Dakwah untuk Orang Baik Saja? Membaca Ulang Peran Pesantren di Era Digital

Redaksi
0
Ilustrasi. Santri Pondok Pesantren Raudatu Tahfidzil Qur'an Perak Jombang. Foto Pondok Perak.

Oleh: Dr. Hj. Sari Hernawati, S.Ag., M.Pd./ Dosen Pendidikan Agama Islam, Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.

Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama. Dalam perjalanan sejarah bangsa, pesantren telah menjadi ruang persemaian ilmu, pembentukan akhlak, penguatan solidaritas sosial, sekaligus tempat tumbuhnya semangat perjuangan. Dari lingkungan pesantren lahir ulama, tokoh masyarakat, dan pejuang yang turut membentuk wajah Indonesia.

Pesantren salaf, dengan tradisi pengkajian kitab kuning, penghormatan kepada guru, kesederhanaan hidup, dan keteladanan kiai, telah mewariskan nilai yang tidak mudah digantikan oleh kemajuan teknologi: pendidikan karakter yang tumbuh melalui keteladanan dan pengalaman hidup sehari-hari.

Namun, zaman terus bergerak. Masyarakat berubah, teknologi berkembang, dan cara manusia berkomunikasi mengalami pergeseran yang sangat cepat. Di tengah perubahan tersebut, pesantren salaf kerap dipandang sebagai lembaga yang sulit beradaptasi, terlalu kukuh mempertahankan tradisi, dan kurang responsif terhadap kebutuhan zaman.

Pandangan seperti itu layak dipertanyakan. Benarkah pesantren salaf tertinggal? Atau jangan-jangan kita terlalu sempit memaknai kemajuan pendidikan, seolah hanya diukur dari kecanggihan teknologi, kemampuan bermedia digital, atau kedekatannya dengan gaya hidup modern?

Tradisi di Tengah Arus Perubahan


Persoalan pesantren hari ini sesungguhnya bukan sekadar memilih antara mempertahankan tradisi atau mengikuti modernitas. Tantangan yang lebih mendasar adalah bagaimana menjaga nilai-nilai yang diwariskan para ulama sekaligus memastikan pesantren tetap mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Tradisi bukan sesuatu yang harus ditinggalkan hanya karena zaman berubah. Sebaliknya, tradisi juga tidak boleh dijadikan alasan untuk menutup diri dari perubahan. Pesantren memiliki modal besar berupa otoritas keilmuan, kedekatan sosial, dan keteladanan para kiai. Modal inilah yang dapat menjadi pijakan untuk melakukan pembaruan secara bijaksana.

Dalam konteks tersebut, perkembangan dakwah melalui media sosial menghadirkan fenomena menarik. Munculnya para gawagis muda membawa corak komunikasi keagamaan yang lebih santai, akrab, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Bahasa yang digunakan tidak selalu formal. Humor, cerita kehidupan, persoalan keluarga, kegelisahan ekonomi, hingga pengalaman masyarakat kecil menjadi bagian dari materi dakwah. Agama hadir bukan sekadar kumpulan nasihat, tetapi menjadi sahabat yang menemani masyarakat menghadapi persoalan hidup sehari-hari.

Bagi sebagian masyarakat, pendekatan seperti ini terasa lebih dekat. Orang-orang yang mungkin canggung menghadiri pengajian formal atau merasa dirinya jauh dari gambaran ideal seorang muslim dapat menemukan ruang untuk kembali mendekat kepada agama.

Di sinilah dakwah populer menawarkan sesuatu yang penting: membuka pintu perjumpaan dengan Islam bagi kelompok masyarakat yang beragam latar belakangnya.

Ketika Dakwah Menjangkau Akar Rumput


Fenomena majelis pengajian yang dipimpin dai muda, seperti Gus Iqdam dengan Majelis Sabilu Taubah atau Gus Kautsar dengan pengajian teras gubugnya, menunjukkan bahwa ruang dakwah dapat menjadi tempat berkumpul masyarakat dari berbagai lapisan sosial. Daya tariknya tidak semata terletak pada ceramah, tetapi juga pada suasana kebersamaan dan komunikasi yang terasa dekat.

Dalam ruang sosial seperti ini, masyarakat yang kerap diberi label negatif, termasuk mereka yang pernah bersentuhan dengan kehidupan jalanan atau lingkungan yang jauh dari kegiatan keagamaan, memperoleh kesempatan untuk membangun kembali hubungan dengan agama dan komunitasnya.

