Sadia Amjad Mahasiswa internasional Universitas Jambi (UNJA). Foto Unja.
Jambi, EDUKASIA.ID - Perjalanan ribuan kilometer dari Pakistan ke Jambi mengantarkan Sadia Amjad meraih prestasi akademik.
Mahasiswa internasional Universitas Jambi (UNJA) itu lulus dari Program Studi Peternakan dan Ilmu Ternak dengan predikat cum laude dan IPK 3,98.
Menempuh pendidikan di negara yang berbeda bukan perkara mudah bagi Sadia. Ia harus beradaptasi dengan bahasa, budaya, lingkungan, hingga sistem akademik yang baru.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikannya.
“Saya mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara akademik, pribadi, dan budaya sambil mengejar minat saya dalam ilmu peternakan dan penelitian,” ujarnya.
Sadia memilih bidang peternakan karena ketertarikannya pada hewan, pertanian, produksi peternakan berkelanjutan, dan penelitian. Ia menilai bidang tersebut memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Predikat cum laude dengan IPK nyaris sempurna bukanlah target utama yang sejak awal dikejarnya. Sadia lebih menempatkan proses belajar dan ilmu yang diperoleh sebagai prioritas.
“Tujuan utama saya adalah melakukan yang terbaik dan memperoleh ilmu yang bermakna. Predikat cum laude menjadi salah satu hasil dari komitmen, konsistensi, dan kerja keras selama menjalani pendidikan,” ungkapnya.
Selama kuliah di UNJA, Sadia tidak hanya menjalani aktivitas perkuliahan. Ia aktif dalam kegiatan akademik dan penelitian, termasuk mendalami pertanian berkelanjutan serta nutrisi ternak.
Salah satu topik yang digelutinya adalah pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan alternatif bagi ternak.
Di balik capaian tersebut, Sadia juga menghadapi sejumlah tantangan. Ia harus membagi waktu antara perkuliahan, penelitian, kehidupan pribadi, dan penyusunan skripsi.
Sadia kemudian menerapkan manajemen waktu dengan membuat jadwal dan menetapkan target kecil yang realistis. Ia juga berusaha menyelesaikan pekerjaan tanpa menunda serta berkonsultasi dengan dosen pembimbing ketika menemui kendala.
Baginya, konsistensi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga prestasi. Belajar secara rutin dan terorganisir dinilainya lebih efektif dibandingkan belajar secara intensif hanya ketika ujian sudah dekat.
Perjalanan Sadia juga tidak lepas dari dukungan keluarga, dosen, pembimbing, dan teman-temannya. Dukungan tersebut menjadi salah satu sumber motivasi hingga ia mampu menyelesaikan pendidikan dengan predikat cum laude.
“Bermimpilah besar, bekerja dengan konsisten, dan jangan pernah membiarkan tantangan membuat Anda melupakan alasan mengapa Anda memulai,” ujarnya.
Setelah lulus, Sadia ingin melanjutkan kiprahnya di bidang penelitian, ilmu peternakan, pertanian berkelanjutan, dan keberlanjutan lingkungan. Ia juga mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sadia turut menitipkan pesan kepada mahasiswa UNJA agar tidak menjadikan IPK sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan selama kuliah.
“Jangan hanya berfokus pada hasil akhir atau IPK. Fokuslah pada proses belajar, pengembangan diri, dan menjadi pribadi yang konsisten,” pesannya.
Ia mendorong mahasiswa untuk berani menentukan tujuan, memanfaatkan kesempatan yang ada, dan tetap bertahan ketika menghadapi berbagai tantangan.
Kisah Sadia menunjukkan bahwa perjalanan lintas negara dan perbedaan budaya bukan menjadi batas untuk meraih prestasi. Dengan kemauan belajar, kerja keras, dan konsistensi, tantangan tersebut justru dapat menjadi bagian dari proses menuju keberhasilan.
Menempuh pendidikan di negara yang berbeda bukan perkara mudah bagi Sadia. Ia harus beradaptasi dengan bahasa, budaya, lingkungan, hingga sistem akademik yang baru.
Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bagian penting dari perjalanan pendidikannya.
“Saya mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara akademik, pribadi, dan budaya sambil mengejar minat saya dalam ilmu peternakan dan penelitian,” ujarnya.
Sadia memilih bidang peternakan karena ketertarikannya pada hewan, pertanian, produksi peternakan berkelanjutan, dan penelitian. Ia menilai bidang tersebut memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Predikat cum laude dengan IPK nyaris sempurna bukanlah target utama yang sejak awal dikejarnya. Sadia lebih menempatkan proses belajar dan ilmu yang diperoleh sebagai prioritas.
“Tujuan utama saya adalah melakukan yang terbaik dan memperoleh ilmu yang bermakna. Predikat cum laude menjadi salah satu hasil dari komitmen, konsistensi, dan kerja keras selama menjalani pendidikan,” ungkapnya.
Selama kuliah di UNJA, Sadia tidak hanya menjalani aktivitas perkuliahan. Ia aktif dalam kegiatan akademik dan penelitian, termasuk mendalami pertanian berkelanjutan serta nutrisi ternak.
Salah satu topik yang digelutinya adalah pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan alternatif bagi ternak.
Di balik capaian tersebut, Sadia juga menghadapi sejumlah tantangan. Ia harus membagi waktu antara perkuliahan, penelitian, kehidupan pribadi, dan penyusunan skripsi.
Sadia kemudian menerapkan manajemen waktu dengan membuat jadwal dan menetapkan target kecil yang realistis. Ia juga berusaha menyelesaikan pekerjaan tanpa menunda serta berkonsultasi dengan dosen pembimbing ketika menemui kendala.
Baginya, konsistensi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga prestasi. Belajar secara rutin dan terorganisir dinilainya lebih efektif dibandingkan belajar secara intensif hanya ketika ujian sudah dekat.
Perjalanan Sadia juga tidak lepas dari dukungan keluarga, dosen, pembimbing, dan teman-temannya. Dukungan tersebut menjadi salah satu sumber motivasi hingga ia mampu menyelesaikan pendidikan dengan predikat cum laude.
“Bermimpilah besar, bekerja dengan konsisten, dan jangan pernah membiarkan tantangan membuat Anda melupakan alasan mengapa Anda memulai,” ujarnya.
Setelah lulus, Sadia ingin melanjutkan kiprahnya di bidang penelitian, ilmu peternakan, pertanian berkelanjutan, dan keberlanjutan lingkungan. Ia juga mempertimbangkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sadia turut menitipkan pesan kepada mahasiswa UNJA agar tidak menjadikan IPK sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan selama kuliah.
“Jangan hanya berfokus pada hasil akhir atau IPK. Fokuslah pada proses belajar, pengembangan diri, dan menjadi pribadi yang konsisten,” pesannya.
Ia mendorong mahasiswa untuk berani menentukan tujuan, memanfaatkan kesempatan yang ada, dan tetap bertahan ketika menghadapi berbagai tantangan.
Kisah Sadia menunjukkan bahwa perjalanan lintas negara dan perbedaan budaya bukan menjadi batas untuk meraih prestasi. Dengan kemauan belajar, kerja keras, dan konsistensi, tantangan tersebut justru dapat menjadi bagian dari proses menuju keberhasilan.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.