Ilustrasi. Gerbang Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, lokasi pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Foto Muktamar.nu.id
Penulis : Fatah Syukur, Anggota NU Ranting Wonolopo Mijen Semarang
EDUKASIA.ID - Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar sebuah organisasi sosial-keagamaan. NU adalah rumah besar tempat bernaung jutaan warga Muslim Indonesia yang sebagian besar hidup sebagai masyarakat akar rumput. Mereka adalah para petani, pedagang kecil, nelayan, buruh, guru madrasah, pengasuh pesantren, kiai kampung, ibu-ibu pengajian, santri, dan berbagai lapisan masyarakat yang menjalani kehidupan dengan kesederhanaan. Mereka mungkin tidak banyak berbicara dalam forum-forum elite organisasi, tetapi sesungguhnya merekalah salah satu kekuatan utama yang membuat NU tetap hidup dan mengakar hingga hari ini.
Karena itu, ketika terjadi perubahan kepemimpinan di tingkat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), masyarakat NU kelas bawah tentu memiliki harapan yang besar. Mereka menginginkan agar kepemimpinan baru tidak berhenti pada pergantian struktur dan figur, tetapi benar-benar menghadirkan suasana baru yang lebih menenteramkan, memperkuat persatuan, meningkatkan kesejahteraan warga, serta mengembalikan NU kepada khittahnya sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah yang mengabdi untuk agama dan masyarakat.
Duet kepemimpinan KH Miftahul Akhyar dan Gus Kikin diharapkan dapat menjadi momentum untuk melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi sekaligus menghadirkan energi baru bagi NU. Keduanya memiliki karakter dan pengalaman yang dapat saling melengkapi: keteduhan dan kedalaman spiritual seorang ulama, berpadu dengan kemampuan manajerial, jejaring, dan orientasi strategis generasi kepemimpinan yang lebih muda.
Bagi masyarakat NU kelas bawah, harapan terhadap kepemimpinan tersebut sesungguhnya sederhana. Mereka tidak terlalu membutuhkan jargon-jargon besar. Mereka ingin NU hadir dalam kehidupan nyata: ketika anak mereka membutuhkan pendidikan, ketika keluarga membutuhkan pelayanan kesehatan, ketika ekonomi rumah tangga mengalami kesulitan, ketika madrasah membutuhkan perhatian, ketika pesantren membutuhkan penguatan, dan ketika masyarakat membutuhkan tuntunan keagamaan yang menyejukkan.
NU Harus Kembali Mendengar Suara Akar Rumput
Salah satu harapan terbesar masyarakat NU adalah agar PBNU semakin dekat dengan warga di tingkat bawah. NU memiliki struktur organisasi yang sangat luas, mulai dari tingkat pusat hingga ranting. Namun, kekuatan terbesar NU justru berada di ruang-ruang sosial yang sering kali tidak terlihat: langgar dan masjid kampung, madrasah diniyah, majelis taklim, pesantren kecil, kegiatan tahlilan, yasinan, pengajian, serta berbagai tradisi sosial-keagamaan masyarakat. Di sanalah wajah NU sesungguhnya hidup.
Karena itu, kepemimpinan PBNU ke depan diharapkan tidak hanya kuat di tingkat nasional, tetapi juga terasa sampai ke tingkat Majelis Wakil Cabang (MWCNU), ranting, bahkan jamaah. Jangan sampai NU menjadi besar secara struktur tetapi semakin jauh dari denyut kehidupan warganya.
Masyarakat bawah ingin didengar. Mereka ingin persoalan-persoalan riil yang mereka hadapi menjadi bagian dari agenda perjuangan NU.
Ketika petani menghadapi persoalan harga hasil pertanian, ketika pedagang kecil kesulitan modal, ketika guru madrasah membutuhkan peningkatan kesejahteraan, ketika pesantren kecil kesulitan mengembangkan sarana pendidikan, atau ketika anak-anak muda NU membutuhkan akses pendidikan dan pekerjaan, NU diharapkan hadir memberikan solusi.
