Santri dan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Muhibbin Ilung, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, mengikuti upacara pengibaran bendera Merah Putih sebagai bagian dari pendidikan kebangsaan di lingkungan pesantren. Foto ist.
Oleh: M. Ridhani, mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon penerima Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) Kemenag-LPDP/ alumnus (angkatan ke-14, 2021) sekaligus pengabdi di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin Ilung, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
EDUKASIA.ID - Apa gunanya belajar agama bertahun-tahun jika ilmunya berhenti pada diri sendiri? Pertanyaan itu terus saya bawa sejak menimba ilmu di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin Ilung, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Hari Santri yang baru kita peringati pada 22 Oktober mengingatkan saya pada pertanyaan itu. Tanggal tersebut merujuk pada Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari tahun 1945, seruan para ulama untuk membela kemerdekaan. Lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, negara mengakui bahwa santri punya tempat dalam perjalanan bangsa ini. Pengakuan itu menuntut kita bertanya: apa yang bisa santri lanjutkan hari ini, ketika tantangannya bukan lagi penjajah bersenjata?
Menurut saya, jawabannya dimulai dari hal yang dekat: cara kita mengajar, menjalankan amanah, dan bermedia. Di sanalah Pancasila menjadi nyata, bukan sebagai hafalan upacara, melainkan sebagai pedoman bertindak sehari-hari.
Lima sila di ruang-ruang kecil
Di pondok, saya mengajar dan dipercaya sebagai Ketua Media Muhibbin. Saya juga terlibat mengajar Al-Qur’an dalam Pesantren Ramadan yang diselenggarakan Remaja Masjid Nurul Yaqin, Desa Hamparaya, Kabupaten Balangan. Kegiatan seperti ini tampak sederhana, tetapi di dalamnya ada pelajaran bernegara yang tidak tertulis di buku.
Semua bermula dari keyakinan bahwa beragama harus berbuah tanggung jawab moral, itulah sila pertama yang hidup dalam laku. Mengajar menuntut kesabaran dan penghormatan terhadap orang yang sedang belajar, itulah kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan tumbuh ketika orang dari berbagai latar belajar dan bekerja untuk satu tujuan, tanpa perlu pidato tentang persatuan. Mengelola kegiatan bersama menuntut musyawarah dan pembagian tanggung jawab. Mengerjakan sesuatu yang manfaatnya dirasakan orang lain, bukan hanya diri sendiri, adalah bentuk kecil keadilan sosial.
Ilustrasi: lima sila dalam kegiatan sehari-hari di pesantren.
Dari mengajar, saya belajar bahwa menyampaikan ilmu bukan sekadar menjelaskan materi, tetapi juga berusaha memahami orang yang menerimanya. Dari Media Muhibbin, saya belajar bahwa pengabdian kepada pesantren tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Ia juga hadir lewat upaya menjaga kegiatan pondok tetap hidup dan memperkenalkan pesantren kepada masyarakat melalui media. Dua pengalaman itu meyakinkan saya bahwa tanggung jawab, kepedulian, dan gotong royong dapat dimulai dari lingkungan pesantren, lalu dibawa ke tengah masyarakat.
Santri dan layar ponsel
Kini ruang pengabdian santri tidak lagi hanya kelas dan mimbar. Informasi menyebar dalam hitungan detik, dan tidak semuanya benar. Potongan ceramah tanpa konteks atau kabar yang tak jelas sumbernya mudah memicu prasangka dan merusak hubungan antarwarga. Di negara yang majemuk, hal ini bukan perkara kecil, sebab persatuan bisa retak oleh satu unggahan yang dibagikan tanpa berpikir.
Pengalaman mengelola media membuat saya melihat bahwa menyampaikan informasi adalah tanggung jawab, bukan sekadar soal kecepatan. Karena itu prinsip tabayyun, yaitu memeriksa kabar sebelum menyebarkannya, terasa sangat relevan. Santri bisa berperan dengan membagikan pengetahuan yang sumbernya jelas, menyampaikan perbedaan dengan santun, dan tidak ikut menyebarkan yang belum terverifikasi.
Bukankah ini juga cara menjaga persatuan Indonesia? Persatuan tidak hanya dirawat lewat upacara. Ia dijaga lewat kata, tulisan, dan sikap kita di ruang digital.
Identitas bukan jaminan
Meski begitu, menyandang sebutan santri tidak otomatis membuat seseorang bijak atau toleran. Pesantren di Indonesia beragam, dan nilai yang baik hanya bermakna jika terus diuji lewat kesediaan menerima kritik dan memperbaiki diri. Menjaga tradisi keilmuan pesantren tetap penting, tetapi cara menyampaikannya perlu dievaluasi agar dekat dengan persoalan generasi muda, misalnya dengan membahas kasus nyata sehari-hari dan mengaitkannya dengan ilmu agama. Tujuannya bukan mengganti tradisi, melainkan membuatnya mampu menjawab zaman.
Belajar sambil mengabdi
Kini saya melanjutkan studi Pendidikan Agama Islam di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon sambil tetap mengabdi di pondok. Saya memandangnya bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah agar ilmu ini memberi manfaat bagi generasi muda dan lingkungan pesantren. Saya sendiri masih belajar, dan justru itu yang ingin saya jalani dengan sungguh-sungguh.
Sebentar lagi kita memperingati Hari Pahlawan. Sejumlah ulasan sejarah mengaitkan semangat Resolusi Jihad dengan peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Pelajarannya sama: kemerdekaan dibela oleh mereka yang menyatukan keyakinan dengan kepedulian pada bangsa.
Maka, apakah ilmu dari pesantren berhenti di dalam pondok? Tidak boleh. Ia melangkah keluar ketika santri menjadikan nilai Pancasila sebagai pedoman bertindak: beragama dengan tanggung jawab, memanusiakan sesama, menjaga persatuan, menghargai musyawarah, dan berupaya bermanfaat bagi masyarakat. Pancasila tidak cukup dihafal. Ia perlu dihidupkan, dari ruang belajar, dari media yang kita pakai, dan dari setiap pengabdian kecil untuk sesama.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.