Di titik inilah muncul pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini: apakah dakwah hanya ditujukan bagi mereka yang sudah dianggap baik? Jika demikian, dakwah kehilangan salah satu misi terpentingnya, yaitu merangkul, membimbing, dan mengubah. Sejarah Islam justru menunjukkan bahwa banyak pribadi besar lahir dari proses panjang perbaikan diri, bukan dari kesempurnaan sejak awal.

Hal ini penting untuk direnungkan. Jangan sampai dakwah hanya terasa nyaman bagi mereka yang sejak awal telah dianggap baik, berpendidikan, mapan, dan terbiasa berada dalam lingkungan religius. Jika agama hadir hanya untuk kelompok yang sudah merasa dekat dengannya, lalu kepada siapa pintu pertobatan dan pembinaan moral dibuka?

Namun demikian, penerimaan masyarakat terhadap pendekatan dakwah yang santai tidak boleh langsung disamakan dengan keberhasilan pembinaan keagamaan. Keramaian majelis dan popularitas seorang tokoh memang menarik perhatian, tetapi perubahan perilaku, penguatan akhlak, dan keberlanjutan pendidikan spiritual membutuhkan proses yang lebih panjang.

Dakwah tidak boleh berhenti pada keramaian jamaah. Tugas berikutnya adalah mengantarkan mereka bertumbuh dalam ilmu, akhlak, dan kesadaran beragama.

Antara Kreativitas Dakwah dan Batas Nilai


Di sisi lain, dakwah populer tidak lepas dari kontroversi. Penggunaan hiburan dalam kegiatan keagamaan, kehadiran musik dangdut dengan penyanyi perempuan, hingga penyelenggaraan konser grup musik populer di lingkungan pesantren sering memunculkan perdebatan.

Sebagian melihatnya sebagai bentuk kreativitas untuk menjangkau jamaah yang lebih luas. Sebagian lainnya mempertanyakan kesesuaiannya dengan nilai-nilai agama, adab pesantren, serta keteladanan yang semestinya dijaga oleh lembaga pendidikan Islam.

Perbedaan pandangan tersebut tidak seharusnya diselesaikan melalui saling mencela di media sosial. Yang lebih penting adalah mengajukan pertanyaan yang lebih substantif: apa tujuan kegiatan tersebut, bagaimana pelaksanaannya dirancang, nilai apa yang ingin disampaikan, siapa sasaran dakwahnya, dan bagaimana dampaknya terhadap pembinaan keagamaan masyarakat?

Kita juga perlu membedakan antara penilaian terhadap suatu kegiatan dan penilaian terhadap keseluruhan pribadi seorang dai atau lembaga pesantren. Kritik terhadap metode dakwah tidak harus berubah menjadi penghakiman terhadap seluruh ikhtiar keagamaannya. Sebaliknya, niat baik untuk berdakwah juga tidak berarti setiap metode bebas dari evaluasi.

Dakwah membutuhkan kreativitas, tetapi kreativitas tetap memerlukan arah. Keterbukaan terhadap masyarakat harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral. Kedekatan dengan budaya populer dapat menjadi sarana komunikasi, tetapi sarana itu tidak boleh menggantikan tujuan utama pendidikan agama.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah musik boleh atau tidak hadir dalam kegiatan dakwah. Ada persoalan yang lebih mendasar, yaitu bagaimana lembaga pendidikan Islam menetapkan pertimbangan, menjaga konsistensi nilai, dan mempertanggungjawabkan setiap kebijakannya kepada masyarakat.

Islam Nusantara dan Jalan Tengah yang Perlu Dirawat


Dalam konteks Indonesia yang majemuk, gagasan Islam Nusantara sering dikaitkan dengan cara beragama yang mempertimbangkan sejarah, budaya, dan realitas sosial masyarakat Indonesia. Gagasan ini dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami bahwa penyampaian ajaran Islam selalu berlangsung dalam ruang sosial dan kebudayaan tertentu.

Namun, Islam Nusantara tidak dapat dipahami hanya sebagai dakwah yang santai, penggunaan humor, atau penerimaan terhadap hiburan populer. Ia mengandung perbincangan yang jauh lebih luas mengenai hubungan ajaran Islam dengan tradisi, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Menghadirkan Islam secara humanis juga tidak berarti menghilangkan prinsip-prinsip agama demi memperoleh penerimaan publik. Sikap humanis justru menuntut kemampuan memahami manusia dengan segala kompleksitasnya tanpa kehilangan orientasi pada nilai kebenaran, tanggung jawab, dan pembinaan akhlak.

