
Kayu manis. Foto Magnific.
Penelitian ini berfokus pada dua aspek yang berkaitan dengan kondisi tersebut, yakni peradangan dan resistensi insulin.
Riset yang dilakukan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Curcuwin itu menggunakan tikus model PCOS. Tim juga melakukan analisis komputasi untuk mempelajari kemungkinan interaksi senyawa aktif dengan protein target yang berkaitan dengan mekanisme penyakit.
PCOS merupakan gangguan yang dapat berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon, masalah ovulasi, gangguan metabolisme, hingga peradangan. Kondisi ini juga kerap berhubungan dengan resistensi insulin, yakni ketika tubuh tidak merespons insulin secara optimal sehingga pengaturan gula darah dapat terganggu.
Ketua Tim Curcuwin, Apriani Nurjanah, mengatakan penelitian tersebut dikembangkan dari kajian sebelumnya yang lebih banyak membahas kurkumin dan kayu manis secara terpisah.
“Keterbaruan penelitian kami terletak pada kombinasi kedua bahan dengan pendekatan dual target, yakni inflamasi dan resistensi insulin,” jelas Apriani, Rabu, 21 Oktober 2026.
Tim Curcuwin beranggotakan Apriani Nurjanah, Nadhifah Eka Prastuti, dan Arline Ermanissa Rezkyanti dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Ada pula Naafi’ Noor Nafiza Novikh dari Fakultas Farmasi serta Annisa Fajra Humaira dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan. Penelitian ini dibimbing Dr. drh. Vista Budiariati, M.Si.
Kurkumin merupakan senyawa aktif dalam kunyit (Curcuma longa) yang berpotensi sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Adapun kayu manis (Cinnamomum burmannii) mengandung senyawa sinamaldehida dan polifenol yang berpotensi berkaitan dengan sensitivitas insulin.
Melalui penelitian ini, tim mengkaji efek pemberian kurkumin, ekstrak kayu manis, serta kombinasi keduanya terhadap sejumlah parameter yang berhubungan dengan PCOS.
Penelitian berlangsung sekitar empat bulan di sejumlah laboratorium UGM. Tahap awal dilakukan dengan mengumpulkan dan mengidentifikasi kulit batang kayu manis untuk memastikan jenis tanaman yang digunakan.
Riset yang dilakukan Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Curcuwin itu menggunakan tikus model PCOS. Tim juga melakukan analisis komputasi untuk mempelajari kemungkinan interaksi senyawa aktif dengan protein target yang berkaitan dengan mekanisme penyakit.
PCOS merupakan gangguan yang dapat berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon, masalah ovulasi, gangguan metabolisme, hingga peradangan. Kondisi ini juga kerap berhubungan dengan resistensi insulin, yakni ketika tubuh tidak merespons insulin secara optimal sehingga pengaturan gula darah dapat terganggu.
Ketua Tim Curcuwin, Apriani Nurjanah, mengatakan penelitian tersebut dikembangkan dari kajian sebelumnya yang lebih banyak membahas kurkumin dan kayu manis secara terpisah.
“Keterbaruan penelitian kami terletak pada kombinasi kedua bahan dengan pendekatan dual target, yakni inflamasi dan resistensi insulin,” jelas Apriani, Rabu, 21 Oktober 2026.
Tim Curcuwin beranggotakan Apriani Nurjanah, Nadhifah Eka Prastuti, dan Arline Ermanissa Rezkyanti dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM. Ada pula Naafi’ Noor Nafiza Novikh dari Fakultas Farmasi serta Annisa Fajra Humaira dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan. Penelitian ini dibimbing Dr. drh. Vista Budiariati, M.Si.
Kurkumin merupakan senyawa aktif dalam kunyit (Curcuma longa) yang berpotensi sebagai antioksidan dan antiinflamasi. Adapun kayu manis (Cinnamomum burmannii) mengandung senyawa sinamaldehida dan polifenol yang berpotensi berkaitan dengan sensitivitas insulin.
Melalui penelitian ini, tim mengkaji efek pemberian kurkumin, ekstrak kayu manis, serta kombinasi keduanya terhadap sejumlah parameter yang berhubungan dengan PCOS.
Penelitian berlangsung sekitar empat bulan di sejumlah laboratorium UGM. Tahap awal dilakukan dengan mengumpulkan dan mengidentifikasi kulit batang kayu manis untuk memastikan jenis tanaman yang digunakan.
Bahan tersebut kemudian diekstraksi menggunakan metode Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE), yakni teknik yang memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk membantu mengambil senyawa dari bahan tanaman.
Anggota Tim Curcuwin dari Fakultas Farmasi UGM, Naafi’ Noor Nafiza Novikh, menjelaskan proses identifikasi dan ekstraksi dilakukan di laboratorium berbeda sesuai tahapan penelitian.
“Kayu manis telah dilakukan determinasi di Laboratorium Sistematika Tumbuhan Fakultas Biologi UGM. Selanjutnya, ekstraksi kayu manis dilakukan di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Farmasi UGM,” ungkap Naafi’.
Setelah proses ekstraksi, tim membentuk tikus model PCOS dengan pemberian letrozole selama 21 hari. Tikus kemudian dibagi menjadi lima kelompok, yakni kontrol sehat, kontrol negatif, kelompok kurkumin, kelompok ekstrak kayu manis, serta kelompok kombinasi kurkumin dan ekstrak kayu manis.
Anggota tim, Nadhifah Eka Prastuti, mengatakan pembagian kelompok dilakukan untuk membandingkan parameter berdasarkan perlakuan yang diberikan.
