Perjuangan Muhyar Fanani, Profesor Anak Petani yang Ditempa Integritas

Redaksi
0

Prof Muhyar Fanani berada di ruang kerjanya di Pascasarjana UIN Walisongo Semarang. Foto: Arief/EDUKASIA.ID

EDUKASIA.ID – Panas siang itu mengiringi langkah seorang bocah kelas 3 SDN Munggut II, menyusuri jalan kampung di Ngawi. Ia belum makan sejak pagi, tidak membawa uang, dan harus menempuh perjalanan sekitar enam kilometer untuk pulang.

Bocah itu adalah Muhyar Fanani, yang puluhan tahun kemudian menjadi guru besar Ilmu Hukum Islam dan memimpin Pascasarjana UIN Walisongo Semarang.

Hari itu, Muhyar baru selesai mengikuti lomba membaca Al-Qur’an tingkat kecamatan. Guru agamanya mengantar dengan sepeda motor, mengenalkannya kepada panitia, kemudian mungkin karena lupa, meninggalkannya mengikuti perlombaan.

Dengan seragam bercelana pendek merah, ia berhasil meraih juara kedua. Namun, ketika acara berakhir sekitar pukul 14.00, tidak ada orang yang menjemputnya.

Muhyar kecil akhirnya berjalan kaki menuju rumah. Rasa haus memaksanya berhenti di salah satu rumah warga yang memiliki sumur di depan rumah.

“Pulang jalan kaki, enggak bawa uang. Panas, akhirnya saya minum air sumur. Saya bilang, pada yang punya sumur ‘Pak, nyuwun toyo, nggih (minta air ya),’” kenangnya dalam wawancara dengan EDUKASIA.ID.

Ia tiba di rumah sekitar pukul 15.00. Tidak banyak pertanyaan dari orang tuanya. Muhyar tak melaporkan kelelahan maupun perut keorncongan yang tak sarapan sejak pagi, hanya melaporkan bahwa dirinya memperoleh hadiah dari perlombaan.

Pengalaman yang sekilas tampak pahit itu justru dikenangnya sebagai latihan hidup. Ia belajar bertahan ketika tidak ada orang yang segera datang menolong.

“Itu justru melatih daya tahan. Kalau sekarang mungkin bahasa kerennya endurance. Daya tahan untuk tidak mudah menyerah,” ujarnya.

Tumbuh dalam keluarga petani


Muhyar lahir di Ngawi pada 14 Maret 1973. Ia merupakan anak pertama dari empat bersaudara dan tumbuh di tengah keluarga petani. Ayahnya bukan tuan tanah, tetapi juga tidak selalu berada dalam kondisi kekurangan.

Pada masa awal merintis kehidupan keluarga, sang ayah menggarap tanah pertanian milik desa. Muhyar masih mengingat dirinya diajak bersepeda pada sore hari untuk melihat lahan tersebut.

Dari kehidupan keluarganya, ia mengenal satu ungkapan yang terus diingat: every beginning is difficult. Setiap permulaan selalu menyimpan kesulitan.

Kondisi ekonomi keluarga perlahan membaik setelah orang tuanya memadukan usaha pertanian dengan peternakan. Mereka pernah memelihara enam ekor sapi dan mengembangkan usaha penggemukan sapi hingga dapat membeli tanah.

Sebagai anak pertama, Muhyar kerap mendengar pembicaraan orang tuanya mengenai usaha, pekerja, pertanian, dan peternakan. Ia juga ikut menggembala sapi serta mencari rumput sambil bermain layang-layang.

“Di tengah kesulitan itulah saya meniru betul-betul orang tua saya. Semua tindakan, ucapan, dan perbuatan orang tua mungkin tidak mereka rasakan, tetapi itu pendidikan bagi saya,” tutur pria bergaya kalem itu.

Kesukaan terhadap dunia pertanian tetap terbawa hingga dewasa. Ketika penat dengan pekerjaan kantor, ia memilih menanam dan merawat tanaman sebagai cara untuk menyegarkan pikiran
.

Pelajaran pertama tentang integritas


Muhyar juga menyimpan satu pengalaman masa kecil yang membentuk pandangannya mengenai kejujuran.

