Kisah Wahidin, Dulu Asongan Koran di Semarang, Kini Dosen di UIN Salatiga

Redaksi
0
Kisah inspiratif Dr. Wahidin, mantan loper koran, santri pekerja keras hingga meraih gelar doktor serta menjadi pengasuh Pesantren Ma’arif NU Salatiga. Foto ist.

EDUKASIA. ID – Ustadz Dr. Wahidin, S. Pd. I., M. Pd, Pengasuh Pesantren Ma’arif NU Salatiga. Wahidin menyimpan perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Saat masih kuliah, dosen UIN Salatiga itu pernah menjadi loper koran, berjalan kaki melewati jalur terjal menuju kampus, hingga menjalani puasa Dala’il hampir sepanjang tahun.

Pengalaman itu kini menjadi bekalnya dalam mendampingi santri. Ia memahami bahwa pendidikan tidak selalu ditempuh dalam keadaan mudah. Ada yang harus belajar sambil bekerja, menghemat biaya perjalanan, bahkan menahan lapar demi mempertahankan cita-cita.

Selain dalam organisasi kemasyarakatan sebagai Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara Pendidikan Ma’arif NU atau BP3MNU MTs Ma’arif NU 01 Salatiga, di lingkungan perguruan tinggi, juga diamanahi sebagai Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam di UIN Salatiga.

Namun perjalanan itu bermula dari kehidupan sederhana saat menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Batang.

Menjadi Santri Pertama


Sambil menempuh pendidikan formal di SMA Negeri 1 Batang, Wahidin belajar ilmu agama secara intens di Pondok Pesantren Ta’limul Muta’alim Pesalakan Batang, dibawah asuhan KH. Nawawi.

Di pondok tersebut belajar ilmu agama secara intensif, mulai belajar kitab kuning, nahwu-shorof, tajwid, fiqh maupun kitab-kitab lainya.

Selain ngaji dengan beberapa guru yang ada di pondok tersebut, Wahidin belajar mengasah spritual dalam beberapa laku tirakat, seperti puasa Senin-Kamis dan istiqomah shalat dhuha pada saat istirahat jam pertama di sekolah.

Di Bawah asuhan gurunya, Wahidin belajar ilmu ikhlas. Di pondok tersebut santri-santrinya banyak yang lalu dari rumah dan yang tinggal di pondok saat itu hanya 2 orang.

Dalam beberapa momet Sang Kyai mengajar 2 santri yang tinggal di pondok dengan metode Bandongan, terkadang hanya 1 santripun tetapi dilaksanakan pembelajaran kitab kuning.

Selesai dari SMA, atas saran Kyai dan putranya (KH. Saefudin Zuhri) diminta untuk melanjutkan ke IAIN Walisongo Semarang, dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), yang kini menjadi UIN Walisongo. Alasanya agar ilmu agamanya semakin kuat ditambah ilmu umum untuk menunjang ilmu agamanya. Disamping itu, disarankan untuk tetap nyantri sambil kuliah.

Menjadi Loper Koran di Kalibanteng


Selama kuliah, Wahidin tinggal dan mengaji di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Tugurejo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang.

Untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menjual koran di kawasan lampu lalu lintas Kalibanteng, tidak jauh dari Museum Ranggawarsita.

Saat lampu merah menyala dan kendaraan berhenti, Wahidin mendekati para pengendara sambil menawarkan koran. Pekerjaan tersebut dijalaninya di sela-sela kewajiban kuliah dan mondok.

Menjadi loper koran bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang mahasiswa. Namun, Wahidin memilih menjalaninya daripada harus berhenti kuliah karena keterbatasan biaya.

“Saat itu yang penting saya tetap bisa kuliah dan mondok. Menjual koran saya jalani sebagai ikhtiar untuk mencukupi kebutuhan,” kenangnya.

Pengalaman tersebut mengajarkannya untuk tidak malu bekerja. Baginya, pekerjaan yang halal tetap memiliki kehormatan selama dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Ia juga belajar menghadapi beragam karakter orang. Ada pengendara yang membeli, ada pula yang hanya memandang sekilas sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Dari lampu merah Kalibanteng, Wahidin belajar bahwa hidup tidak selalu memberi hasil dalam sekali usaha. Namun, ikhtiar tetap harus dilakukan.

Jalan Kaki ke Kampus


Jarak antara Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin dan kampus IAIN Walisongo sekitar dua kilometer. Untuk menghemat biaya, Wahidin lebih sering berjalan kaki.

