Cuplikan video produksi Tim Sapakawanan Project SMKN 3 Banjarmasin meraih juara pertama Lomba Video Kreatif Literasi Asuransi tingkat nasional. Foto ist.
Banjarmasin. EDUKASIA.ID – Tim Sapakawanan Project dari SMK Negeri 3 Banjarmasin meraih juara pertama Lomba Video Kreatif Literasi Asuransi tingkat nasional.
Tim yang beranggotakan siswa Program Keahlian Broadcasting dan Perfilman itu meraih penghargaan melalui video berjudul Investasi Boleh Jalan, tapi Proteksi Jangan Ketinggalan.
Kompetisi tersebut diselenggarakan dosen Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi (STMA) Trisakti dalam rangka Pengabdian kepada Masyarakat (PKM).
Sapakawanan Project terdiri atas Nafisah Almira, Muhammad Dhafa Al Rezkhi, Muhammad Pratama Riyadi, Muhammad Redha Febrianur, dan Muhammad Rezki. Seluruhnya merupakan siswa kelas XII A Broadcasting dan Perfilman SMKN 3 Banjarmasin.
Video tersebut mengangkat pentingnya perlindungan finansial melalui asuransi di tengah meningkatnya minat generasi muda terhadap investasi.
Proses pengambilan gambar dilakukan di kawasan Siring Menara Pandang Banjarmasin dan Puskesmas Kertak Hanyar. Tim menggunakan pendekatan visual yang komunikatif dan dekat dengan kehidupan generasi muda.
Dalam video itu, tim menjelaskan bahwa investasi perlu diimbangi dengan manajemen risiko, salah satunya melalui perlindungan asuransi.
Materi video disusun berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025. Tim juga mengenalkan prinsip pooling of risk atau berbagi risiko dalam asuransi.
Pesan utama yang disampaikan ialah ketahanan finansial tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengumpulkan aset, tetapi juga kesiapan melindungi aset ketika risiko tidak terduga datang.
Video tersebut juga mengajak masyarakat memastikan perusahaan asuransi yang dipilih telah terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Ketua tim, Nafisah Almira, mengaku tidak menyangka karya mereka mampu meraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi nasional tersebut.
“Saya sangat bersyukur dan bangga bisa mengikuti lomba ini. Melalui proses pembuatan video ini, saya belajar banyak bahwa menyampaikan literasi asuransi membutuhkan pendekatan yang relevan agar pesan utamanya benar-benar sampai ke hati penonton dan dapat dijadikan acuan untuk masa depan keuangan yang lebih aman,” ungkap Nafisah.
Ia berharap karya tersebut menjadi motivasi untuk terus berkarya sekaligus menginspirasi generasi muda dalam meningkatkan literasi dan kesadaran mengenai perlindungan finansial sejak dini.
“Semoga karya ini menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkarya, sekaligus menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, dalam meningkatkan literasi serta kesadaran akan pentingnya perlindungan finansial sejak dini,” katanya.
Nafisah juga menyampaikan terima kasih kepada penyelenggara, keluarga, dan guru pembimbing yang telah memberikan dukungan selama proses produksi.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada penyelenggara, keluarga, serta guru pembimbing yang telah memberikan wadah dan dukungan penuh selama proses pembuatan video ini,” lanjutnya.
Guru pembimbing sekaligus pengajar Program Keahlian Broadcasting dan Perfilman SMKN 3 Banjarmasin, M. Rizal, S.Pd., mengatakan capaian tersebut menjadi prestasi ke-28 dalam kurun waktu dua tahun sejak dirinya mengajar di sekolah itu.
“Tentu bersyukur atas capaian prestasi ke-28 ini dalam kurun waktu dua tahun sejak saya pertama kali mengajar di SMK Negeri 3 Banjarmasin,” ujarnya.
Menurutnya, prestasi tersebut semakin istimewa karena siswa SMK mampu bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
“Salah satu yang membuat prestasi ini semakin spesial adalah siswa SMK mampu bersaing dan bahkan menjadi juara di antara karya-karya dari berbagai kampus hebat di Indonesia,” katanya.
Ia menilai capaian itu membuktikan bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata di lapangan.
Anak-anak, lanjutnya, berani keluar dari lingkungan sekolah, melakukan proses syuting di berbagai lokasi, serta berinteraksi dengan masyarakat.
“Ini merupakan bukti bahwa pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata di lapangan. Anak-anak berani keluar dari lingkungan sekolah, melakukan proses syuting di berbagai lokasi, berinteraksi dengan masyarakat, dan hasilnya mereka berkembang dengan sangat baik,” jelasnya.
Proses produksi video menjadi ruang pembelajaran bagi siswa, mulai dari riset materi, penulisan naskah, penyusunan konsep visual, pengambilan gambar, hingga penyuntingan.
Seluruh tahapan dilakukan secara mandiri oleh siswa dengan pendampingan guru.
“Kami selalu mendorong siswa agar tidak hanya menguasai keterampilan teknis produksi film, tetapi juga mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai edukasi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tambah M. Rizal.
Menurutnya, kompetisi menjadi sarana untuk mengasah kreativitas siswa sekaligus menerapkan pembelajaran berbasis proyek di sekolah.
“Kompetisi seperti ini menjadi media yang sangat baik untuk mengasah kreativitas sekaligus mengimplementasikan pembelajaran berbasis proyek yang selama ini diterapkan di sekolah,” katanya.
Kompetisi tersebut diikuti peserta dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Sejumlah institusi yang masuk dalam daftar 10 besar antara lain STMA Trisakti, SMAN 66 Jakarta, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, Satu University, SMAN 1 Probolinggo, dan Universitas Negeri Jakarta.
Capaian tersebut memperkuat kiprah Program Keahlian Broadcasting dan Perfilman SMKN 3 Banjarmasin dalam menghasilkan karya audiovisual yang kompetitif dan memiliki nilai edukasi.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.