Trauma Masa Kecil Bisa Pengaruhi Cara Orang Tua Mengasuh Anak
Jumat, Agustus 14, 2026
0
YOGYAKARTA, EDUKASIA.ID – Trauma masa kanak-kanak tidak selalu membuat seseorang menjadi orang tua yang buruk.
Namun, pengalaman traumatis dapat memengaruhi cara orang tua merespons emosi anak, terutama jika trauma tersebut tidak mampu direfleksikan dengan baik.
Temuan itu merupakan hasil penelitian mahasiswa S3 Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Radhiatul Fitri.
Dalam penelitiannya, Fitri menemukan fungsi refleksi terhadap trauma atau reflective functioning spesifik trauma menjadi salah satu faktor yang berperan dalam hubungan antara trauma masa kanak-kanak dan kemampuan mengasuh anak
“Trauma itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang itu tidak kompeten dalam mengasuh anak. Reflective functioning trauma inilah yang menjadi mediator terhadap kemampuan dia dalam mengasuh anak,” ungkap Fitri.
Hasil penelitian menunjukkan orang tua dengan kemampuan refleksi trauma yang rendah cenderung lebih waspada terhadap ekspresi emosi anak. Kemampuan mereka dalam mengatur emosi juga mengalami pelemahan.
Sebaliknya, orang tua dengan fungsi refleksi yang tinggi menunjukkan fleksibilitas neural yang lebih baik. Mereka lebih fleksibel dalam merespons rangsangan dari anak dan lebih mampu meregulasi emosi.
“Dari hasil penelitian Fitri, berdasarkan pemetaan konektivitas fungsionalnya, orang tua yang fungsi refleksinya terhadap trauma rendah, maka mereka akan terlalu waspada terhadap ekspresi emosi yang muncul dari anak-anak. “Kemampuan orang tua ini dalam meregulasi emosinya mengalami pelemahan,” ujarnya.
Penelitian tersebut dituangkan Fitri dalam disertasi berjudul “Trauma Masa Kanak-Kanak dan Pengasuhan Ibu: Peran Reflective Functioning Spesifik Trauma (RF-T) pada Pemrosesan Neural Emosi Anak dan Kompetensi Pengasuhan”.
Disertasi itu dipertahankan dalam ujian di Fakultas Psikologi UGM, Jumat, 8 Agustus 2026.
Fitri dibimbing promotor Supra Wimbarti dan ko-promotor Dr. Nita Handayani dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Fitri menjelaskan penelitian tersebut berupaya mencari faktor yang dapat memutus siklus trauma antargenerasi. Salah satu variabel yang diuji adalah fungsi refleksi spesifik trauma.
Untuk membuktikannya, penelitian dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama, adaptasi dan validasi psikometri failure to mentalize trauma (FMTQ).
Kedua, pengembangan dan validasi AI generated Indonesian child facial expression, khususnya ekspresi wajah anak usia 2 hingga 8 tahun.
Tahap ketiga berupa eksperimen elektrofisiologis dengan analisis event-related potentials (ERP) dan functional connectivity EEG menggunakan matriks koherensi dan WPLI.
“FMTQ ini bisa secara valid digunakan untuk mengukur apakah tingkat seseorang mampu move on atau berefleksi terhadap traumanya ataupun tidak,” paparnya.
Dalam penelitian tersebut, trauma masa kanak-kanak yang dihubungkan secara langsung dengan kompetensi pengasuhan ternyata menunjukkan hasil yang tidak signifikan.
Namun, ketika fungsi refleksi terhadap trauma dimasukkan sebagai variabel, hasilnya menjadi signifikan.
Fitri menyebut temuan ini memperlihatkan bahwa pengalaman buruk yang dialami seseorang saat kecil tidak otomatis membuatnya mengulangi pola pengasuhan yang sama kepada anak.
Orang tua yang pernah mengalami perlakuan kasar seperti dipukul atau dikunci berhari-hari memang dapat menganggap pola tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan kemudian mengulanginya.
Namun, kemampuan untuk merefleksikan pengalaman traumatis dapat menjadi pembeda. Orang tua yang mampu berefleksi memiliki peluang untuk memutus pola pengasuhan yang pernah diterimanya.
Bagikan ke aplikasi lainnya



Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.