga hafalannya, karena masih kecil jadi ibu yang mengatur waktu sang anak," ujarnya.

Menariknya, Lailiyah mengaku tidak memasang target berlebihan selama menjalani studi doktoral meskipun pada jenjang pendidikan sebelumnya ia selalu meraih prestasi akademik yang membanggakan.

"Saat kuliah S-3 tidak berharap lebih selain menyelesaikan kuliah dan mendapatkan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat," tuturnya.

Ia mengisahkan, saat menempuh pendidikan sarjana dan magister dirinya berhasil menjadi wisudawan terbaik.

"Dulu waktu kuliah S-1 dan S-2 selalu menjadi wisudawan terbaik. S-1 wisudawan terbaik dengan IPK 3,95 dan menulis skripsi memakai bahasa Arab, padahal prodi saya PAI. Kuliah S-2 wisudawan terbaik dengan IPK tinggi dan hafal Al-Qur'an. Untuk S-3 tidak berharap banyak, yang penting bisa selesai dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah," katanya.

Teliti Moderasi Beragama di Sekolah Dasar


Dalam ujian promosi doktor tersebut, Lailiyah mempertahankan disertasi berjudul "Penerapan Eco-Sosio-Pedagogis dalam Internalisasi Nilai-Nilai Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Wonosobo."

Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. selaku ketua sidang dan penguji serta Prof. Dr. H. Ikhrom, M.Ag. sebagai sekretaris sidang dan penguji.

Adapun promotor disertasi adalah Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed., St., didampingi ko-promotor Dr. H. Mustopa, M.Ag. Sementara penguji lainnya terdiri atas Dr. Hj. Imroatul Azizah, M.Ag. selaku penguji eksternal, Prof. Dr. Syamsul Ma'arif, M.Ag., Dr. Nur Khoiri, M.Ag., dan Dr. Dwi Istiyani, M.Ag.

Dr. Siti Lailiyah saat berada di Masjid Nabawi. Foto ist.

Ketua sidang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., menyatakan disertasi yang dipertahankan Lailiyah telah memenuhi persyaratan akademik untuk memperoleh gelar doktor.

"Disertasi yang bersangkutan dinyatakan lulus. Kepadanya diberikan gelar doktor dalam bidang Studi Islam sebagai doktor ke-453 yang telah diluluskan UIN Walisongo," ujarnya.

Musahadi berpesan agar capaian akademik tersebut disertai tanggung jawab moral dan akademik di tengah masyarakat.

"Tolong jaga nama baik almamater. Jika menyebarkan kebaikan, maka UIN Walisongo akan kebagian bau harumnya," pesannya.

Penelitian tersebut dilatarbelakangi tantangan kehidupan beragama di Indonesia, termasuk masih munculnya sikap intoleran, eksklusif, serta rendahnya kemampuan sebagian masyarakat dalam mengelola keberagaman.

Melalui penelitian yang dilakukan di sejumlah Sekolah Dasar Negeri di Kabupaten Wonosobo, Lailiyah mengkaji bagaimana nilai-nilai moderasi beragama ditanamkan melalui mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus multisitus. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen yang melibatkan kepala sekolah, guru Pendidikan Agama Islam, guru kelas, siswa, orang tua, serta pihak terkait lainnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan sikap moderat pada peserta didik tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pembiasaan, keteladanan guru, budaya sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, serta interaksi sosial yang berkembang di lingkungan sekolah.

Penelitian ini juga menemukan bahwa guru Pendidikan Agama Islam memiliki peran penting melalui pendekatan pembelajaran yang dialogis, reflektif, kontekstual, partisipatif, dan berbasis keteladanan.

Hasilkan Model ESPIMB-PAI


Salah satu temuan utama dalam disertasi tersebut adalah lahirnya Model Eco-Sosio-Pedagogis Internalisasi Moderasi Beragama melalui Pendidikan Agama Islam (ESPIMB-PAI).

Model ini menjelaskan bahwa karakter moderat peserta didik tidak terbentuk hanya melalui proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam semata. Pembentukan karakter tersebut merupakan hasil interaksi berbagai unsur yang saling berkaitan, mulai dari pembelajaran di sekolah, budaya sekolah, keteladanan warga sekolah, lingkungan keluarga, hingga masyarakat sekitar.

Menurut Lailiyah, keberhasilan internalisasi moderasi beragama membutuhkan ekosistem pendidikan yang mendukung secara menyeluruh.

Selain aktif sebagai dosen tetap Program Studi Pendidikan Agama Islam UNSIQ Wonosobo, Lailiyah juga aktif dalam berbagai organisasi, di antaranya Jam'iyyah Mudarasatil Qur'an Lil Hafidzat (JMQH) Kabupaten Wonosobo, Jam'iyyatul Qurro' wal Huffadz (JQH) PCNU Wonosobo, serta Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Mojotengah Wonosobo.

Pendidikan Ibu, Investasi Masa Depan Bangsa


Keberhasilan Lailiyah menyelesaikan studi doktoral di tengah kesibukannya sebagai dosen, istri, dan ibu dari tiga anak mendapat apresiasi dari Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan ketangguhan, kesabaran, kecerdasan, serta kemampuan membagi waktu yang tidak dimiliki semua orang.

Apalagi, selama menempuh pendidikan doktoral, Lailiyah tetap menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga sekaligus menjaga hafalan Al-Qur'an. Karena itu, keberhasilannya meraih gelar doktor dinilai menjadi inspirasi bagi banyak perempuan untuk terus mengembangkan kapasitas diri tanpa mengabaikan tanggung jawab keluarga.

"Saya tahu, itu tidak mudah. Itu prestasi yang tidak semua orang mampu mencapainya. Untuk itu, saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada Dr. Lailiyah dan UNSIQ Wonosobo, tempat Dr. Lailiyah mengabdi," ujarnya.

Prof. Muhyar berharap capaian akademik tersebut tidak hanya membawa manfaat bagi Lailiyah secara pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan dan kemajuan masyarakat.

"Semoga prestasinya membawa kemajuan bersama dan menginspirasi para ibu lainnya. Menurut penelitian, ibu yang pintar biasanya menurunkan anak-anak yang pintar. Jika semakin banyak ibu di negeri ini yang pintar, maka masa depan kita sebagai bangsa akan cerah," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top