Belajar di Tenda hingga Sistem Shift, Ini Skema Pembelajaran di Daerah Bencana

Arifah
0
Layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana. Foto Kemendikdasmen

Jakarta. EDUKASIA.ID - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana tetap berjalan.

Lewat Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), pemerintah menegaskan bahwa keselamatan, kondisi psikologis, dan keberlanjutan belajar murid menjadi prioritas utama. Penyesuaian pembelajaran dilakukan sesuai tingkat kerusakan sekolah dan situasi masing-masing daerah.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menuturkan bahwa pemerintah daerah diberi keleluasaan penuh menentukan pola belajar yang paling memungkinkan.

“Kondisi sekolah di setiap daerah terdampak tidak sama. Karena itu, pembelajaran kami serahkan pada kebijakan Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota. Yang terpenting adalah hak belajar murid tetap terpenuhi dan keselamatan mereka terjamin,” ujarnya di Jakarta, 10 Desember 2025.

Di sejumlah daerah, berbagai pola sudah dipraktikkan. Mulai dari sistem bergilir pagi-siang, pembelajaran daring, meminjam atau menggabungkan sekolah lain, hingga kelas darurat di tenda. Mekanisme tes semester juga tak dipatok kaku.

“Pemerintah daerah dan satuan pendidikan juga diberikan kebebasan memilih moda pembelajaran dan bentuk asesmen yang paling memungkinkan, baik dengan tetap melaksanakan tes seperti biasa, menggantinya dengan penilaian harian tanpa tes semester, maupun menggunakan aktivitas bakti sosial sebagai dasar penilaian,” ucap Menteri Mu'ti.

Kepala BSKAP, Toni Toharudin, menjelaskan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana telah disiapkan melalui kerangka kebijakan berjenjang. Pada periode tanggap darurat hingga tiga bulan pertama, fokus diarahkan pada kurikulum esensial, bahan belajar darurat, pembelajaran adaptif di ruang terbatas, dukungan psikososial, dan asesmen sederhana.

“Pada tiga bulan pertama, fokus diarahkan pada penyederhanaan kurikulum menjadi kompetensi minimum esensial, ketersediaan bahan belajar darurat, pembelajaran adaptif di ruang terbatas, dukungan psikososial, serta asesmen sederhana yang menekankan keamanan dan keterlibatan murid,” tutur Toni.

Memasuki rentang tiga hingga dua belas bulan, strategi bergeser ke pemulihan kemampuan dasar murid melalui kurikulum adaptif berbasis krisis, program remedial intensif, pembelajaran fleksibel, dan asesmen transisi.

“Setelah itu, pada periode tiga hingga dua belas bulan, kebijakan diarahkan pada pemulihan kemampuan dasar murid melalui kurikulum adaptif berbasis krisis, program remedial intensif, pembelajaran fleksibel, serta asesmen transisi berbasis portofolio dan perkembangan sosial-emosional,” sambungnya.

Untuk jangka satu sampai tiga tahun, pemerintah menargetkan penguatan kualitas pembelajaran secara menyeluruh, termasuk integrasi pendidikan kebencanaan secara permanen dan monitoring jangka panjang.

“Dalam rentang satu hingga tiga tahun, fokus kebijakan bergeser pada penguatan kembali kualitas pembelajaran, integrasi permanen pendidikan kebencanaan, penguatan pembelajaran inklusif, serta monitoring dan evaluasi jangka panjang terhadap literasi, numerasi, kehadiran, dan kesejahteraan psikososial murid”, tambahnya.

Di sisi lain, BSKAP melalui Pusat Kurikulum dan Pembelajaran juga telah menyiapkan panduan implementasi pendidikan kebencanaan. Panduan tersebut menjadi acuan sekolah dalam kesiapsiagaan pra-bencana, saat kejadian, hingga pascabencana.

“Panduan implementasi pendidikan kebencanaan ini juga dilengkapi dengan peta kompetensi terkait kebencanaan untuk peserta didik sesuai jenjangnya. Kompetensi tersebut dapat diintegrasikan ke mata pelajaran yang relevan,” kata Toni.

Ia menegaskan bahwa seluruh tahapan pemulihan pendidikan berjalan paralel dengan rekonstruksi fasilitas oleh pemerintah daerah dan kementerian terkait.

“Kami sudah memiliki peta jalan kebijakan pascabencana. Ini memastikan bahwa pemulihan pendidikan berlangsung berkelanjutan, tidak hanya jangka pendek tetapi juga memperkuat ketahanan sekolah di masa depan,” tutupnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top