Almaghfurlah KH Hammam Munaji, pengasuh PP Attanwir Talun, Sumberrejo, Bojonegoro, yang mendidik santri melalui akhlak dan keteladanan. Foto ist.
EDUKASIA.ID – Di tengah perubahan dunia pendidikan yang semakin cepat, keteladanan guru tetap menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter murid. Sosok itulah yang hingga kini masih dikenang para alumni Pondok Pesantren Attanwir Talun, Sumberrejo, Bojonegoro terhadap almaghfurlah KH Hammam Munaji.
Meski telah wafat hampir 30 tahun silam, nasihat, sikap hidup, hingga cara beliau mendidik masih membekas kuat dalam ingatan para santrinya.
Salah satu kesaksian itu dituturkan Habib Baihaqi, alumni Attanwir yang pernah belajar langsung kepada KH Hammam Munaji saat duduk di Madrasah Aliyah.
Dalam ingatannya, KH Hammam Munaji merupakan sosok kiai yang tenang, sederhana, namun sangat berwibawa. Wajahnya selalu tampak teduh dengan senyum yang menenangkan.
“Penampilan beliau selalu kalem, tenang dan berwibawa. Selalu ada pancaran senyum yang teduh di wajahnya,” kenang Habib Baihaqi.
Menurutnya, almarhum tidak pernah berbicara berlebihan. Kalimat yang keluar dari lisannya selalu seperlunya, tetapi penuh makna dan pelajaran hidup.
Saat mengajar, intonasi suaranya datar dan lembut. Tidak pernah terdengar membentak ataupun marah kepada siswa. Namun justru dari ketenangan itulah para santri merasa segan dan hormat.
“Beliau tidak banyak bicara, tapi kalimat yang keluar dari lisannya hanya yang penting-penting saja,” tulisnya.
Habib Baihaqi mulai belajar kepada KH Hammam Munaji saat kelas V Madrasah Aliyah melalui pelajaran Balaghah menggunakan kitab Al-Balaghah al-Wadhihah. Sedangkan ketika kelas VI, ia belajar Tafsir Jalalain langsung dari pengasuh Attanwir tersebut.
Bagi para santri, KH Hammam Munaji bukan sekadar pengajar ilmu agama. Ia dikenal sebagai murabbi, pendidik yang menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Kesederhanaan beliau bahkan terlihat dalam hal-hal kecil. Saat mengajar, KH Hammam Munaji kerap mengenakan pakaian polos sederhana yang sudah lama dipakai. Salah satu bajunya bahkan terdapat bekas jahitan robek di bagian lengan.
“Untuk membeli baju baru pasti mudah, tapi beliau orang yang sederhana. Pakaian secukupnya saja, yang penting masih layak,” kenang Habib Baihaqi.
Kehidupan sederhana itu juga tampak dari kebiasaan sehari-hari. Jika menerima makanan ringan yang dibungkus plastik, beliau tidak membukanya dengan cara disobek agar cepat selesai. Sebaliknya, beliau membuka tali plastik perlahan dan rapi dengan penuh kesabaran.
Bagi Habib Baihaqi, kebiasaan kecil itu menjadi pelajaran tentang kesabaran dan ketenangan dalam bersikap.
Selain dikenal sederhana, KH Hammam Munaji juga sangat menghormati ilmu. Saat membawa buku, beliau menaruhnya dengan penuh hormat di depan dada. Jika menemukan serpihan kertas bertuliskan Arab, maka akan dipungut dan disimpan dengan baik.
Tulisan tangan Arab beliau juga dikenal sangat rapi dan indah, terutama dalam khat naskhi dan riq’ah. Bahkan, soal-soal ujian berbahasa Arab di Attanwir pada masa itu ditulis langsung oleh beliau secara manual sebelum dicetak menggunakan teknik sederhana.
Di mata santri, KH Hammam Munaji juga merupakan pendidik yang disiplin. Siswa yang terlambat masuk kelas tidak akan langsung diperbolehkan duduk sebelum ditanya alasan keterlambatannya.
Habib Baihaqi mengaku pernah merasakan langsung ketegasan tersebut saat terlambat mengikuti pelajaran Tafsir Jalalain.
Kala itu ia datang terlambat karena kendaraan umum yang ditumpanginya penuh sesak. Namun alasan itu tetap tidak membuatnya terbebas dari hukuman berdiri di depan kelas.
“Kan berangkatnya bisa lebih pagi, biar tidak terlambat?” demikian nasihat KH Hammam Munaji yang masih diingatnya hingga kini.
Meski tegas, hukuman itu tidak pernah terasa sebagai kemarahan. Justru para siswa belajar tentang arti tanggung jawab dan konsekuensi dari setiap tindakan.
“Inilah bedanya ta’lim dengan tarbiyah. Mengajar berbeda dengan mendidik,” tulis Habib Baihaqi.
Selain disiplin, KH Hammam Munaji juga dikenal sangat memuliakan tamu. Saat Lebaran, kursi terbaik di rumahnya selalu disediakan untuk tamu, sedangkan beliau memilih duduk di kursi kayu sederhana yang diletakkan berhadapan dengan para tamu agar lebih mudah menyapa semuanya.
Menurut Habib Baihaqi, banyak nasihat almarhum yang hingga kini masih terus terngiang di telinga para santri. Salah satunya tentang pentingnya akhlak dan kebermanfaatan ilmu bagi masyarakat.
“Hiasilah dirimu dengan akhlak yang luhur. Ilmu tinggi tanpa didasari akhlak yang luhur hanya akan membawa kerusakan yang besar,” demikian salah satu pesan KH Hammam Munaji kepada para muridnya.
Beliau juga berpesan agar para santri hidup dengan memberi manfaat bagi sesama, apa pun profesi yang dijalani kelak.
KH Hammam Munaji wafat pada Ahad Wage, 23 Juni 1996 atau bertepatan dengan 8 Shafar 1417 Hijriah pukul 19.00 WIB.
Beliau wafat hanya lima hari setelah melepas kelulusan santri kelas akhir Madrasah Aliyah Attanwir dalam haflah akhirussanah tahun 1996.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.