Saat melihat teman-temannya mempunyai uang jajan lebih banyak, ia pernah mengambil uang kecil yang disimpan orang tuanya di lemari. Dalam pikiran seorang anak, uang tersebut adalah milik orang tuanya sehingga tidak masalah apabila ia mengambil sedikit.

Perbuatan itu diketahui. Ia mendapat teguran keras.

Orang tuanya menjelaskan bahwa persoalannya bukan terletak pada jumlah uang. Apabila membutuhkan sesuatu, ia harus meminta, bukan mengambil sendiri tanpa izin.

“Itu pendidikan integritas pertama. Saya masih ingat karena marahnya, menurut saya waktu itu, kelewatan juga,” katanya.

Muhyar bahkan sempat takut pulang dan memilih bermain hingga menjelang magrib. Namun, teguran itulah yang kemudian menancap kuat dalam ingatannya.

Memilih madrasah


Selepas SD, Muhyar memperoleh nilai EBTANAS tertinggi kedua se-Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi. Kepala sekolah memproyeksikannya masuk salah satu SMP favorit di Ngawi.

Muhyar justru memilih MTsN Paron yang jaraknya lebih jauh dari rumah. Keputusan tersebut berawal dari keinginannya mendalami ilmu agama.

Keinginan itu salah satunya tumbuh dari pesan sang ibu. Masjid di dekat rumah mereka berdiri di atas tanah wakaf leluhur keluarga. Ibunya berharap kelak Muhyar belajar agama agar dapat ikut merawat masjid tersebut.

Ia juga memperhatikan penghormatan masyarakat kepada seorang guru mengaji bernama Mbah Ma’ruf. Meski bukan sarjana, Mbah Ma’ruf memperoleh penghormatan yang menurut Muhyar terasa lebih tulus, melebihi penghormatan pada tokoh yang alumni kampus ternama.

“Penghormatan kepada Mbah Ma’ruf itu lebih tulus. Akhirnya saya merasa mantap ingin mendalami ilmu agama,” katanya.

Di MTsN Paron, Muhyar dipercaya menjadi ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Awalnya ia menolak, tetapi guru pembinanya memberikan kalimat yang kemudian turut mengarahkan perjalanan hidupnya.

“Kamu tahu enggak, kalau ingin menjadi orang besar, kamu harus bisa berorganisasi,” kata sang guru sebagaimana ditirukan Muhyar.

Keaktifannya membuat Muhyar dikenal para guru. Kepala madrasah kemudian menawarkan kesempatan mengikuti seleksi Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Jember, sekolah dengan porsi pembelajaran sekitar 70 persen agama dan 30 persen umum.

Ia menerima tawaran itu. Sebelum menjalani seleksi, Muhyar rutin datang ke musala madrasah setiap Jumat untuk belajar percakapan bahasa Arab.

Muhyar akhirnya diterima di MAPK Jember. Pendidikan tersebut menjadi pintu perjalanan panjangnya menekuni ilmu keislaman, meskipun pada masa awal ia sempat merasa berat dan ingin pulang.

Seorang teman lalu membawanya menemui kiai. Sang kiai menerima dan mendengarkan keluhan Muhyar muda dengan sungguh-sungguh, meski mereka sebelumnya tidak saling mengenal.

Bagi Muhyar, perjumpaan tersebut meninggalkan pelajaran tentang ketulusan melayani.
“Siapa saya? Tidak ada urusan dengan Pak Kiai itu. Namun, beliau menanggapi dengan sepenuh hati dan memberikan doa-doa. Motifnya hanya melayani umat dan memberi, bukan menerima,” tuturnya.

Diliputi orang-orang baik


Muhyar meyakini perjalanan hidupnya tidak dibentuk oleh satu orang saja. Orang tua, guru, teman, kiai, dan lingkungan kampung sama-sama mengambil peran.

Ia menggambarkannya dengan ajaran tentang pentingnya bersahabat dengan orang-orang saleh. Dalam hidupnya, Muhyar merasa selalu dipertemukan dengan orang-orang baik yang menjaga langkahnya agar tidak menyimpang.

Secara khusus disebutnya sejumlah guru yang meninggalkan kesan mendalam dalam perjalanan hidupnya. Sebagian dari mereka, kata Muhyar, masih diberi umur panjang.

