Perpustakaan Kemenag, di Jakarta. Foto Kemenag.
Jakarta. EDUKASIA.ID – Menjelang Ramadan, kebutuhan masyarakat terhadap referensi keagamaan ikut meningkat. Mulai dari bahan ceramah, kajian akademik, hingga bacaan ringan untuk menemani waktu menunggu berbuka, semuanya mulai banyak dicari.
Salah satu rujukan yang bisa dimanfaatkan adalah Perpustakaan Kementerian Agama. Berada di lingkungan Kementerian Agama, perpustakaan ini berkembang bukan hanya sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi juga ruang literasi yang tenang dan produktif.
Perpustakaan tersebut berlokasi di kawasan pusat ibu kota, tepatnya di Jalan MH Thamrin, lantai 2 Kantor Kementerian Agama, Jakarta. Lokasinya yang strategis membuatnya mudah diakses oleh pegawai maupun masyarakat umum.
“Perpustakaan Kemenag kami arahkan sebagai pusat rujukan dan ruang belajar yang kondusif,” ujar Hariyah, Koordinator Perpustakaan Kemenag, di Jakarta, Minggu, 15 Februari 2026.
Menurut Hariyah, momen Ramadan justru membuat perpustakaan semakin relevan sebagai tempat singgah yang produktif dan hening.
"Perpustakaan Kemenag juga menyediakan ruang baca yang nyaman, dan lokasinya strategis karena ada di pusat kota," tutur Hariyah.
Selama bulan Ramadan, layanan perpustakaan dibuka dari Senin hingga Kamis, pukul 08.00–15.00 WIB. Jam operasional ini disesuaikan agar pengunjung tetap bisa memanfaatkan fasilitas literasi di tengah aktivitas ibadah puasa.
Dari sisi koleksi, pengunjung dapat mengakses beragam literatur, mulai dari keagamaan, kebijakan publik, pendidikan keagamaan, hingga kajian sosial-keagamaan, baik dalam bentuk cetak maupun digital.
Selain layanan fisik, Kemenag juga memperkuat layanan digital. Salah satunya adalah penelusuran referensi digital, yaitu bantuan pencarian informasi sesuai kebutuhan pemustaka yang bisa diakses tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Tak hanya soal buku, perpustakaan ini juga mendorong kegiatan literasi yang lebih interaktif. Diskusi, bedah buku, hingga kegiatan literasi tematik rutin digelar sebagai bagian dari penguatan literasi keagamaan dan moderasi beragama.
Fasilitas lain yang tersedia adalah teater mini yang dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas literasi, seperti nonton bareng dan diskusi film. Termasuk pemutaran film pendek bertema penguatan literasi dan moderasi beragama.
“Literasi itu tidak selalu harus lewat teks. Kadang lewat film, lalu dibicarakan bersama. Itu juga cara belajar yang efektif,” kata Hariyah.
Bagi masyarakat yang ingin mengisi Ramadan dengan aktivitas yang lebih bermakna, Perpustakaan Kemenag hadir sebagai ruang tenang untuk membaca, berdiskusi, dan memperkaya pemahaman keagamaan.
Selama bulan Ramadan, layanan perpustakaan dibuka dari Senin hingga Kamis, pukul 08.00–15.00 WIB. Jam operasional ini disesuaikan agar pengunjung tetap bisa memanfaatkan fasilitas literasi di tengah aktivitas ibadah puasa.
Dari sisi koleksi, pengunjung dapat mengakses beragam literatur, mulai dari keagamaan, kebijakan publik, pendidikan keagamaan, hingga kajian sosial-keagamaan, baik dalam bentuk cetak maupun digital.
Selain layanan fisik, Kemenag juga memperkuat layanan digital. Salah satunya adalah penelusuran referensi digital, yaitu bantuan pencarian informasi sesuai kebutuhan pemustaka yang bisa diakses tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Tak hanya soal buku, perpustakaan ini juga mendorong kegiatan literasi yang lebih interaktif. Diskusi, bedah buku, hingga kegiatan literasi tematik rutin digelar sebagai bagian dari penguatan literasi keagamaan dan moderasi beragama.
Fasilitas lain yang tersedia adalah teater mini yang dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas literasi, seperti nonton bareng dan diskusi film. Termasuk pemutaran film pendek bertema penguatan literasi dan moderasi beragama.
“Literasi itu tidak selalu harus lewat teks. Kadang lewat film, lalu dibicarakan bersama. Itu juga cara belajar yang efektif,” kata Hariyah.
Bagi masyarakat yang ingin mengisi Ramadan dengan aktivitas yang lebih bermakna, Perpustakaan Kemenag hadir sebagai ruang tenang untuk membaca, berdiskusi, dan memperkaya pemahaman keagamaan.



.png)


Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.