Dengan demikian, keberadaan NU tidak hanya dirasakan ketika ada pengajian besar, konferensi organisasi, atau kegiatan seremonial, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah makna penting dari prinsip khidmah. Kepemimpinan NU harus dipahami sebagai amanah pelayanan, bukan semata-mata posisi kekuasaan.
Kepemimpinan yang Teduh dan Mempersatukan
Masyarakat NU juga sangat berharap agar duet KH Miftahul Akhyar dan Gus Kikin mampu menghadirkan kepemimpinan yang teduh dan mempersatukan. NU adalah organisasi yang sangat besar. Semakin besar sebuah organisasi, semakin besar pula kemungkinan munculnya perbedaan pandangan.
Perbedaan sesungguhnya bukan persoalan. Dalam tradisi NU, perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang biasa. Para ulama terdahulu telah memberikan teladan bagaimana menyikapi perbedaan dengan ilmu, adab, dan keluasan hati.
Yang perlu dihindari adalah ketika perbedaan berubah menjadi pertentangan, saling mencurigai, bahkan konflik yang menguras energi organisasi.
Karena itu, masyarakat bawah berharap PBNU dapat menjadi rumah yang nyaman bagi semua kalangan. NU harus menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok, generasi, dan latar belakang dengan semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.
KH Miftahul Akhyar diharapkan dapat memainkan peran sebagai figur ulama yang menyejukkan, memberikan arah moral dan spiritual, sekaligus menjadi perekat berbagai elemen NU. Sementara Gus Kikin diharapkan mampu menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam tata kelola organisasi yang efektif, adaptif, profesional, dan mampu menjawab tantangan zaman.
Duet ini akan menjadi kekuatan besar apabila keduanya dapat membangun sinergi antara kearifan ulama dan profesionalisme manajemen, antara tradisi dan inovasi, serta antara spiritualitas dan strategi kelembagaan.
NU Harus Memberi Manfaat Nyata bagi Kehidupan Warga
Harapan masyarakat kelas bawah terhadap NU pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan sederhana: apa manfaat NU bagi kehidupan mereka?
Pertanyaan tersebut sangat penting.
NU mempunyai jumlah warga yang sangat besar. Akan tetapi, besarnya jumlah jamaah harus berbanding lurus dengan kualitas manfaat yang diberikan. Organisasi yang besar harus mampu membangun ekosistem pelayanan sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Di bidang pendidikan, NU memiliki modal yang sangat besar melalui pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga pendidikan lainnya. Tantangannya adalah bagaimana seluruh kekuatan tersebut dapat diintegrasikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia NU.
Anak-anak muda NU harus mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Mereka tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan teknologi dan ekonomi global. Mereka harus menjadi pelaku perubahan.
Dalam konteks ini, transformasi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), ekonomi kreatif, kewirausahaan, dan penguasaan sains serta teknologi perlu menjadi bagian dari agenda besar NU tanpa kehilangan akar tradisi keislamannya.
NU memiliki warisan intelektual yang luar biasa. Tradisi keilmuan pesantren harus dipertemukan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Prinsip al-muhafazhatu ’ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah harus benar-benar diterjemahkan menjadi strategi organisasi: mempertahankan tradisi yang baik sekaligus mengambil inovasi yang lebih baik.
Kemandirian Ekonomi Warga NU
Persoalan ekonomi merupakan salah satu harapan paling konkret masyarakat NU kelas bawah. Selama ini, banyak warga NU yang secara ekonomi masih berada pada kelompok masyarakat menengah ke bawah. Mereka mempunyai semangat bekerja yang tinggi, tetapi sering menghadapi keterbatasan akses modal, teknologi, pasar, pendidikan kewirausahaan, dan jaringan usaha.
Karena itu, NU ke depan perlu semakin serius membangun kemandirian ekonomi jamaah. Gerakan ekonomi NU jangan hanya berhenti pada pembentukan lembaga atau badan usaha, tetapi harus menyentuh kebutuhan ekonomi warga secara langsung. Petani perlu dibantu memperoleh akses pasar. Pedagang kecil membutuhkan penguatan modal dan manajemen. Pesantren dapat dikembangkan menjadi pusat ekonomi produktif. Generasi muda NU perlu diberikan ruang untuk menjadi entrepreneur dan inovator.