“Saya ingin menyebut beberapa nama guru yang sangat mengesankan bagi saya sebagai bentuk ucapan terima kasih, yang kebetulan beberapa masih sugeng (hidup),” ujarnya.

Salah satunya adalah Ahmad Julianto, guru SD yang mengenalkannya pada cara kerja ilmu pengetahuan. Melalui percobaan IPA sederhana, sang guru menumbuhkan rasa ingin tahu Muhyar sejak kecil.

Ada pula Jakodin, pembina OSIS yang mengajarkannya menjadi pemimpin. Sementara Sjuhud, Kepala MTsN Paron, dengan ikhlas membimbing percakapan bahasa Arab sebagai persiapan menghadapi wawancara masuk MAPK Jember.

Muhyar juga mengenang Ustaz Hamam yang mengajarinya bahasa Arab aktif.

“Dan para dosen di UIN Sunan Kalijaga dan UIN Walisongo yang setiap kata dan langkahnya sangat menginspirasi,” lanjutnya.

Ia menggambarkan perjalanan tersebut dengan ajaran tentang pentingnya bersahabat dengan orang-orang saleh. Dalam hidupnya, Muhyar merasa selalu dipertemukan dengan orang-orang baik yang menjaga langkahnya agar tidak menyimpang.

Bangkrut Saat Merintis Usaha


Menjadi dosen bukan cita-cita awal Prof Muhyar Fanani, hingga duduk di semester VI perkuliahan, pikirannya masih dipenuhi keinginan menjadi pengusaha.

Pilihan itu tidak datang tiba-tiba. Sejak kecil, Muhyar telah terlibat dalam kegiatan usaha keluarganya di Ngawi.

Selain bertani dan beternak, orang tuanya membuka toko kecil yang menjual pupuk, obat-obatan pertanian, rokok, serta sejumlah kebutuhan warga kampung. Muhyar ikut menjaga dan mengelola toko tersebut.

Namun, ada satu kebiasaan yang diamati orang tuanya. Ketika seorang tetangga lanjut usia datang membeli rokok dengan uang yang kurang, Muhyar tetap memberikan barang yang diminta.

Hal serupa terjadi berulang kali. Naluri belas kasihnya lebih cepat bekerja daripada perhitungan bisnis.

Saat Muhyar menyampaikan keinginannya menjadi pengusaha, ibunya memberikan jawaban lugas.

“Kamu enggak cocok usaha. Wong kowe dodol rokok wae rugi. Rokoke entek, duite ora ana, (kamu jualan saja rugi, rokok habis uangnya tak ada)” kenang Muhyar menirukan ucapan ibunya.

Orang tuanya melihat Muhyar terlalu mengedepankan rasa kasihan. Baginya, karakter tersebut akan menyulitkannya bertahan dalam dunia bisnis.

Muhyar tidak langsung melepaskan keinginannya. Sembari menyelesaikan skripsi, ia merintis usaha.

Modal sekitar Rp12 juta diperoleh dari orang tua. Nilai tersebut terbilang besar pada masa itu. Akan tetapi, usaha tersebut tidak berjalan sebagaimana diharapkan.

Bisnis itu bangkrut dan modalnya habis.

Muhyar memandang kegagalan tersebut sebagai penunjuk jalan. Ia mungkin memiliki ketertarikan dan kemampuan manajemen, tetapi sumber penghidupannya tampaknya tidak berada di dunia usaha.

Pada saat hampir bersamaan, seorang dosen menawarkan rekomendasi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister. Muhyar sebenarnya belum tertarik. Pikirannya masih membayangkan kehidupan sebagai pengusaha.

“Tapi begitu dunia usaha bangkrut, ya sudahlah, saya daftar beasiswa,” ujarnya.

Ia diterima dan memperoleh beasiswa pendidikan magister. Uang pertama yang diterimanya sebesar Rp500 ribu di luar biaya kuliah. Sebagian uang itu dibelikan cincin emas empat gram untuk persiapan menikah.

Muhyar kemudian menjalani pendidikan S2 sambil membangun rumah tangga. Ia merasakan pernikahan tidak menghentikan perjalanan akademiknya, tetapi justru membuka pintu rezeki.

