Datangkan Dosen Tamu dari Jerman, Mahasiswa UIN Walisongo Bahas Islamofobia

Redaksi
0
Mahasiswa UIN Walisongo belajar strategi kampanye inklusif dari praktisi Berlin, untuk melawan Islamofobia dan memperkuat moderasi beragama. Foto ist.

Semarang. EDUKASIA.ID - Kampanye public relations untuk melawan Islamofobia perlu membuka ruang partisipasi bagi kelompok minoritas agar suara mereka terwakili. Hal itu diungkapkan Selin Aydin, Head of Office of Administration and Policy, House of Representatives Berlin, Jerman, dalam kuliah tamu internasional Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Walisongo Semarang, di TheaterPerpustakaan UIN Walisongo, Selasa 13 Oktober 2026.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan Walisongo Public Relations Community (WPRC) tersebut, Selin membagikan pengalaman kampanye inklusif “Einer von uns” atau “One of Us” dalam kamopanye bertema “Public Relations Campaigns for Inclusion, Countering Islamophobia, and Advancing Religious Moderation” di Berlin yang diikuti 120 mahasiswa.

Selin menceritakan pengalamannya memimpin kampanye politik inklusif di Berlin. Ia mengungkapkan, poster kampanye yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Turki sempat memicu penolakan publik, sedangkan penggunaan bahasa Inggris diterima secara wajar.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembahasannya mengenai rasisme anti-Muslim dan tantangan representasi kelompok minoritas di Jerman.

“Pertanyaannya adalah siapa yang memiliki kemampuan dan akses untuk bersuara di ruang yang sebenarnya tidak dirancang untuk mereka,” ungkapnya.

Menurut Selin, kampanye public relations perlu dimulai dengan memahami kebutuhan audiens dan menetapkan tujuan yang jelas. Pelibatan publik dan evaluasi respons masyarakat juga menjadi bagian dari proses kampanye.

“Kampanye Public Relations yang efektif harus dimulai dengan memahami kebutuhan audiens, menetapkan tujuan yang jelas, membuka ruang partisipasi publik, dan mengevaluasi respons masyarakat. Kampanye tidak cukup hanya menyampaikan pesan, tetapi juga harus memastikan audiens merasa terwakili, memahami pesan yang disampaikan, dan terdorong untuk terlibat,” imbuh Selin.

Moderasi Beragama dalam Kampanye Sosial


Kuliah tamu tersebut juga menghadirkan Zainurakhmah, M.A., dosen Islam dan Moderasi Beragama UIN Walisongo Semarang. Ia membahas penerapan moderasi beragama atau wasathiyah dalam kehidupan sehari-hari.

“Moderasi beragama harus diinternalisasi dan diwujudkan melalui aksi nyata serta kampanye sosial yang mampu menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat,” ujar Zainurakhmah.

Dekan FDK UIN Walisongo, Dr. Nasihun Amin, M.Ag., turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai kuliah tamu internasional memberikan perspektif bagi mahasiswa, khususnya yang mendalami public relations, mengenai komunikasi strategis dalam menghadapi Islamofobia dan membangun citra Islam yang inklusif.

“Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran Public Relations sebagai sarana membangun pemahaman lintas budaya, memperjuangkan kesetaraan, dan mengampanyekan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat global yang beragam,” ungkapnya.

Bagian dari Perkuliahan Public Relations


Kuliah tamu internasional tersebut merupakan bagian dari perkuliahan mata kuliah Komunikasi dan Kampanye Public Relations yang diampu Alifa Nur Fitri, M.I.Kom.

Kegiatan ini menjadi agenda pertama WPRC yang menghadirkan pemateri berskala internasional. WPRC merupakan komunitas mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang berfokus pada pengembangan keahlian, riset, dan praktik hubungan masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top