Walmer, Anak Penjual Gas yang Lolos Teknik Nuklir UGM dengan Biaya Rp 0

Arifah
0

Walmer Zebaoth Siburian. Foto UGM.

EDUKASIA.ID - Walmer Zebaoth Siburian (18) berhasil mewujudkan mimpinya kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lulusan SMAN 1 Cileungsi itu diterima di Program Studi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik UGM, sekaligus memperoleh pembebasan biaya kuliah.

Di balik keberhasilannya, ada perjuangan sang ibu, Charoline Sihole (52), yang selama enam tahun terakhir membesarkan Walmer seorang diri. Sejak suaminya, Wilmar Siburian, meninggal dunia, Charoline mengandalkan usaha kecil menjual tabung gas dan galon air dari rumah kontrakan sederhana di Cileungsi, Bogor.

Penghasilannya pun tak menentu. Bahkan, menurutnya, hasil berjualan sering kali hanya cukup untuk membayar biaya kontrakan.

“Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso, Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa 21 Juli 2026.

Charoline bercerita, ia dan suaminya sudah merantau ke Cileungsi selama 23 tahun. Keduanya dulu sama-sama berjualan koran, majalah, dan novel sebelum akhirnya beralih menjual gas dan air minum.

“Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya.

Di tengah keterbatasan, Charoline mengaku banyak mendapat bantuan dari sesama jemaat gereja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Saya dapat bantuan dari gereja, dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya.

Walmer memahami kondisi ekonomi keluarganya. Selama sekolah, ia tidak pernah banyak menuntut kepada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia terbiasa membawa bekal dari rumah. Sepulang sekolah pun ia membantu mengantar tabung gas dan galon air kepada pelanggan.

Usahanya di sekolah juga membuahkan hasil. Setelah sempat kesulitan di kelas 10, prestasinya terus meningkat hingga konsisten masuk lima besar di kelas.

“Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada lima besar hingga lulus,” ujarnya.

Saat mendaftar ke UGM melalui jalur SNBP, Walmer memilih tidak memberi tahu ibunya. Ia mengaku berat meninggalkan sosok yang selama ini berjuang seorang diri membesarkannya.

“Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer.

Hari pengumuman kelulusan pun tiba. Saat itu Charoline sedang melayat ke rumah duka anggota jemaat gereja di Gunungputri. Walmer yang dinyatakan lolos langsung mengirim pesan kepada ibunya.

“Ma, aku diterima di UGM,”

Pesan itu berlanjut,

“Ikut turut berduka cita ya, Ma,”

Charoline yang sedang berada di rumah duka sempat kebingungan membaca pesan tersebut.

“Kamu kenapa?,” kata seorang sahabatnya.

“Nggak tahu, baca ini,”

“Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya.

“Apa itu UGM?”

“Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,”

“Selamat ya,”

Sahabat-sahabatnya kemudian memeluk Charoline yang tak kuasa menahan haru setelah mengetahui putranya diterima di UGM.

Sesampainya di rumah sekitar pukul 17.00 WIB, Walmer sudah menunggu di depan pintu. Keduanya langsung berpelukan sambil menangis.

“Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu.

Kebahagiaan keluarga kecil itu kembali bertambah saat Walmer mendapat kabar bahwa biaya kuliahnya ditanggung penuh.

“Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah,”

“Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, ‘Ini memang enggak bisa… enggak bisa berkurang, Bang?’ Uang kuliahnya mahal banget,”

“Mama bisa aku telepon?” kata Walmer.

“Mama, saya dapat gratis di UGM,”

Mendengar kabar tersebut, Charoline kembali menangis haru.

“Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. ‘Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya.

Charoline bersyukur perjuangannya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Ia berharap putranya dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik meski harus tinggal di Yogyakarta.

“Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,” ungkapnya haru.

“Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top