Selamatan Desa Dusun Drigu, Wujud Syukur dan Penghormatan pada Leluhur "Babat Alas"

Moh. Miftahul Arief
0
Tradisi Selamatan Desa Dusun Drigu, Poncokusumo, Malang, menjadi wujud syukur, penghormatan leluhur, dan gotong royong warga yang terus dijaga. Foto ist.

Penulis : Arya Dafa Wahyu Permana, Mahasiswa Universitas Brawijaya.

EDUKASIA.ID - Warga Dusun Drigu, Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, kembali menggelar tradisi selamatan desa pada Sabtu, 11 Juli 2026. Tradisi tahunan yang telah diwariskan turun-temurun ini digelar bertepatan dengan bulan Suro, sebagai wujud syukur warga sekaligus penghormatan kepada leluhur yang dipercaya menjadi cikal bakal terbentuknya dusun tersebut.

Brigadir Aldio, Bhabinkamtibmas Desa Poncokusumo dari Polsek Poncokusumo yang juga menjabat sebagai Banit Intelkam Polsek Poncokusumo, menjelaskan bahwa tradisi ini bermula dari kisah para leluhur yang membuka hutan atau yang dikenal dengan istilah "babat alas".

"Jadi selamatan dusun itu mulai dari nenek moyang kita. Jadi dahulu kala itu kan tanah di Tanah Jawa ini kan penuh dengan hutan, terus ada namanya ibaratnya orang Jawa itu Babat Alas, sesepuh-sesepuh kita itu babat alas," ujar Aldio.

Ia menambahkan, selamatan desa digelar sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah membuka lahan hingga berkembang menjadi permukiman yang dihuni masyarakat saat ini. "Kita menghormati yang lebih tua yang sudah meninggal, terus kita juga menghargai perjuangan mbah-mbah kita atau sesepuh buyut kita yang sudah meninggal yang dulu pernah babat alas, berarti mulai dari nol, mulai dari hutan sampai jadi rumah-rumah yang dihuni masyarakat saat ini," jelasnya.

Makna dan Ritual Inti

Menurut Aldio, tujuan utama selamatan desa adalah mendoakan keselamatan seluruh warga dusun agar terhindar dari bencana. "Makna dan tujuan dari selamatan ini yang pertama mendoakan desa, dusun ya utamanya. Mendoakan dusun agar seluruh warganya itu selamat, gak ada bencana," katanya.

Ritual inti dalam selamatan desa tahun ini adalah doa bersama di makam Punden, yang diyakini sebagai makam leluhur pembuka dusun. "Ritual intinya itu kita berdoa di makam Bunden ya, itu ibaratnya makam pusat lah itu," ungkap Aldio.

Simbol utama dalam prosesi ini adalah arak-arakan tumpeng yang dibawa menuju Punden untuk didoakan bersama, lalu dilanjutkan dengan pengajian dan tausiah di malam hari. "Simbol-simbol penandanya itu yang kemarin itu kegiatannya itu kan pertama arak tumpeng, arak tumpeng itu nanti dibawa ke punden, doa di punden, terus setelah itu malam ditutup sama pengajian, pengajian sama sekalian tausiah," terangnya.

Berbeda dari Tahun Sebelumnya

Aldio menyebut ada perbedaan mencolok antara pelaksanaan tahun ini dengan tahun lalu. Jika tahun sebelumnya rangkaian acara dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, tahun ini elemen hiburan tersebut ditiadakan atas kesepakatan bersama warga.

"Perbedaannya tahun kemarin itu ada wayangan. Di sana syukurannya wayangan habis tausiah atau pengajian, malamnya langsung wayangan. Kalau sekarang wayangannya enggak jadi," katanya. "Jadi emang tahun ini kesepakatannya untuk ditiadakan dulu."

Selain wayangan, karnaval budaya yang biasanya digelar setiap dua tahun sekali juga absen tahun ini karena keterbatasan anggaran. "Karnaval itu festival budaya itu setiap dua tahun sekali. Kalau tahun kemarin masih ada, tahun ini gak ada... Jadi tahun ini benarnya bisa dibilang hanya ritualnya aja," ujarnya.

Gotong Royong dan Tantangan Persiapan

Meski tanpa hiburan tambahan, semangat gotong royong warga dalam mempersiapkan acara tetap tinggi. Persiapan melibatkan koordinasi antara panitia, pemerintah desa, tiga pilar desa (Bhabinkamtibmas, Babinsa, dan Kepala Desa), hingga persetujuan sesepuh desa terkait penentuan tanggal pelaksanaan.

"Kalau gtong royongnya, warga pasti cukup besar ya, karena kayak membuat tumpeng yang diarak itu kan juga enggak mudah, pasti butuh pengorbanan, pasti butuh penataan kerjasama seperti itu," ungkap Aldio.

Namun demikian, kesibukan warga menjadi tantangan tersendiri dalam proses persiapan, khususnya dalam pembuatan tumpeng yang diarak. "Terkadang itu warga kan terbentur dengan jadwal kerja... yang baru bisa ngerjakan kan pas waktu udah pulang kerja. Mungkin perkiraan zaman sekarang orang kerja jam 4 jam 5 pulang, terus istirahat, kumpul keluarga baru bisa ngerjakan, paling jam 8 jam 9 jam 10 udah selesai," jelasnya.

Meski begitu, Aldio meyakini proses gotong royong tersebut justru mempererat hubungan antarwarga. "Bisa, bisa mempererat, karena memang kita harus mewajibkan seluruh warga itu ikut membantu meramaikan acara ini," tuturnya.

Harapan untuk Generasi Muda

Di akhir wawancara, Aldio menitipkan harapan khusus kepada generasi muda, terutama Generasi Z, agar tidak melupakan nilai-nilai budaya di tengah gaya hidup modern yang semakin berkiblat ke budaya barat.

"Silakan kita mengikuti alur yang ada, gaya hidup ke barat-baratan silakan. Tapi ayo kita berpikir lagi, bagaimanapun kita harus melestarikan budaya yang udah ada," pesannya. Ia berharap generasi muda mau memahami makna dan tujuan di balik tradisi ini, meski belum sepenuhnya terlibat aktif. "Tolong kalian pahami dan mengerti, oh apa sih tujuannya, apa sih manfaatnya... yang penting apa, nanti suatu saat pasti tergerak sendiri kok dirinya seseorang itu untuk bergerak melestarikan budaya itu," ujarnya.

Untuk masa depan Dusun Drigu, Aldio berharap desa semakin maju dan terhindar dari bencana. "Semoga kedepannya di desa ini lebih maju, lebih baik lagi, terus tidak ada kendala lah atau bencana apapun," tutupnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top