Dengan kekuatan jaringan pesantren, lembaga pendidikan, masjid, koperasi, dan organisasi sosial yang dimilikinya, NU sebenarnya memiliki potensi besar membangun ekosistem ekonomi umat. Namun, semua itu membutuhkan tata kelola yang profesional, transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kemaslahatan.
Masyarakat bawah tentu berharap agar aset dan kekuatan ekonomi NU tidak hanya menghasilkan keuntungan bagi organisasi, tetapi kembali kepada jamaah dalam bentuk pelayanan, pemberdayaan, beasiswa, peningkatan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, dan penguatan ekonomi masyarakat.
Memperkuat Pesantren, Madrasah, dan Kiai Kampung
Ada satu kelompok yang tidak boleh dilupakan dalam perjalanan NU: kiai kampung dan lembaga pendidikan Islam akar rumput. Mereka sering kali bekerja tanpa banyak sorotan. Di pelosok desa, seorang kiai kampung mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an, membimbing masyarakat, menjadi tempat bertanya persoalan agama, memimpin kegiatan sosial, sekaligus menjadi penengah ketika masyarakat menghadapi konflik.
Demikian pula guru madrasah diniyah. Mereka mendidik generasi dengan keterbatasan fasilitas, tetapi memiliki dedikasi yang luar biasa.
Mereka adalah benteng kultural NU.
Oleh karena itu, salah satu indikator keberhasilan kepemimpinan PBNU ke depan seharusnya adalah sejauh mana perhatian dan pemberdayaan terhadap kiai kampung, ustaz, guru madrasah, pesantren kecil, dan ranting NU semakin kuat.
Jangan sampai NU terlalu sibuk mengurus persoalan di pusat, sementara akar rumput membutuhkan perhatian. PBNU perlu membangun sistem pendataan, pembinaan, peningkatan kapasitas, dan pemberdayaan yang lebih sistematis terhadap basis-basis NU tersebut.
NU sebagai Penjaga Moral Bangsa
Masyarakat NU juga memiliki harapan agar NU tetap menjadi salah satu kekuatan moral bangsa Indonesia.
Di tengah perubahan sosial yang sangat cepat, masyarakat menghadapi berbagai persoalan: krisis keteladanan, individualisme, materialisme, intoleransi, radikalisme, disinformasi, serta berbagai dampak negatif perkembangan teknologi digital.
Dalam kondisi seperti ini, NU mempunyai peran yang sangat strategis.
NU harus terus menjadi kekuatan Islam yang moderat, toleran, inklusif, dan cinta tanah air. Islam yang dikembangkan NU harus menjadi Islam yang menghadirkan rahmat, bukan ketakutan; Islam yang membangun persaudaraan, bukan permusuhan; Islam yang mendorong kemajuan, bukan kemunduran.
Kepemimpinan KH Miftahul Akhyar dan Gus Kikin diharapkan dapat memperkuat posisi NU sebagai penjaga keseimbangan antara agama dan kebangsaan.
NU tidak perlu kehilangan identitas keagamaannya ketika berbicara tentang kebangsaan. Sebaliknya, kecintaan kepada Indonesia harus dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan untuk menjaga kemaslahatan masyarakat.
Prinsip hubbul wathan minal iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata: menjaga persatuan, menghormati keberagaman, memperkuat demokrasi yang beradab, menolak kekerasan, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Regenerasi dan Ruang bagi Generasi Muda
Harapan lainnya adalah agar PBNU semakin serius membangun regenerasi. NU memiliki banyak anak muda yang cerdas, kreatif, dan memiliki kapasitas luar biasa. Mereka berada di berbagai bidang: akademisi, profesional, pengusaha, birokrat, teknolog, seniman, aktivis sosial, dan berbagai profesi lainnya.
Generasi muda tersebut perlu diberi ruang. Regenerasi tidak berarti meninggalkan tradisi dan para ulama sepuh. Sebaliknya, regenerasi harus menjadi proses kesinambungan antara pengalaman generasi terdahulu dan kreativitas generasi baru.
