Asrul Faruq meraih gelar Doktor Studi Islam UIN Walisongo melalui disertasi tentang budaya lokal dan pembentukan religius anak usia dini. Foto ist.
Ujian terbuka yang dipimpin langsung Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag., itu menetapkan Asrul lulus dan berhak menyandang gelar Doktor Studi Islam.
"Kepadanya diberi gelar Doktor Studi Islam, dan merupakan doktor ke-458 yang telah diluluskan oleh UIN Walisongo," kata Prof. Musahadi.
Gelar tersebut menjadi puncak perjalanan akademik Asrul yang ditempuh melalui jenjang sarjana di UIN Walisongo Semarang, magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hingga menuntaskan studi doktoralnya di almamater tempat ia memulai pendidikan tinggi.
Di tengah proses studi doktoral, Asrul tetap menjalankan aktivitas akademik sebagai dosen sekaligus Ketua Program Studi PIAUD INSIP Pemalang. Selain melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, ia juga aktif melakukan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, membimbing mahasiswa, serta mengelola berbagai kegiatan akademik di lingkungan kampus.
"Menempuh S-3 bagi saya bukan berarti meninggalkan pekerjaan, tetapi justru menjadi proses untuk meningkatkan kapasitas diri agar dapat memberikan kontribusi yang lebih baik bagi lembaga, mahasiswa, dan masyarakat," ujarnya.
Menyelesaikan Disertasi di Tengah Tugas Mengajar dan Memimpin Program Studi
Perjalanan menuju gelar doktor tidak selalu berjalan mudah. Tantangan terbesar yang dihadapi Asrul adalah membagi waktu dan menjaga konsistensi di tengah berbagai tanggung jawab yang harus dijalankan secara bersamaan.
Sebagai dosen dan pimpinan program studi, ia harus tetap menjalankan tugas akademik dan kelembagaan. Sementara pendidikan doktor menuntut konsentrasi tinggi untuk membaca berbagai referensi, melakukan penelitian lapangan, menganalisis data, hingga menyusun disertasi.
"Tantangan terbesar adalah bagaimana membagi waktu dan menjaga konsistensi. Menjadi dosen sekaligus pengelola program studi membutuhkan perhatian yang besar, sementara pendidikan doktor menuntut konsentrasi, ketelitian, membaca banyak referensi, melakukan penelitian lapangan, menganalisis data, dan menulis secara ilmiah," katanya.
Di tengah perjalanan studi, ia mengaku pernah mengalami masa-masa kelelahan ketika pekerjaan, keluarga, tanggung jawab kelembagaan, dan penyusunan disertasi datang bersamaan.
"Ada masa ketika saya merasa sangat lelah dan berpikir apakah perjalanan ini mampu saya selesaikan. Namun saya kembali mengingat alasan awal mengapa melanjutkan pendidikan doktor. Perjalanan ini bukan hanya tentang memperoleh gelar, tetapi tentang membangun kapasitas diri dan memberikan manfaat yang lebih luas," ungkapnya.
Menurut Asrul, salah satu kunci menyelesaikan pendidikan doktor adalah konsistensi. Untuk itu, ia membiasakan diri memanfaatkan waktu-waktu kecil yang tersedia untuk terus mengerjakan disertasi.
"Saya membiasakan diri setiap bangun pagi setelah salat Subuh untuk membuka laptop dan melanjutkan penyusunan disertasi. Kadang hanya membaca referensi atau menyelesaikan sebagian kecil tulisan, tetapi dilakukan secara konsisten," tuturnya.
Ia meyakini disertasi tidak selesai karena kerja keras sesaat, melainkan karena dikerjakan sedikit demi sedikit secara berkelanjutan.
"Disertasi selesai karena dikerjakan sedikit demi sedikit secara konsisten," tegasnya.
Asrul juga menyebut pengorbanan terbesar selama menempuh pendidikan doktor adalah waktu. Banyak waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk keluarga atau beristirahat harus dialokasikan untuk membaca, menulis, penelitian, revisi, dan berbagai tahapan akademik lainnya.
Meski demikian, ia menganggap seluruh pengorbanan tersebut sebagai bagian dari proses perjuangan yang harus dijalani.
"Bagi saya, pengorbanan itu bukan sesuatu yang harus disesali, tetapi bagian dari proses untuk mencapai tujuan akademik," katanya.
Meneliti Peran Kearifan Lokal dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Dalam ujian promosi doktor tersebut, Asrul mempertahankan disertasi berjudul "Pembelajaran Berbasis Budaya Lokal dalam Pembentukan Perilaku Religius Anak Usia Dini (Studi pada Raudhatul Athfal di Kabupaten Pemalang)."