Ia memilih jalur belakang kampus yang jaraknya sekitar 1, 5 kilometer. Meski lebih dekat, jalur itu melewati medan berbukit dan tanjakan yang cukup terjal.

Wahidin sebenarnya memiliki sepeda. Namun, kondisi jalan membuat kendaraan tersebut tidak selalu dapat dikayuh.

Pada bagian-bagian tertentu, ia harus turun dan menuntun sepeda hingga mendekati kampus.

“Kadang saya membawa sepeda, tetapi karena jalannya terjal, akhirnya lebih banyak dituntun. Yang penting bisa sampai kampus tanpa mengeluarkan biaya,” tuturnya.

Perjalanan itu dijalaninya berulang kali selama kuliah. Panas, hujan, dan jalan yang menanjak tidak menghentikannya untuk mengikuti perkuliahan.

Wahidin tidak memiliki banyak pilihan. Biaya transportasi harus dihemat agar dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan lain.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa perjuangan seorang pelajar tidak hanya terjadi di ruang kelas. Ada jalan panjang yang harus ditempuh sebelum seseorang dapat duduk dan mengikuti pelajaran.

Menjalani Puasa Dala’il


Selain bekerja dan kuliah, Wahidin juga menjalani kehidupan pesantren dengan laku spiritual yang kuat.

Selama kuliah, ia mengamalkan puasa Dala’il. Puasa tersebut dijalaninya hampir setiap hari sepanjang tahun.

Ia hanya tidak berpuasa pada hari-hari yang memang dilarang, yakni Idulfitri, Iduladha, dan hari Tasyrik.

“Ketika kuliah, saya menjalani puasa Dala’il, atas ijazah KH. Ahmad Basir (Pengasuh Ponpes Darul Falah Jekulo Kudus). Praktis hanya tidak berpuasa saat hari raya dan hari Tasyrik,” ungkapnya.

Puasa itu menjadi latihan kesabaran dan kedisiplinan. Di tengah aktivitas kuliah, mondok, serta menjual koran, ia berusaha menjaga keteguhan batin.

Menurutnya, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus. Laku tersebut juga menjadi cara untuk mengendalikan diri dan belajar menerima keadaan.

Kebiasaan berpuasa itu masih dipertahankan hingga sekarang. Meski tidak lagi menjalani puasa setiap hari, Wahidin tetap rutin berpuasa Senin dan Kamis.

“Sekarang saya masih berusaha menjaga puasa Senin dan Kamis. Puasa membuat kita belajar disiplin, sabar, dan bersyukur,” katanya.

Guru Tingkat SD hingga SMA di Semarang


Perjalanan karir dan pengabdian keilmuan dimulai setelah lulus dari IAIN Walisongo Semarang pada tahun 2005 dengan menjadi guru PAI di SMP 2 Kesatrian Semarang. Di tempat ini belajar mengamalkan ilmu dan berinteraksi dengan guru, karyawan dan siswa SMP.

Pada tahun 2006 diberi amanah sebagai guru PAI di TK, SD dan SMA di Yayasan Nusaputera Semarang. Sebagai guru Agama Islam di sekolah dengan mayoritas siswa non Muslim menjadi penguatan dalam rangka membangun toleransi dan moderasi beragama.

Hal yang terkesan oleh Wahidin saat menjadi Guru PAI adalah penjaga moral dan etika di sekolah sehingga keberadaanya menjadi panutuan bagi siswa maupun guru lainya.

Jatuh dari Pohon Kelapa Menjelang Lamaran


Perjalanan hidup Wahidin juga pernah melalui peristiwa yang hampir mengubah rencana pernikahannya.

Saat menyiapkan keperluan untuk melamar calon istrinya, ia memanjat pohon kelapa. Namun, ia terjatuh dari pohon tersebut.

Akibat kejadian itu, tubuhnya selama beberapa hari sulit digerakkan.

Kondisi tersebut membuat Wahidin sempat khawatir. Ia tengah mempersiapkan lamaran, tetapi justru mengalami musibah yang membuatnya tidak berdaya.

Beruntung, calon istri, calon mertua, dan keluarganya tetap menerima keadaan Wahidin.

“Saat itu badan saya beberapa hari tidak bisa digerakkan. Saya bersyukur calon istri dan keluarganya menerima saya apa adanya,” kenangnya.