“Kami menikah dalam posisi masih mahasiswa. Bahwa pernikahan membuka pintu rezeki itu saya alami betul. Setelah menikah, saya punya pekerjaan, istri saya punya pekerjaan, dan semuanya berjalan,” tuturnya.

Masuk IAIN Walisongo


Muhyar menyelesaikan jenjang sarjana pada Jurusan Perbandingan Mazhab Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan S2 konsentrasi Filsafat Islam dan program doktor di kampus yang sama.

Pada 2001, ia diterima menjadi dosen di IAIN Walisongo Semarang, yang kini bernama UIN Walisongo.

Kesempatan tersebut datang setelah ia menyaksikan dampak krisis moneter 1998 terhadap usaha keluarga dan para kerabatnya. Sejumlah usaha terpukul, utang membesar, dan aset harus dijual.

Karena itu, pekerjaan sebagai dosen diterimanya sebagai nikmat besar yang perlu disyukuri.

“Saya menjalankannya dengan sepenuh hati. Ditugaskan apa pun, menjadi panitia apa pun, mengajar apa pun, saya lakukan,” katanya.

Pada masa awal mengajar, persoalan linearitas belum seketat sekarang. Muhyar pernah mendapat tugas mengajar bahasa Indonesia, bahasa Arab, bahasa Inggris, filsafat umum, fikih, hingga usul fikih.

Ia menjalankan seluruh tugas yang diberikan fakultas.

Manajemen adalah jam terbang


Beban pekerjaan tidak selalu terasa ringan. Sekitar setahun setelah menjadi calon pegawai negeri sipil, Muhyar pernah mengeluhkan banyaknya tugas yang datang dalam waktu bersamaan kepada seorang senior.

Senior tersebut mengingatkannya bahwa pekerjaan itulah yang dahulu ia cari.

“Lah, ini kerjaan. Kerjakan saja semampunya,” kata Muhyar menirukan nasihat yang diterimanya.

Nasihat lain datang dari seorang kolega yang menyebut setiap tugas sebagai kesempatan belajar. Menjadi anggota tim, kepanitiaan, maupun pengelola kegiatan akan menambah pengalaman.

“Manajemen itu soal jam terbang. Jadi, tidak usah berpikir diberi honor berapa. Saya merasa cocok dengan nasihat itu,” ujarnya.

Sejak saat itu, Muhyar memilih menjalani berbagai amanah tanpa menjadikan imbalan sebagai pertimbangan utama.

Perjalanan manajerialnya kemudian bergerak dari satu ruang ke ruang lain. Ia pernah menjadi kepala Unit Penjaminan Mutu, Kepala Pusat Pengembangan Bahasa, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin, hingga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Walisongo.

Muhyar juga pernah menjadi Direktur Fakultas Ushuluddin Program Khusus, Wakil Direktur Pesantren SMU Nurul Islami Semarang, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah, serta Wakil Direktur Pascasarjana UIN Walisongo.

Pada April 2024, ia mendapat amanah sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo. Rekam jejak tersebut melengkapi pengalamannya mengelola lembaga pendidikan dari tingkat pesantren, fakultas, hingga pascasarjana.

Menjadi guru besar


Di tengah kesibukan manajerial, Muhyar terus menulis dan melakukan penelitian. Tema yang ditekuninya meliputi usul fikih, hukum Islam, wakaf produktif, hubungan agama dan negara, paradigma kesatuan ilmu, demokrasi Pancasila, hingga moderasi Islam.

Ia menghasilkan sejumlah buku, antara lain Pudarnya Pesona Ilmu Agama, Metode Studi Islam, Membumikan Hukum Langit, Fiqh Madani, Paradigma Kesatuan Ilmu Pengetahuan, dan Spiritualisasi Ilmu Politik dan beberapa karya lainnya.

Disertasinya mengenai pemikiran Muhammad Syahrur dalam ilmu usul fikih mendapat penghargaan sebagai disertasi terbaik versi Departemen Agama RI pada 2006.

Perjalanan tersebut mengantarkannya menjadi guru besar Ilmu Hukum Islam pada Pascasarjana UIN Walisongo.

