Infografis multitasking. Foto AIO Privat.
Sayangnya, banyak pelajar yang terbiasa belajar sambil membuka media sosial, membalas chat, atau melakukan aktivitas lain secara bersamaan karena dianggap lebih efisien.
Padahal, kebiasaan tersebut justru dapat mengurangi efektivitas belajar. Ketika perhatian terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya, otak membutuhkan waktu untuk kembali fokus. Akibatnya, materi menjadi lebih sulit dipahami dan proses belajar terasa lebih melelahkan.
Dikutip dari AIO Privat, multitasking saat belajar sebaiknya dihindari karena dapat menurunkan kualitas belajar dan hasil yang diperoleh. Berikut lima alasan mengapa pelajar sebaiknya fokus pada satu aktivitas belajar dalam satu waktu.
1. Mengurangi kualitas fokus dan meningkatkan beban kognitif
Saat belajar sambil membuka ponsel, mendengarkan musik berlirik, atau berpindah antar tab yang tidak relevan, perhatian menjadi terpecah. Otak melakukan task switching, yaitu berpindah cepat antar tugas. Proses ini bukanlah multitasking sejati, melainkan pergantian fokus yang terus-menerus, yang terbukti meningkatkan beban kognitif dan menguras energi mental (Mayer & Moreno, 2003).
Setiap perpindahan fokus membutuhkan waktu untuk kembali ke konteks awal. Akibatnya, pemahaman menjadi dangkal dan proses belajar kehilangan kedalaman. Inilah mengapa multitasking sering dianggap sebagai prokrastinasi terselubung.
2. Menurunkan daya ingat jangka panjang
Proses pembentukan memori jangka panjang sangat bergantung pada perhatian penuh saat belajar. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan perhatian menghambat proses encoding, yaitu tahap penting dalam menyimpan informasi ke memori jangka panjang (Craik & Lockhart, 1972).
Ketika belajar dilakukan sambil terdistraksi, informasi hanya bertahan di memori jangka pendek dan lebih cepat terlupakan. Hal ini menjelaskan mengapa seseorang bisa membaca materi berulang kali, tetapi tetap sulit mengingatnya saat dibutuhkan.
3. Memperlambat proses belajar secara keseluruhan
Multitasking sering dianggap sebagai cara untuk menghemat waktu. Namun, studi menunjukkan bahwa task switching justru meningkatkan waktu penyelesaian tugas secara signifikan (Rogers & Monsell, 1995). Setiap gangguan kecil menambah waktu untuk kembali fokus (refocusing time), yang jika diakumulasi dapat memperpanjang durasi belajar.
Selain itu, kondisi ini juga meningkatkan kelelahan mental. Akibatnya, pelajar lebih cepat merasa lelah sebelum materi benar-benar dipahami, sehingga memicu kebiasaan menunda belajar.
4. Meningkatkan risiko kesalahan dan miskonsepsi
Perhatian yang terbagi membuat detail penting lebih mudah terlewat. Dalam konteks belajar, hal ini dapat menyebabkan kesalahan memahami konsep, penggunaan rumus yang keliru, atau interpretasi teks yang tidak tepat.
Penelitian oleh Ophir, Nass, dan Wagner (2009) menunjukkan bahwa individu yang terbiasa multitasking cenderung memiliki kontrol perhatian yang lebih rendah dan lebih mudah terdistraksi. Hal ini berdampak langsung pada akurasi dan kualitas hasil belajar.
5. Menyamarkan prokrastinasi dalam bentuk kesibukan
Multitasking sering kali menjadi "topeng produktivitas". Seseorang mungkin merasa sedang belajar karena membuka buku sambil sesekali membaca materi, tetapi di saat yang sama juga aktif di media sosial atau menonton video.
Kondisi ini menciptakan ilusi kemajuan. Padahal, yang terjadi hanyalah penghindaran terhadap deep work atau proses belajar mendalam yang dibutuhkan untuk memahami materi secara utuh (Newport, 2016). Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan analitis.
Multitasking saat belajar bukanlah strategi yang efektif, melainkan bentuk penundaan yang tersamar. Dampaknya mencakup menurunnya fokus, lemahnya daya ingat, meningkatnya durasi belajar, tingginya risiko kesalahan, serta munculnya ilusi produktivitas.
Solusi yang lebih efektif adalah menerapkan single-tasking, yaitu belajar dengan satu fokus penuh dalam satu waktu. Mengurangi distraksi, menetapkan tujuan belajar yang jelas, serta membiasakan sesi belajar yang terstruktur akan membantu meningkatkan kualitas pemahaman secara signifikan.
Itulah lima alasan mengapa multitasking saat belajar sebaiknya dihindari.
Jika anda ingin belajar dengan lebih fokus, terarah, dan didampingi tutor yang berpengalaman, AIO Privat Semarang siap membantu melalui program les privat yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi 0816853042.



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.