“Induksi letrozole dilakukan selama 21 hari untuk menghasilkan tikus model PCOS. Setelah itu, tikus diberikan perlakuan sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan,” jelas Nadhifah.
Pengamatan mencakup sejumlah aspek metabolisme, reproduksi, dan peradangan. Tim mengukur kadar glukosa darah, ekspresi insulin pada jaringan pankreas, perubahan siklus estrus atau siklus reproduksi tikus betina, serta kondisi jaringan ovarium untuk melihat perkembangan folikel.
Selain itu, tim memeriksa ekspresi Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α) pada jaringan ovarium. TNF-α merupakan salah satu penanda yang berkaitan dengan proses peradangan.
Penelitian juga dilengkapi dengan molecular docking, yaitu metode komputasi untuk memperkirakan interaksi senyawa dengan protein target. Analisis ini digunakan untuk mengeksplorasi kemungkinan keterlibatan senyawa aktif dalam jalur peradangan dan sensitivitas insulin.
Anggota tim, Arline Ermanissa Rezkyanti, menyebut pengamatan dari berbagai parameter tersebut memungkinkan tim mengkaji kombinasi kedua bahan dari beberapa aspek yang berkaitan dengan PCOS.
“Pengujian dilakukan untuk melihat parameter yang berkaitan dengan metabolisme, inflamasi, dan reproduksi pada model PCOS. Dengan pendekatan tersebut, kami dapat mengkaji potensi kombinasi kurkumin dan ekstrak kayu manis secara lebih menyeluruh,” ujarnya.
Penelitian tersebut kini telah selesai. Tim Curcuwin tengah mempersiapkan hasil riset untuk dipresentasikan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 di Universitas Diponegoro.
Tim berharap hasil penelitian ini dapat menjadi landasan bagi studi lanjutan mengenai pemanfaatan bahan alam untuk mengkaji gangguan metabolik dan reproduksi. Penelitian berikutnya diharapkan dapat mendalami dosis kombinasi, durasi pemberian, serta mekanisme kerja kedua bahan.
Riset tersebut juga berkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.
Meski demikian, penelitian ini masih berada pada tahap pengujian menggunakan model hewan. Potensi kurkumin dan ekstrak kayu manis untuk menangani PCOS pada manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Anggota Tim Curcuwin dari Fakultas Farmasi UGM, Naafi’ Noor Nafiza Novikh, menjelaskan proses identifikasi dan ekstraksi dilakukan di laboratorium berbeda sesuai tahapan penelitian.
“Kayu manis telah dilakukan determinasi di Laboratorium Sistematika Tumbuhan Fakultas Biologi UGM. Selanjutnya, ekstraksi kayu manis dilakukan di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Farmasi UGM,” ungkap Naafi’.
Setelah proses ekstraksi, tim membentuk tikus model PCOS dengan pemberian letrozole selama 21 hari. Tikus kemudian dibagi menjadi lima kelompok, yakni kontrol sehat, kontrol negatif, kelompok kurkumin, kelompok ekstrak kayu manis, serta kelompok kombinasi kurkumin dan ekstrak kayu manis.
Anggota tim, Nadhifah Eka Prastuti, mengatakan pembagian kelompok dilakukan untuk membandingkan parameter berdasarkan perlakuan yang diberikan.
“Induksi letrozole dilakukan selama 21 hari untuk menghasilkan tikus model PCOS. Setelah itu, tikus diberikan perlakuan sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan,” jelas Nadhifah.
Pengamatan mencakup sejumlah aspek metabolisme, reproduksi, dan peradangan. Tim mengukur kadar glukosa darah, ekspresi insulin pada jaringan pankreas, perubahan siklus estrus atau siklus reproduksi tikus betina, serta kondisi jaringan ovarium untuk melihat perkembangan folikel.
Selain itu, tim memeriksa ekspresi Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α) pada jaringan ovarium. TNF-α merupakan salah satu penanda yang berkaitan dengan proses peradangan.
Penelitian juga dilengkapi dengan molecular docking, yaitu metode komputasi untuk memperkirakan interaksi senyawa dengan protein target. Analisis ini digunakan untuk mengeksplorasi kemungkinan keterlibatan senyawa aktif dalam jalur peradangan dan sensitivitas insulin.
Anggota tim, Arline Ermanissa Rezkyanti, menyebut pengamatan dari berbagai parameter tersebut memungkinkan tim mengkaji kombinasi kedua bahan dari beberapa aspek yang berkaitan dengan PCOS.
“Pengujian dilakukan untuk melihat parameter yang berkaitan dengan metabolisme, inflamasi, dan reproduksi pada model PCOS. Dengan pendekatan tersebut, kami dapat mengkaji potensi kombinasi kurkumin dan ekstrak kayu manis secara lebih menyeluruh,” ujarnya.
Penelitian tersebut kini telah selesai. Tim Curcuwin tengah mempersiapkan hasil riset untuk dipresentasikan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 di Universitas Diponegoro.
Tim berharap hasil penelitian ini dapat menjadi landasan bagi studi lanjutan mengenai pemanfaatan bahan alam untuk mengkaji gangguan metabolik dan reproduksi. Penelitian berikutnya diharapkan dapat mendalami dosis kombinasi, durasi pemberian, serta mekanisme kerja kedua bahan.
Riset tersebut juga berkaitan dengan sejumlah tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 15 tentang Ekosistem Daratan.
Meski demikian, penelitian ini masih berada pada tahap pengujian menggunakan model hewan. Potensi kurkumin dan ekstrak kayu manis untuk menangani PCOS pada manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.