Muhyar tidak melihat rangkaian jabatan itu sebagai lompatan yang berdiri sendiri. Semuanya tumbuh dari kesediaan menerima pekerjaan, belajar melalui penugasan, dan menyelesaikannya dengan sungguh-sungguh.

Kegagalan menjadi pengusaha ternyata bukan akhir perjalanan. Dari usaha yang bangkrut, Muhyar menemukan dunia yang lebih sesuai dengan dirinya: pendidikan, keilmuan, dan pelayanan akademik.

Menolak Jalan Pintas


Prof. Muhyar Fanani memiliki satu keyakinan dalam mengelola pendidikan tinggi: hasil tidak dapat dipisahkan dari proses yang ditempuh.

Prinsip itu menjadi salah satu landasannya dalam memimpin Pascasarjana UIN Walisongo Semarang. Ia tidak ingin perguruan tinggi sekadar mempercepat kelulusan mahasiswa tanpa memastikan proses akademiknya berjalan dengan benar.

“Proses itu semuanya butuh waktu dan tidak ada proses yang bisa menipu hasil. Kalau prosesnya tidak benar, hasilnya juga tidak benar,” kata Muhyar.

Pandangan tersebut tidak lahir hanya dari ruang kuliah. Muhyar tumbuh sebagai anak petani yang akrab dengan proses menanam, merawat, dan menunggu hasil.

Ia juga mengalami sendiri kegagalan usaha, perjalanan pendidikan yang panjang, serta berbagai tugas manajerial sejak menjadi dosen IAIN Walisongo pada 2001.

Semua pengalaman itu membentuk sikapnya terhadap apa yang disebut sebagai shortcut mentality atau mentalitas jalan pintas.

Menurutnya, keinginan memperoleh hasil secara cepat tanpa proses yang memadai menjadi salah satu persoalan dalam dunia pendidikan dan kehidupan berbangsa.

“Kalau proses pembelajaran itu tidak dilakukan dengan benar, alumninya tidak akan mengalami kemajuan berpikir yang otentik. Nanti jadinya kembali ke jalan pintas,” ujarnya.

Prof Muhyar Fanani membereskan berkas di ruang kerjanya. Foto: Arief/EDUKASIA.ID.

Salah satu penerapan prinsip tersebut terlihat dalam kebijakan penyelesaian studi mahasiswa doktor.

Secara regulasi, menurut Muhyar, terdapat kemungkinan tugas akhir program doktor digantikan dengan publikasi internasional. Sejumlah perguruan tinggi telah menerapkan pilihan tersebut.

Namun, Pascasarjana UIN Walisongo tetap memandang penulisan disertasi sebagai bagian penting dalam pembentukan seorang doktor.

Muhyar menyebut penulisan disertasi bukan sekadar kegiatan menghasilkan naskah ilmiah. Di dalamnya terdapat pembelajaran tentang logika berpikir, manajemen waktu, ketekunan mencari data, komunikasi dengan promotor, serta kemampuan memahami karakter orang lain.

“Orang yang pernah menulis disertasi dengan sungguh-sungguh akan merasakan bahwa menulis disertasi itu seperti perjalanan spiritual,” katanya.

Ketika disertasi sepenuhnya digantikan artikel jurnal, ia khawatir sebagian tujuan pembelajaran tersebut tidak tercapai. Kekhawatiran menjadi lebih besar apabila artikel yang diajukan justru dibuatkan oleh orang lain.

Bagi Muhyar, gelar doktor seharusnya menjadi penanda terjadinya kemajuan berpikir secara autentik, bukan hanya terpenuhinya persyaratan administratif.

Tidak mengambil semua ceruk pendidikan


Prinsip lain yang dipegang Muhyar adalah keadilan antarlembaga pendidikan.

Pascasarjana UIN Walisongo, menurut penjelasannya saat wawancara, tidak membuka kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL. Padahal, secara kelembagaan, program tersebut dapat diselenggarakan apabila mendapatkan izin khusus.

Keputusan itu didasarkan pada pandangan bahwa perguruan tinggi negeri tidak harus mengambil seluruh segmen mahasiswa yang ada.

“Rezeki itu harus dibagi, jangan diambil sendiri. Dibagi kepada teman-teman perguruan tinggi swasta,” ujarnya.

