UIN Ar-Raniry Beri Motor Roda Tiga untuk Mahasiswa Disabilitas

Arifah
0


Hikma Indrawani, mahasiswa penyandang disabilitas di UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Foto UIN Raniry.

Banda Aceh, EDUKASIA.ID - Hikma Indrawani, mahasiswa penyandang disabilitas di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, kini bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih mudah.

Ia menerima bantuan sepeda motor roda tiga yang telah dimodifikasi sesuai kebutuhannya.

Sebelum mendapatkan kendaraan tersebut, Hikma harus berjalan kaki menuju kampus. Mahasiswa semester tiga Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat itu bahkan terbiasa berangkat 30 hingga 40 menit lebih awal agar tidak terlambat mengikuti perkuliahan.

Sesekali, perjalanannya terbantu oleh orang-orang yang menawarkan tumpangan.

“Alhamdulillah, terkadang Allah mengirimkan orang-orang baik yang memberikan tumpangan,” tutur Hikma.

Kini, perjalanan menuju kampus tak lagi harus bergantung pada bantuan orang lain. Motor roda tiga tersebut diharapkan membuat Hikma lebih leluasa menjalani perkuliahan dan berbagai aktivitas di luar kampus.

Bantuan kendaraan itu diberikan UIN Ar-Raniry melalui Islamic Trust Fund (ITF). Penyerahan dilakukan oleh Rektor UIN Ar-Raniry Mujiburrahman dalam rangkaian Wisuda Gelombang III Tahun 2026 di Auditorium Prof Ali Hasjmy, Banda Aceh, Kamis, 8 Oktober 2026.

“Alhamdulillah, dengan motor ini saya bisa lebih mudah ke kampus, membeli keperluan, dan beraktivitas, baik di dalam maupun di luar kampus. Jarak bukan lagi penghalang bagi saya untuk terus berkembang,” katanya.

Hafal 30 Juz Al-Qur'an, Ingin Mengabdi kepada Masyarakat

Bagi Hikma, bantuan tersebut bukan sekadar kendaraan untuk menunjang mobilitas. Motor roda tiga itu juga menjadi jalan untuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dengan lebih mandiri.

Hikma diketahui merupakan penghafal Al-Qur'an 30 juz. Ia memilih Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir untuk memperdalam ilmu agama yang kelak ingin diamalkan kepada masyarakat.

“Setelah menyelesaikan kuliah, saya ingin mengabdi untuk masyarakat dan memberikan manfaat kepada sesama. Motto hidup saya, berkasih sayang menebar manfaat,” ujarnya.

Keinginannya untuk terus belajar dan mengembangkan diri menjadi salah satu alasan pentingnya akses mobilitas bagi Hikma. Dengan kendaraan yang sesuai kebutuhannya, ia berharap dapat lebih leluasa mengikuti kegiatan akademik maupun aktivitas lainnya.

Bantuan itu terwujud berkat donasi yang dihimpun ITF dari dosen, tenaga kependidikan, sivitas akademika UIN Ar-Raniry, serta masyarakat di luar kampus.

Rektor UIN Ar-Raniry Mujiburrahman mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya kampus memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa.

“Kami ingin memastikan setiap mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan menyelesaikan pendidikannya,” kata Mujiburrahman.

Menurut Mujiburrahman, perguruan tinggi tidak cukup hanya memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenyam pendidikan. Kampus juga harus memastikan lingkungan belajar mampu mengakomodasi kebutuhan mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas.

“Ini adalah bentuk kepedulian kita bersama. Bantuan ini tidak hanya berasal dari kampus, tetapi juga dari para dosen, tenaga kependidikan, sivitas akademika, dan masyarakat yang ikut memberikan sumbangan,” ujarnya.

Ada 22 Mahasiswa Disabilitas di UIN Ar-Raniry

Dukungan terhadap mahasiswa penyandang disabilitas tidak hanya diberikan kepada Hikma. Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Ar-Raniry sekaligus Ketua ITF, Muhammad Yasir Yusuf, menyebut terdapat 22 mahasiswa penyandang disabilitas yang sedang menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Mereka mendapatkan dukungan dalam berbagai bentuk, termasuk akses beasiswa melalui ITF.

“UIN Ar-Raniry harus bisa diakses oleh semua kalangan,” kata Yasir.

Selain bantuan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, ITF juga menjalankan sejumlah program dukungan pendidikan dan sosial.

Sepanjang 2023 hingga 2025, sekitar 6.000 mahasiswa telah menerima bantuan dengan total nilai sekitar Rp 7 miliar.

Bantuan tersebut mencakup pendidikan, beasiswa tahfiz, beasiswa disabilitas, beasiswa prestasi, bantuan sosial, syiar dakwah, program pembinaan, tanggap bencana, hingga beasiswa internasional.

Bagi Hikma, dukungan kampus kini terasa nyata dalam kesehariannya. Kendaraan yang diterimanya bukan hanya memudahkan perjalanan menuju ruang kuliah, tetapi juga memberinya kesempatan untuk lebih mandiri dalam menentukan aktivitas.

Ia berharap dukungan bagi mahasiswa penyandang disabilitas terus diperluas. Menurutnya, keterbatasan fisik tidak seharusnya menjadi penghalang untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi bagi masyarakat.

“Kita bukan kekurangan, tetapi istimewa. Tidak ada manusia yang sempurna. Jadikan ketidaksempurnaan itu menjadi keunggulan diri dan buktikan bahwa kita bisa seperti mereka, bahkan mungkin lebih,” tuturnya.

Kini, Hikma memiliki kesempatan untuk menjalani aktivitas dengan lebih leluasa. Ia bisa lebih mudah menuju kampus, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan melanjutkan pendidikan demi mewujudkan cita-citanya mengabdi kepada masyarakat.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top