UIN SATU Tulungagung mendorong ahli agama menguasai teknologi digital agar mampu membimbing generasi muda sekaligus memanfaatkan AI untuk menjaga warisan pemikiran ulama. foto ist.
Tulungagung. EDUKASIA.ID – Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I., mendorong para ahli dan tokoh agama menguasai teknologi digital. Kemampuan tersebut dinilai penting agar perkembangan teknologi tetap memberi manfaat dan tidak menjadikan manusia sebagai objek yang dikendalikan.
Hal itu disampaikan Prof. Abd. Aziz dalam Gelar Karya Guru Besar yang digelar dalam rangka Dies Natalis ke-58 UIN SATU Tulungagung, di Aula Lantai 5 Gedung Prajnaparamita UIN SATU, Selasa 4 Agustus 2026.
Dalam even bertema “Manusia, Agama, dan Teknologi: Sinergi Intelektual Ke-Islam-an Menuju Indonesia Emas 2045” itu, Prof. Abd. Aziz menyebut teknologi tidak perlu dipertentangkan dengan agama. Teknologi harus ditempatkan sebagai alat yang dimanfaatkan manusia, sedangkan agama menjadi kompas dalam menentukan arah penggunaannya.
Tema tersebut dinilai relevan dengan perkembangan teknologi digital yang semakin masif dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan ketergantungan masyarakat terhadap telepon pintar. Dahulu, seseorang masih dapat meninggalkan keluarga selama beberapa hari. Namun, saat ini meninggalkan telepon genggam selama satu atau beberapa jam saja dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.
“Ini sudah menggejala di kita, artinya ini menjadi sesuatu yang luar biasa dari perkembangan teknologi digital yang ada sekarang,” ujar Rektor.
Perkembangan tersebut semakin terasa dengan hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), animasi, serta beragam fitur teknologi baru yang berkembang cepat.
Kondisi tersebut menghadirkan tantangan bagi masyarakat, termasuk mereka yang memiliki kehidupan dan orientasi keagamaan.
“Apakah teknologi mendukung pada kita sebagai manusia dan apa hubungannya juga dengan agama,” ungkapnya.
Prof. Abd. Aziz menegaskan, manusia harus tetap ditempatkan sebagai subjek. Teknologi tidak boleh membuat manusia menjadi objek yang dikendalikan oleh perkembangannya.
Dalam konteks tersebut, agama memiliki posisi penting sebagai pedoman dalam memanfaatkan teknologi secara tepat. Manusia, teknologi, dan agama juga perlu disatukan serta tidak lagi dipandang secara dikotomis.
Penguasaan teknologi, menurutnya, kini menjadi kebutuhan penting, termasuk bagi para ahli agama.
Ia mencontohkan perubahan cara masyarakat mengakses sumber-sumber keislaman. Jika sebelumnya seseorang harus membawa banyak kitab ketika melakukan kajian atau diskusi, kini berbagai kitab dapat diakses melalui perangkat digital dalam satu genggaman.
“Ini membutuhkan ahli-ahli agama dalam menguasai teknologi. Kita bisa memanfaatkan teknologi dan jangan sampai kita sebagai manusia dimanfaatkan oleh teknologi,” tegasnya.
Tema tersebut dinilai relevan dengan perkembangan teknologi digital yang semakin masif dan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan ketergantungan masyarakat terhadap telepon pintar. Dahulu, seseorang masih dapat meninggalkan keluarga selama beberapa hari. Namun, saat ini meninggalkan telepon genggam selama satu atau beberapa jam saja dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.
“Ini sudah menggejala di kita, artinya ini menjadi sesuatu yang luar biasa dari perkembangan teknologi digital yang ada sekarang,” ujar Rektor.
Perkembangan tersebut semakin terasa dengan hadirnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), animasi, serta beragam fitur teknologi baru yang berkembang cepat.
Kondisi tersebut menghadirkan tantangan bagi masyarakat, termasuk mereka yang memiliki kehidupan dan orientasi keagamaan.
“Apakah teknologi mendukung pada kita sebagai manusia dan apa hubungannya juga dengan agama,” ungkapnya.
Prof. Abd. Aziz menegaskan, manusia harus tetap ditempatkan sebagai subjek. Teknologi tidak boleh membuat manusia menjadi objek yang dikendalikan oleh perkembangannya.
Dalam konteks tersebut, agama memiliki posisi penting sebagai pedoman dalam memanfaatkan teknologi secara tepat. Manusia, teknologi, dan agama juga perlu disatukan serta tidak lagi dipandang secara dikotomis.
Penguasaan teknologi, menurutnya, kini menjadi kebutuhan penting, termasuk bagi para ahli agama.
Ia mencontohkan perubahan cara masyarakat mengakses sumber-sumber keislaman. Jika sebelumnya seseorang harus membawa banyak kitab ketika melakukan kajian atau diskusi, kini berbagai kitab dapat diakses melalui perangkat digital dalam satu genggaman.
“Ini membutuhkan ahli-ahli agama dalam menguasai teknologi. Kita bisa memanfaatkan teknologi dan jangan sampai kita sebagai manusia dimanfaatkan oleh teknologi,” tegasnya.
Tantangan Dakwah kepada Generasi Z
Perkembangan teknologi juga membawa tantangan bagi dunia pendidikan dan dakwah Islam. Terlebih, mayoritas mahasiswa baru saat ini merupakan bagian dari Generasi Z yang tumbuh di tengah lingkungan digital.
Prof. Abd. Aziz menyampaikan, UIN SATU telah melakukan survei terhadap mahasiswa baru. Hasilnya menunjukkan kuatnya kedekatan generasi tersebut dengan teknologi.
