Tradisi Selamatan Desa Dahar Sareng di Poncokusumo menjadi ruang warga melestarikan budaya weh-weh, berbagi makanan, dan memperkuat gotong royong. Foto ist.
Penulis : Sabrina Diyo Revanda Tasya dan Fermata Olivia Novelita Tambunan, mahasiswa Universitas Brawijaya
EDUKASIA.ID - Warga Desa Poncokusumo kembali menggelar tradisi Selamatan Desa Dahar Sareng, sebuah acara makan bersama tahunan yang menjadi wujud pelestarian budaya weh-weh, yakni budaya berbagi makanan khas masyarakat Jawa. Acara yang dipusatkan di Balai Desa dan Sanggar Desa Poncokusumo ini turut dihadiri Bupati beserta jajarannya, Camat, dan Dinas Pariwisata setempat, sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi Lokal.
Selamatan Dahar Sareng merupakan agenda rutin tahunan desa yang telah berlangsung turun-temurun. Menurut Ketua Panitia, Hudi dan Edy, kegiatan ini adalah bentuk 'uri-uri budaya weh-weh' yang bertujuan membudayakan sedekah lewat kebiasaan memberi dan makan bersama-sama. Acara ini bersifat terbuka untuk umum, tidak hanya warga Poncokusumo, tetapi juga masyarakat dari desa maupun daerah lain yang ingin turut serta.
Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan tari penyambutan untuk menyambut kedatangan Bupati, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari berbagai pihak, hingga mencapai puncaknya, yaitu acara makan bersama. Pada malam harinya, biasanya digelar hiburan tambahan, khususnya pada momen besar yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Panitia menegaskan bahwa seluruh makanan yang disajikan tidak diperjualbelikan, melainkan dibagikan secara cuma-cuma kepada warga sebagai simbol kebersamaan dan semangat berbagi.
Ciri khas dari Selamatan Dahar Sareng terletak pada sajian kuliner khas “tempo dulu” yang menjadi identitas kuliner Poncokusumo. Setiap RW diwajibkan menghadirkan satu stand dengan menu makanan tradisional, sebuah pakem yang tetap dipertahankan dari tahun ke tahun meski jumlah stand bisa bertambah seiring waktu.
Proses persiapan acara ini melibatkan pendirian tenda atau stand sejak awal, lengkap dengan dekorasi, serta penyediaan makanan, minuman, jamu, dan buah-buahan. Peran ibu-ibu warga sangat krusial dalam tahap ini, sebab mereka yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan sumbangan bahan makanan yang akan dibawa ke stand masing-masing RW. Seluruh barang dan tenaga yang digunakan murni berasal dari swadaya warga, tanpa keterlibatan pihak luar. Dari segi partisipasi, setiap RW saling berlomba dalam mendekorasi stand serta menyajikan makanan dan minuman terbaik. Pada tahun-tahun genap, perayaan digelar dengan format lebih sederhana tanpa unsur perlombaan. Sebaliknya, pada tahun ganjil, seperti yang direncanakan pada 2027 acara akan digelar lebih meriah dengan sistem perlombaan antar-stand dan anggaran yang lebih besar dibandingkan penyelenggaraan tahun ini.
Tantangan Pendanaan
Di balik meriahnya acara, panitia mengakui tantangan terbesar dalam penyelenggaraan Selamatan Dahar Sareng adalah soal pendanaan. “Yang jelas semua itu ada hubungannya dengan dana. Kalau dananya sudah siap, kepanitiaan jadi lebih nyaman, lebih enak,” ujar salah satu Ketua Panitia. Meski demikian, antusiasme warga terhadap kegiatan ini terus terbukti dari tahun ke tahun. Bahkan, warga dari luar daerah Poncokusumo turut hadir dan berpartisipasi, sebagian di antaranya berperan sebagai pemantau kegiatan. Pembukaan stand oleh masing-masing RW dinilai menjadi wujud nyata dari semangat gotong royong masyarakat Poncokusumo, sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.