Penerimaan keluarga calon istrinya menjadi kekuatan tersendiri. Wahidin merasa tidak hanya diterima ketika sehat dan siap, tetapi juga ketika sedang menghadapi kesulitan.

Peristiwa itu mengajarkannya bahwa membangun keluarga tidak hanya membutuhkan kesiapan materi. Penerimaan, kesetiaan, dan ketulusan juga menjadi pondasi penting.

Mengadu Nasib ke Salatiga


Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Wahidin melanjutkan studi magister Bimbingan dan Konseling di Universitas Negeri Semarang.

Pilihan itu kemudian mengarahkan perjalanan akademiknya pada bidang Bimbingan dan Konseling.

Setelah lulus, ia mencoba mendaftar sebagai dosen di Salatiga. Saat itu, perguruan tinggi tersebut masih bernama Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri atau STAIN Salatiga.

Wahidin menyebut langkah tersebut sebagai upaya mengadu nasib. Ia tidak memiliki jaminan akan diterima, tetapi tetap memberanikan diri untuk mencoba.

“Dulu saya datang ke Salatiga untuk mengadu nasib. Saya hanya berusaha mencari jalan pengabdian melalui pendidikan,” tuturnya.

Usaha tersebut membuahkan hasil. Ia diterima sebagai dosen dan mulai meniti karier di dunia pendidikan tinggi.

Dari Salatiga, perjalanan akademiknya terus berkembang. Ia mengajar, membimbing mahasiswa, dan memperdalam bidang yang telah dipilihnya.

Menjadi dosen tidak membuat Wahidin berhenti belajar. Ia tetap menyimpan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang doktor.

Meraih Beasiswa S3


Kesempatan itu datang ketika Wahidin memperoleh beasiswa untuk menempuh pendidikan Doktor Bimbingan dan Konseling di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Ia kembali menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, kali ini dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Selain harus menyelesaikan studi, Wahidin juga memiliki tanggung jawab terhadap keluarga, pekerjaan, dan berbagai amanah pendidikan.

Pendidikan doktor tersebut berhasil diselesaikannya pada 2020.

Gelar doktor menurutnya bukan semata-mata pencapaian akademik. Capaian itu menjadi pengingat atas perjalanan panjang sejak menjadi mahasiswa yang menjual koran di lampu merah.

“Beasiswa S3 merupakan nikmat yang sangat saya syukuri. Usaha, doa orang tua dan guru, serta kemauan untuk terus belajar dapat membuka jalan yang tidak pernah kita bayangkan,” ujarnya.

Ia meyakini pendidikan dapat mengubah jalan hidup seseorang. Karena itu, ilmu yang diperoleh tidak ingin berhenti menjadi gelar pribadi.

Wahidin memilih kembali mengabdikan pengetahuan dan pengalamannya melalui kampus, madrasah, serta pesantren.

Mengasuh Pesantren Ma’arif NU Salatiga


Kini, Wahidin mengabdikan diri di Pesantren Ma’arif NU Salatiga. Ia mendampingi santri sekaligus terlibat dalam pengembangan lembaga pendidikan Ma’arif NU di Salatiga.

Sebagai pengasuh pesantren, Wahidin tidak hanya mengajarkan ilmu agama. Ia juga mendorong para santri agar berani melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.

Pesantren harus menjadi tempat tumbuhnya ilmu, akhlak, kemandirian, dan cita-cita.

Santri tidak cukup hanya diberi pelajaran. Mereka juga perlu dipahami latar belakangnya, didampingi kesulitannya, serta diyakinkan bahwa keterbatasan bukan akhir perjalanan.

“Mendidik anak tidak cukup hanya dengan memberikan pelajaran. Mereka perlu didampingi, diberi kepercayaan, dan diyakinkan bahwa mereka mempunyai masa depan,” katanya.

Pengalaman menjadi loper koran membuat Wahidin memahami arti bekerja keras. Perjalanan kaki menuju kampus mengajarkannya ketekunan.

Puasa Dala’il membentuk kedisiplinan batin. Sementara pengalaman jatuh dari pohon kelapa mengajarkannya arti penerimaan dan ketulusan keluarga.

Semua pengalaman tersebut kini menjadi bekal saat ia menghadapi santri dengan beragam latar belakang.

Wahidin memahami bahwa ada santri yang berasal dari keluarga sederhana. Ada pula yang harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan sekolah dan cita-citanya.

Karena itu, ia berusaha menjadikan pesantren sebagai tempat yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menumbuhkan harapan.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top