Sidang promosi dipimpin Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. selaku ketua sidang dan penguji, didampingi Prof. Dr. H. Shodiq, M.Ag. sebagai sekretaris sidang dan penguji.
Adapun promotor disertasi adalah Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed., St., dengan ko-promotor Dr. Sofa Muthohar, M.Ag. Sementara tim penguji terdiri atas Dr. H. Mufid, M.Ag. selaku penguji eksternal, Dr. Nur Khoiri, M.Ag., Dr. H. Ridwan, M.Ag., dan Dr. Siti Tarwiyah, S.S., M.Hum.
Penelitian tersebut berangkat dari fenomena semakin kuatnya arus digitalisasi dan budaya global yang berpotensi mengurangi kedekatan anak dengan budaya lokal serta nilai-nilai religius yang hidup di lingkungan masyarakat.
Di sisi lain, praktik pendidikan pada Raudhatul Athfal (RA) masih cenderung berfokus pada capaian akademik formal dan belum sepenuhnya mengintegrasikan budaya lokal ke dalam proses pembelajaran.
Menurut Asrul, pendidikan karakter pada anak usia dini akan lebih efektif jika nilai-nilai religius diperkenalkan melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
"Saya melihat pendidikan karakter akan lebih bermakna apabila dekat dengan kehidupan anak dan lingkungan sosial budayanya. Anak usia dini belajar bukan hanya melalui penjelasan guru, tetapi juga melalui keteladanan, pembiasaan, cerita, permainan, bahasa, tradisi, dan interaksi dengan lingkungan," jelasnya.
Untuk mengkaji persoalan tersebut, ia melakukan penelitian lapangan pada sejumlah Raudhatul Athfal di Kabupaten Pemalang dengan melibatkan kepala sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat sekitar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis budaya lokal memiliki urgensi penting dalam pembentukan perilaku religius anak usia dini karena mampu menanamkan nilai-nilai agama secara kontekstual, membangun kedekatan anak dengan budaya lokal, sekaligus menjadi sarana pelestarian budaya masyarakat.
Asrul menemukan tiga pola pembelajaran berbasis budaya lokal yang berkembang di lembaga yang ditelitinya.
"Pola pertama adalah pola simetris yang menempatkan nilai religius dan budaya lokal secara seimbang. Kedua, pola asimetris yang menjadikan nilai religius sebagai landasan utama dengan seleksi terhadap budaya lokal. Ketiga, pola integratif yang mengintegrasikan nilai religius, budaya lokal, dan pengalaman sosial anak dalam proses pembelajaran," terangnya.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis budaya lokal berdampak positif terhadap pembentukan perilaku religius anak, terciptanya lingkungan belajar yang religius dan humanis, meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam pendidikan, serta terpeliharanya budaya lokal yang mengandung nilai-nilai keagamaan.
Kkearifan lokal menurutnya tidak boleh dipandang sebagai materi tambahan semata, melainkan sebagai media pendidikan karakter yang hidup dan hadir dalam keseharian anak.
"Kearifan lokal bukan sekadar materi tambahan dalam pembelajaran, tetapi dapat menjadi media dan lingkungan pendidikan karakter yang hidup dalam keseharian anak," tegasnya.
Aktif Meneliti dan Mengembangkan Keilmuan PIAUD
Selain mengajar dan mengelola program studi, Asrul juga aktif melakukan penelitian di bidang Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Fokus kajiannya meliputi pendidikan karakter, karakter religius anak usia dini, pembelajaran berbasis budaya dan kearifan lokal, serta pengembangan pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan anak.
Berbagai hasil penelitiannya telah dipublikasikan melalui jurnal ilmiah dan dapat diakses melalui Google Scholar. Melalui berbagai kajian tersebut, ia berupaya memberikan kontribusi bagi pengembangan keilmuan PIAUD sekaligus menghadirkan manfaat praktis bagi pendidik, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat.
Asrul berharap ilmu yang diperolehnya selama pendidikan doktor dapat digunakan untuk memperkuat kualitas pendidikan anak usia dini yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter religius dan kecintaan terhadap budaya lokal.
"Bagi saya, gelar doktor bukan sekadar tambahan gelar akademik. Gelar doktor adalah simbol dari proses panjang tentang disiplin, kesabaran, tanggung jawab, dan perjuangan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan manfaat," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perjalanan menuju doktor telah memberinya banyak pelajaran tentang pentingnya ketekunan dalam menjalani proses.
"Menjadi doktor bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi tentang siapa yang mampu terus melangkah, tetap bertahan dalam proses, dan menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai jalan untuk memberi manfaat bagi orang lain," pungkasnya.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.