KH Miftahul Akhyar dengan keteduhan dan kedalaman keulamaannya dapat menjadi sumber nilai dan orientasi moral. Gus Kikin dengan energi generasinya dapat menjadi salah satu penggerak transformasi organisasi. Jika sinergi antargenerasi ini berhasil dibangun, NU akan memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menghadapi perubahan zaman.
Menjadikan PBNU sebagai Rumah Besar yang Adem
Pada akhirnya, masyarakat NU kelas bawah tidak menginginkan PBNU menjadi arena pertarungan kepentingan. Mereka ingin PBNU menjadi rumah besar yang adem.
Mereka ingin melihat para kiai duduk bersama. Mereka ingin melihat perbedaan diselesaikan dengan musyawarah. Mereka ingin melihat para pengurus memberikan teladan. Mereka ingin melihat NU bekerja, bukan hanya berbicara.
Bagi masyarakat bawah, ukuran keberhasilan NU sangat sederhana: ketika masyarakat semakin rukun, anak-anak semakin terdidik, ekonomi warga semakin baik, pesantren semakin maju, madrasah semakin berkualitas, generasi muda semakin berdaya, dan kehidupan beragama semakin damai.
Itulah NU yang mereka rindukan.
Karena itu, duet KH Miftahul Akhyar dan Gus Kikin diharapkan tidak sekadar menjadi duet kepemimpinan secara struktural, tetapi menjadi duet kepemimpinan moral, spiritual, dan transformatif.
Kepemimpinan yang satu memberikan keteduhan dan kebijaksanaan; yang lain memberikan energi perubahan dan kemampuan mengelola organisasi. Keduanya harus berjalan dalam satu irama: khidmah, maslahat, persatuan, dan kemajuan.
NU untuk Agama, Bangsa, dan Kemanusiaan
NU telah melewati perjalanan sejarah yang panjang. Ia lahir dari kegelisahan para ulama untuk menjaga agama sekaligus membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. Karena itu, masa depan NU tidak boleh hanya diukur dari seberapa besar organisasinya, tetapi dari seberapa besar kemaslahatan yang dapat diberikan kepada umat dan bangsa.
Masyarakat NU kelas bawah sesungguhnya tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin NU tetap menjadi NU: dekat dengan ulama, dekat dengan pesantren, dekat dengan jamaah, dekat dengan masyarakat, serta selalu hadir ketika bangsa dan negara membutuhkan.
Harapan mereka kepada KH Miftahul Akhyar dan Gus Kikin adalah agar kepemimpinan PBNU ke depan mampu membawa NU keluar dari berbagai ketegangan internal menuju konsolidasi yang lebih sehat; dari perebutan pengaruh menuju pelayanan; dari sekadar kebesaran struktur menuju kebesaran manfaat; dan dari rutinitas organisasi menuju transformasi yang nyata.
Jika NU mampu melakukan hal tersebut, maka NU bukan hanya akan menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia, tetapi juga akan semakin kuat sebagai kekuatan moral, intelektual, sosial, ekonomi, dan kebangsaan yang memberikan kontribusi besar bagi Indonesia.
Pada akhirnya, masyarakat NU ingin melihat sebuah NU yang sederhana dalam sikap, luas dalam pandangan, kuat dalam prinsip, modern dalam tata kelola, dan nyata dalam pengabdian.
Semoga duet kepemimpinan KH Miftahul Akhyar dan Gus Kikin mampu membawa PBNU ke arah tersebut. Semoga perbedaan menjadi kekayaan, bukan perpecahan; kekuasaan menjadi amanah, bukan kepentingan; dan jabatan menjadi jalan pengabdian, bukan tujuan.
Sebab pada akhirnya, NU adalah milik umat, khidmahnya untuk masyarakat, perjuangannya untuk agama, dan kontribusinya untuk bangsa dan negara. Semoga NU semakin teduh, semakin kuat, semakin mandiri, semakin maju, dan semakin maslahat.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.