Kondisi itu perlu menjadi perhatian para tokoh dan ahli agama. Apabila mereka tidak memahami teknologi, generasi muda berisiko menerima informasi maupun pemahaman keagamaan yang tidak dapat disaring dengan baik.
“Bisa dibayangkan bahwa tokoh-tokoh agama kita tidak bisa menguasai teknologi saat ini, tentu nanti akan ada masukan-masukan yang mungkin tidak bisa difilter anak-anak kita, kemudian ajaran kita jadi tidak sampai,” jelasnya.
Salah satu gagasan yang ditawarkan ialah memanfaatkan AI untuk menghidupkan kembali warisan dan pemikiran ulama terdahulu agar dapat dikenalkan kepada generasi penerus.
Pemanfaatan arsip berupa rekaman suara maupun gambar dinilai dapat menjadi jembatan yang menghubungkan generasi masa lalu dengan generasi saat ini.
Dengan teknologi yang tepat, pemikiran, suara, dan pemahaman keagamaan para ulama terdahulu dapat terus dipelajari oleh generasi berikutnya.
“Bagaimana kita menghubungkan manusia zaman dulu dengan manusia sampai zaman sekarang, perkembangan teknologi yang kayak bagaimana, dan tentu pemahaman-pemahaman agama yang dipahami tokoh-tokoh kita, bagaimana pemahaman agama bisa di-insert pada generasi penerus kita,” tuturnya.
Prof. Abd. Aziz menyampaikan, UIN SATU telah melakukan survei terhadap mahasiswa baru. Hasilnya menunjukkan kuatnya kedekatan generasi tersebut dengan teknologi.
Kondisi itu perlu menjadi perhatian para tokoh dan ahli agama. Apabila mereka tidak memahami teknologi, generasi muda berisiko menerima informasi maupun pemahaman keagamaan yang tidak dapat disaring dengan baik.
“Bisa dibayangkan bahwa tokoh-tokoh agama kita tidak bisa menguasai teknologi saat ini, tentu nanti akan ada masukan-masukan yang mungkin tidak bisa difilter anak-anak kita, kemudian ajaran kita jadi tidak sampai,” jelasnya.
Salah satu gagasan yang ditawarkan ialah memanfaatkan AI untuk menghidupkan kembali warisan dan pemikiran ulama terdahulu agar dapat dikenalkan kepada generasi penerus.
Pemanfaatan arsip berupa rekaman suara maupun gambar dinilai dapat menjadi jembatan yang menghubungkan generasi masa lalu dengan generasi saat ini.
Dengan teknologi yang tepat, pemikiran, suara, dan pemahaman keagamaan para ulama terdahulu dapat terus dipelajari oleh generasi berikutnya.
“Bagaimana kita menghubungkan manusia zaman dulu dengan manusia sampai zaman sekarang, perkembangan teknologi yang kayak bagaimana, dan tentu pemahaman-pemahaman agama yang dipahami tokoh-tokoh kita, bagaimana pemahaman agama bisa di-insert pada generasi penerus kita,” tuturnya.
Diseminasi Karya Guru Besar
Gelar Karya Guru Besar menjadi ruang bagi para guru besar UIN SATU untuk memperkenalkan sekaligus mendiseminasikan karya-karya intelektual yang telah dihasilkan.
Kegiatan tersebut menghadirkan Prof. Abd. Aziz sebagai keynote speaker dan Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si., sebagai pembahas.
Prof. Abd. Aziz mengatakan, banyak karya dan pemikiran guru besar UIN SATU yang belum terdokumentasikan dan terpublikasikan secara optimal.
“Sebetulnya sangat banyak yang ditelorkan para guru besar kita, tapi belum termedia dengan bagus. Karena itu kita kasih fasilitas acara ini lalu disepakati dengan nama Gelar Karya Guru Besar,” terangnya.
Sejumlah guru besar memaparkan karya mereka dalam forum tersebut. Prof. Dr. Mujamil Qomar, M.Ag., membedah empat buku, yakni Idiom-idiom Islam di Indonesia, Beyond Tradisionalisme: Kritik Rasionalitas, Tradisi, dan Spirit Zaman Baru, Tradisi yang Terus Bergerak: Fragmen Intelektualisme NU dan Pencarian Islam Humanis, serta Islam Metodologis: Model, Rumusan, dan Strategi.
Prof. Dr. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I., memaparkan buku Eksplorasi Model Pembelajaran Imersif: Dalam Merancang Pengalaman Belajar yang Transformasional di Era Abad ke-21.
Sementara itu, Prof. Dr. Ngainun Naim, M.H.I., membedah dua karya berjudul Islam dan Disabilitas: Aksesibilitas, Mediatisasi, Kekerasan Seksual dan Penegakan Hukum serta Spiritualitas, Intelektualitas, dan Moderasi Beragama: Ikhtiar Membangun Kerukunan dalam Masyarakat Majemuk.
Prof. Dr. Imam Fuadi, M.Ag., memaparkan buku Teologi Islam: Akar-akar Kemunculan dan Aliran-aliran di dalamnya.
Adapun Prof. Dr. M. Muntahibun Nafis, M.Ag., membedah dua karya, yakni Music and Islamic Expression in Public Space: Sufi Music in Indonesia and United Kingdom serta Ethno-Stream dalam Pembelajaran Studi Islam.
Menurut Rektor, Gelar Karya Guru Besar telah diselenggarakan untuk kedua kalinya. Kegiatan tersebut direncanakan berlangsung rutin dua kali dalam setiap semester.
Melalui forum itu, UIN SATU tidak hanya ingin menampilkan karya para guru besar, tetapi juga membangun dialog akademik yang mampu menjawab persoalan aktual, termasuk hubungan antara manusia, agama, dan perkembangan teknologi.






Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.