KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan. Foto Muhammadiyah.
EDUKASIA.ID - Bulan Agustus identik dengan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Momen ini menjadi waktu untuk kembali mengenang jasa para tokoh yang telah berjuang untuk bangsa.
Perjuangan menuju dan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan melalui medan perang. Sejumlah ulama turut mengambil peran, baik melalui pendidikan, organisasi, politik, maupun perlawanan langsung terhadap penjajah.
Dari sekian banyak tokoh yang berjasa, beberapa ulama kemudian ditetapkan pemerintah sebagai Pahlawan Nasional. Berikut tujuh ulama yang dikenal memiliki kontribusi besar dalam sejarah perjuangan Indonesia:
1. KH Hasyim Asy'ari
KH Hasyim Asy'ari lahir di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur, pada 10 April 1875. Ia dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia.Selain mendirikan NU, KH Hasyim Asy'ari memiliki peran besar dalam dunia pendidikan Islam. Pondok Pesantren Tebuireng yang dipimpinnya menjadi salah satu pesantren penting di Jawa pada abad ke-20.
Pesantren tersebut menjadi tempat para santri menimba ilmu agama sekaligus pengetahuan.
KH Hasyim Asy'ari juga terlibat dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia menggagas pendirian Tentara Sukarela Muslimin di Jawa yang dikenal sebagai Hizbullah.
Hizbullah kemudian menjadi salah satu kekuatan rakyat yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan.
KH Hasyim Asy'ari wafat pada 7 September 1947. Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 17 November 1964.
2. KH Ahmad Dahlan
KH Ahmad Dahlan merupakan ulama asal Yogyakarta yang lahir pada 1 Agustus 1868. Ia dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah.Sebelum mendirikan Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan aktif dalam sejumlah organisasi, termasuk Budi Utomo dan Sarekat Islam.
Perhatiannya terhadap pendidikan dan persoalan sosial mendorongnya mendirikan Muhammadiyah sebagai wadah untuk menjalankan gerakan tersebut.
Dari Muhammadiyah kemudian berkembang sejumlah organisasi, di antaranya Aisyiyah yang bergerak di bidang perempuan dan Hizbul Wathan.
KH Ahmad Dahlan meninggal dunia di Yogyakarta pada 23 Februari 1923 dan dimakamkan di Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta.
Atas jasanya dalam bidang pendidikan dan sosial, KH Ahmad Dahlan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961.
3. KH Zainal Mustofa
KH Zainal Mustofa merupakan ulama yang dikenal tidak hanya berjuang melalui pendidikan dan pemikiran, tetapi juga turun langsung melawan penjajah.Ia lahir di Singaparna, Tasikmalaya, pada 1899. Pada 1927, KH Zainal Mustofa mendirikan Pondok Pesantren Sukamanah.
Pada 1940-1941, ia semakin aktif melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Perjuangannya terhenti setelah ditangkap tentara Belanda pada 17 November 1941 dan dipenjara di Sukamiskin.
Ketika Jepang menduduki Indonesia, sikap KH Zainal Mustofa terhadap penjajahan tidak berubah. Ia tetap menentang keras kebijakan Jepang.
Pada 25 Februari 1944, terjadi bentrokan setelah utusan tentara Jepang datang ke Pesantren Sukamanah. Peristiwa tersebut kemudian berujung pada serangan tentara Jepang ke pesantren.
KH Zainal Mustofa ditangkap dan dipenjara di Cipinang, Jakarta. Ia kemudian meninggal dunia di Ancol, Jakarta, pada 25 Oktober 1944.
Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1972.
4. KH Agus Salim
KH Agus Salim lahir di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, pada 8 Oktober 1884. Ia dikenal sebagai pejuang, politisi, jurnalis, sekaligus diplomat.Agus Salim mengawali kiprahnya dalam pergerakan melalui Sarekat Islam (SI), salah satu organisasi besar pada masa itu.
Pada 1919, ia turut mendirikan Persatuan Pergerakan Kaum Buruh yang memperjuangkan hak-hak buruh di Indonesia.
Menjelang kemerdekaan, Agus Salim menjadi anggota BPUPKI. Ia juga masuk dalam Panitia Sembilan yang berperan dalam perumusan dasar negara.
Agus Salim meninggal dunia di Jakarta pada 4 November 1954. Pemerintah kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961.
5. KH Mas Mansyur
KH Mas Mansyur lahir di Surabaya pada 25 Juni 1896. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh pembaharu Islam di Indonesia.Mas Mansyur juga dikenal sebagai salah satu anggota Empat Serangkai bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ki Hadjar Dewantara.
Ia merupakan putra Kiai Mas Ahmad dari lingkungan pesantren Sidoresno, Surabaya. Sejak muda, Mas Mansyur menimba ilmu hingga ke Al-Azhar, Mesir, kemudian melanjutkan perjalanan ke Mekkah sebelum kembali ke Indonesia pada 1915.
Setelah kembali ke Tanah Air, ia aktif dalam berbagai organisasi pergerakan. Salah satu posisi penting yang pernah diembannya adalah memimpin Muhammadiyah pada 1937-1943.
Mas Mansyur meninggal dunia di Surabaya pada 25 April 1946. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 26 Juni 1964.
6. KH Wahid Hasyim
KH Wahid Hasyim lahir di Tebuireng, Jombang, pada 1 Juni 1914. Ia merupakan putra KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU.KH Wahid Hasyim juga merupakan ayah dari Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Dalam sejarah kemerdekaan, KH Wahid Hasyim turut memainkan peran penting. Ia menjadi salah satu tokoh yang menandatangani Piagam Jakarta pada 22 Juni 1945.
Setelah Indonesia merdeka, KH Wahid Hasyim dipercaya menjadi Menteri Agama pertama. Ia menjabat dalam sejumlah kabinet pada periode 1946 hingga 1952.
KH Wahid Hasyim meninggal dunia di Cimahi, Jawa Barat, pada 19 April 1953.
Pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 24 Agustus 1964.
7. KH Zainul Arifin
KH Zainul Arifin merupakan ulama dan tokoh politik dari Nahdlatul Ulama (NU). Ia lahir di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, pada 2 September 1909.Ia aktif dalam pergerakan nasional, terutama melalui jalur politik. Pada masa Demokrasi Terpimpin, KH Zainul Arifin pernah menjabat sebagai Ketua DPR-GR.
Saat pendudukan Jepang, ia berperan sebagai Kepala Bagian Umum Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi).
KH Zainul Arifin meninggal dunia di Jakarta pada 2 Maret 1963. Hanya dua hari kemudian, tepatnya 4 Maret 1963, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Nah, itulah tujuh ulama yang turut memberikan warna penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.