Dalam hal ini, pesantren salaf dan para gawagis muda sebenarnya tidak perlu ditempatkan dalam dua kutub yang saling berhadapan. Tradisi pesantren menyediakan kedalaman ilmu, kesinambungan sanad keilmuan, dan fondasi pembentukan karakter. Sementara itu, inovasi komunikasi membuka jalan agar nilai-nilai tersebut dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Pertemuan keduanya memang tidak selalu mudah. Ada perbedaan generasi, cara pandang, selera masyarakat, dan pertimbangan kelembagaan. Namun justru di situlah pentingnya kepemimpinan kiai dan kemampuan pesantren dalam mengelola perubahan.

Pesantren Tidak Boleh Kehilangan Arah


Sebagai lembaga pendidikan Islam, pesantren tidak cukup dinilai dari seberapa besar pengaruhnya di media sosial atau seberapa banyak masyarakat menghadiri pengajiannya. Pesantren harus tetap menjaga fungsi utamanya: menanamkan ilmu, membentuk adab, membimbing perilaku, dan membangun tanggung jawab sosial.

Sebaliknya, pesantren juga perlu menghindari sikap merasa cukup dengan kebesaran sejarahnya. Penghormatan terhadap warisan ulama seharusnya menjadi sumber kekuatan untuk menjawab persoalan zaman, bukan alasan untuk mengabaikan perubahan kebutuhan masyarakat.

Dalam perspektif manajemen pendidikan Islam, tantangan tersebut berkaitan dengan kemampuan lembaga menetapkan visi, mengelola inovasi, membangun komunikasi dengan masyarakat, dan mengevaluasi dampak program-programnya. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses pembelajaran, mendokumentasikan kajian kitab, menyebarkan pengetahuan agama, serta menjaga hubungan dengan alumni dan masyarakat.

Pembaruan tidak harus berarti mengubah seluruh sistem pendidikan pesantren. Ada kalanya yang perlu diperbarui adalah cara menyampaikan ilmu, strategi menjangkau masyarakat, atau tata kelola kelembagaan. Dengan cara demikian, pesantren dapat beradaptasi tanpa kehilangan identitas yang menjadi kekuatannya.

Demikian pula, dakwah populer perlu memiliki kesinambungan dengan pendidikan yang lebih terstruktur. Jika pengajian berhasil menarik masyarakat untuk datang, perlu dipikirkan bagaimana ketertarikan tersebut berkembang menjadi proses belajar, pendampingan, dan perubahan perilaku yang berkelanjutan.

Menjadi Menara Ilmu Tanpa Menjauh dari Masyarakat


Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah apakah pesantren harus menjadi modern atau tetap salaf. Pertanyaannya adalah bagaimana pesantren menjaga kedalaman ilmu dan keluhuran adab, sekaligus membuka pintu bagi masyarakat yang membutuhkan bimbingan.

Pesantren memang harus menjadi menara ilmu. Ia menjaga standar keilmuan, keteguhan prinsip, dan tanggung jawab moral. Namun, menara ilmu itu tidak boleh berdiri terlalu jauh hingga masyarakat kesulitan menjangkaunya.

Sebaliknya, upaya menjangkau masyarakat juga tidak boleh membuat dakwah kehilangan arah dan ukuran keberhasilannya sendiri.

Islam tidak hanya berbicara kepada mereka yang telah merasa saleh. Islam juga mengajak manusia yang sedang mencari jalan, yang pernah melakukan kesalahan, yang bergulat dengan persoalan hidup, dan yang membutuhkan kesempatan untuk memperbaiki diri. Tugas dakwah bukan memberi cap permanen kepada manusia, melainkan membuka ruang bagi pembelajaran dan perubahan.

Di sinilah pesantren salaf dan dakwah populer memiliki pekerjaan rumah bersama: membangun jembatan antara kedalaman tradisi dan keluasan jangkauan sosial. Jembatan itu tidak dibangun dengan saling merendahkan, melainkan melalui dialog, keteladanan, evaluasi, dan keberanian melakukan pembaruan secara bertanggung jawab.

Sebab, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya jamaah, viralnya potongan ceramah, atau ramainya media sosial. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana agama semakin dipahami, akhlak semakin tumbuh, dan manusia memperoleh kesempatan untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Pesantren tidak perlu meninggalkan tradisinya untuk tetap relevan. Sebaliknya, tradisi itulah yang harus terus dihidupkan dan diterjemahkan ke dalam bahasa zaman. Dengan cara itu, pesantren akan tetap menjadi penjaga warisan keilmuan sekaligus rumah bagi siapa saja yang ingin belajar, berubah, dan mendekat kepada Allah. Bukan hanya bagi mereka yang sudah dianggap baik, tetapi juga bagi mereka yang sedang berusaha menjadi lebih baik.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top