Ia menilai RPL menjadi salah satu ruang yang dapat dikembangkan perguruan tinggi swasta. Apabila perguruan tinggi negeri juga mengambil seluruh pasar tersebut, persaingan dinilai menjadi kurang adil.

“Kalau mainannya mereka kita ambil juga, apa tidak bisa dibilang serakah kuadrat? kita perlu lebih fair,” katanya.

Kebijakan tersebut dijalankan selama mendapat persetujuan dari pimpinan universitas.

Pendidikan harus mempunyai prioritas


Muhyar berpandangan bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tugas utama negara. Karena itu, pendidikan semestinya ditempatkan sebagai bentuk keberpihakan dan prioritas.

Ia mempertanyakan anggapan bahwa negara tidak mempunyai cukup kemampuan untuk membiayai pendidikan masyarakat. Menurutnya, persoalan tersebut tidak selalu semata-mata berkaitan dengan ketersediaan anggaran, tetapi juga pilihan prioritas.

Kritik yang sama diarahkan kepada orientasi pendidikan yang dinilainya mudah berpindah mengikuti hal-hal baru.

Menurut Muhyar, setiap jenjang pendidikan harus mempunyai fokus. Pada tingkat pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar, misalnya, anak lebih membutuhkan latihan kemandirian, tanggung jawab, integritas, dan kemampuan mengelola diri.

Anak perlu dibiasakan merapikan tempat tidur, mencuci peralatan sendiri, membantu orang tua, menyapu, atau memberi makan ternak.

Ia khawatir pendidikan terlalu cepat menempatkan kemampuan kognitif dan angka sebagai ukuran utama keberhasilan. Akibatnya, aspek afektif dan pembentukan karakter mendapat tempat kedua.

“Kalau ranking satu dan nilainya dianggap segala-galanya, sementara afeksinya nomor dua, ya kita menuai apa yang kita tanam,” tuturnya.

Pemikiran itu berangkat pula dari pengalaman masa kecilnya. Sebagai anak petani, Muhyar terbiasa menghadapi keadaan yang menuntut kemandirian dan daya tahan.

Ia menilai generasi terdahulu dapat melewati kesulitan karena memiliki endurance. Kemampuan tersebut tidak terbentuk melalui ceramah semata, melainkan melalui pengalaman, tanggung jawab, dan kebiasaan menyelesaikan persoalan.

Optimisme dari ruang kelas


Meski kerap menyampaikan kritik, Muhyar tetap menyimpan optimisme terhadap masa depan Indonesia.

Ia melihat sejarah menunjukkan bahwa bangsa ini mampu bertahan menghadapi kolonialisme dan berbagai tekanan. Tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta menjadi salah satu sumber inspirasinya.

Muhyar menilai para pendiri bangsa merupakan orang-orang terdidik yang bersedia memaksa dirinya belajar, memikirkan keadaan, bekerja sama, dan mengambil pelajaran dari kegagalan masa lalu.

Karena itu, ia menyarankan mahasiswa dan koleganya membaca kembali perjalanan tokoh-tokoh bangsa ketika merasa pesimistis melihat keadaan.

“Bangsa ini, walaupun dijahati oleh siapa pun, pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri melalui orang-orang yang diutus oleh Allah,” katanya.

Optimisme tersebut ia bawa ke ruang kuliah. Muhyar menyadari kekuasaan seorang dosen mungkin hanya terbatas pada ruangan berukuran sekitar delapan kali delapan meter.

Namun, ruang kecil itu dapat digunakan untuk mempersiapkan generasi penerus.

“Kekuasaan saya hanya delapan kali delapan meter, ruang kelas ini. Saya akan menggunakannya untuk menyiapkan penerus bangsa ke depan,” ujarnya.

Dalam pandangannya, perguruan tinggi bukan sekadar tempat memperoleh ijazah. Kampus merupakan salah satu tahapan kehidupan yang membantu seseorang mengenali mana yang benar dan salah, baik dan buruk.

Dari pemikiran tersebut, strategi Muhyar mengelola Pascasarjana UIN Walisongo dapat dirangkum dalam tiga pijakan: menjaga proses akademik, mempertahankan keaslian perkembangan intelektual mahasiswa, serta membangun tata kelola yang tidak semata mengejar jumlah.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top