Yehezkiel Paudi. Foto Kemendikdasmen.
Jakarta, EDUKASIA.ID - Lahir dan besar di Malaysia tak membuat Yehezkiel Paudi kehilangan cita-cita untuk mengabdi kepada Indonesia.
Anak pekerja migran Indonesia ini justru mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan di Tanah Air melalui Program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) Repatriasi.
Yehezkiel lahir di Tawau, Sabah, Malaysia, pada 21 November 2008. Ia merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara, putra pasangan pekerja migran Indonesia asal Toraja, Sulawesi Selatan, Paudi Patasik dan Sarlota Taruk.
Sejak kecil, Malaysia menjadi tempat Yehezkiel menjalani kehidupan. Namun, cerita tentang Indonesia sebagai tanah air selalu dibawa kedua orang tuanya.
Kedua orang tuanya bekerja di Malaysia karena kondisi ekonomi. Sang ibu bekerja sebagai asisten rumah tangga, sedangkan ayahnya menjadi buruh.
Kehidupan Yehezkiel berubah ketika ia masih duduk di kelas dua SD. Ayahnya meninggal dunia setelah berjuang melawan penyakit.
Sejak saat itu, sang ibu menjadi tumpuan keluarga. Perjuangan ibunya membuat Yehezkiel bertekad untuk membalas pengorbanan tersebut.
Ia ingin suatu hari dapat membanggakan ibunya dan membawanya pulang ke Indonesia tanpa harus kembali menjadi pekerja migran.
Pendidikan Yehezkiel ditempuh di Community Learning Center (CLC) Holy Trinity, salah satu sekolah Indonesia luar negeri di Sabah yang memberikan akses pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia.
Selama bersekolah, ia tidak hanya fokus pada kegiatan akademik. Yehezkiel aktif dalam organisasi dan dipercaya menjadi Ketua OSIS periode 2024-2025.
Pengalaman tersebut membuatnya belajar mengenai kepemimpinan, kerja sama, penyelesaian masalah, hingga kemampuan berbicara di depan umum.
Ia juga mendapat kesempatan menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) Konsulat Republik Indonesia di Tawau saat peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Latihan yang dipandu pasukan TNI memperkenalkannya pada kedisiplinan, kerja keras, ketangguhan mental, dan nasionalisme.
Meski tumbuh di luar Indonesia, momen pengibaran Merah Putih menjadi pengalaman yang membekas baginya.
Lulusan Terbaik
Kerja keras Yehezkiel selama menempuh pendidikan membuahkan hasil. Pada kelulusan, ia dinobatkan sebagai lulusan terbaik di angkatannya.Ia juga dipercaya menyampaikan pidato perpisahan. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak teman-temannya menghargai setiap proses yang dilalui untuk mencapai keberhasilan.
Namun, kelulusan dari CLC bukan menjadi akhir perjalanan pendidikannya.
Yehezkiel kemudian mengikuti seleksi Program ADEM Repatriasi. Program tersebut memberikan kesempatan kepada anak-anak pekerja migran Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia.
Ia akhirnya ditetapkan sebagai penerima Beasiswa ADEM dan ditempatkan di SMA Negeri Arjasa, Jember, Jawa Timur.
Bagi Yehezkiel, kesempatan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan hidupnya. Beasiswa ADEM tidak hanya membantunya melanjutkan pendidikan, tetapi juga menjadi bentuk perhatian negara kepada anak-anak Indonesia yang tumbuh di luar negeri.
Kembali ke Indonesia ternyata menghadirkan tantangan tersendiri.
Meski berstatus sebagai warga negara Indonesia, Yehezkiel sempat merasa seperti orang asing di negeri sendiri. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, logat bahasa, kebiasaan masyarakat, hingga makanan yang berbeda dari apa yang selama ini dikenalnya di Malaysia.
Kerinduan kepada ibu yang masih bekerja di Malaysia juga menjadi tantangan. Keduanya hanya dapat saling menguatkan melalui sambungan telepon.
Saat keinginan untuk menyerah muncul, Yehezkiel kembali mengingat perjuangan ibunya.
Perlahan, ia mulai beradaptasi dengan kehidupan barunya di SMA Negeri Arjasa. Dukungan para guru turut membantunya melewati masa tersebut.
Para guru tidak hanya memberikan pelajaran di kelas, tetapi juga terus mendorongnya agar melihat setiap kesulitan sebagai bagian dari perjalanan menuju keberhasilan.
Ingin Jadi Diplomat
Sebagai penerima Beasiswa ADEM, Yehezkiel merasa memiliki tanggung jawab untuk memanfaatkan kesempatan tersebut sebaik mungkin.Ia berusaha lebih giat belajar, aktif dalam berbagai kegiatan sekolah, dan mengembangkan kemampuan yang dimilikinya.
Cita-citanya pun sudah ditetapkan. Yehezkiel ingin menjadi diplomat.
Ia ingin suatu hari dapat mewakili Indonesia di dunia internasional, membangun hubungan dengan negara lain, sekaligus memperjuangkan kepentingan warga negara Indonesia yang berada di luar negeri.
Pengalaman pribadinya membuat perhatian khususnya tertuju kepada anak-anak pekerja migran yang memiliki keterbatasan akses pendidikan.
“Bermimpilah setinggi langit, karena mimpi tidak pernah mengenal batas negara.”
Kalimat tersebut menjadi pegangan Yehezkiel ketika menghadapi berbagai kesulitan.
Ia percaya banyak anak pekerja migran Indonesia lainnya yang memiliki mimpi besar. Menurutnya, mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk membuktikan kemampuan.
Bagi Yehezkiel, pendidikan merupakan kesempatan untuk mengubah masa depan. Ia ingin membuktikan bahwa tempat kelahiran bukanlah batas bagi seseorang untuk meraih cita-cita.
Perjalanannya masih panjang. Setiap langkah yang ditempuhnya kini menjadi bentuk penghormatan kepada sang ayah sekaligus ungkapan terima kasih kepada ibunya.
Ia berharap suatu hari nanti dapat kembali dan membawa kebanggaan bagi keluarga.
Sebab bagi Yehezkiel, pendidikan tidak hanya mampu mengubah kehidupan seorang anak. Pendidikan juga dapat mengubah masa depan keluarga, bahkan masa depan bangsa.




Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.