NU yang Dirindukan Warga; Harapan Akar Rumput Nahdliyyin

Moh. Miftahul Arief
0


Penulis: Fatah Syukur, Anggota NU Ranting Wonolopo Mijen Semarang, Dekan Fakultas SAINTEK UIN Walisongo.

EDUKASIA.ID - Ada sebuah NU yang selalu hidup dalam ingatan dan kerinduan warga Nahdliyin. NU yang hadir bukan hanya melalui gedung-gedung besar, forum-forum nasional, atau pertemuan para elite organisasi, tetapi NU yang terasa dekat di mushola-mushola kampung, di masjid-masjid desa, di pesantren-pesantren kecil, di majelis taklim ibu-ibu, di pengajian bapak-bapak, di antara para petani, pedagang, guru ngaji, buruh, nelayan, santri, dan keluarga-keluarga sederhana.

Bagi sebagian besar warga NU kelas bawah—atau lebih tepat disebut sebagai warga NU akar rumput—NU bukan sekadar organisasi. NU adalah rumah besar tempat mereka menemukan tradisi keagamaan, persaudaraan, ketenteraman, dan identitas sosial. Mereka mungkin tidak terlalu memahami dinamika politik organisasi di tingkat pusat. Mereka juga tidak selalu mengikuti perdebatan di media sosial tentang siapa yang berkompetisi, siapa yang menang, dan siapa yang kalah. Yang mereka tahu sederhana: NU harus tetap menjadi tempat pulang.

Karena itu, terpilihnya KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031 membawa harapan baru bagi warga NU. Keduanya ditetapkan melalui mekanisme AHWA dan musyawarah mufakat dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Pergantian kepemimpinan itu hendaknya tidak sekadar dimaknai sebagai pergantian figur, tetapi sebagai momentum untuk menghadirkan kembali wajah NU yang dirindukan oleh umat.

Kembali kepada Ruh Khidmah


NU sejak awal berdirinya bukanlah organisasi yang dibangun untuk mengejar kekuasaan. NU lahir dari rahim pesantren, dari kegelisahan para ulama terhadap persoalan keumatan, serta dari semangat menjaga agama, tradisi, bangsa, dan kemaslahatan masyarakat.

Karena itu, harapan pertama warga akar rumput kepada duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin adalah agar NU kembali memperkuat ruh khidmah.

Kata khidmah mungkin sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung filosofi yang sangat dalam. Khidmah berarti melayani, mengabdi, dan memberikan manfaat. Dalam perspektif warga NU bawah, semakin tinggi jabatan seseorang dalam struktur organisasi, seharusnya semakin besar pula tanggung jawab pengabdiannya.

Warga tidak terlalu membutuhkan NU yang sibuk menunjukkan kebesaran dirinya. Mereka membutuhkan NU yang dirasakan manfaatnya. Mereka membutuhkan NU yang membantu ketika anaknya kesulitan sekolah. Mereka membutuhkan NU yang memperkuat madrasah dan pesantren. Mereka membutuhkan NU yang hadir ketika ekonomi keluarga sedang sulit. Mereka membutuhkan NU yang membela guru ngaji, memperhatikan kesejahteraan kader, memperkuat masjid dan musala, serta memberikan pendampingan kepada warga yang menghadapi persoalan sosial.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan kepemimpinan PBNU ke depan bukan semata-mata berapa banyak program yang dibuat, berapa banyak seminar yang diselenggarakan, atau berapa banyak dokumen kebijakan yang diterbitkan. Ukuran yang lebih substantif adalah: seberapa jauh warga merasakan bahwa NU hadir dan memberikan maslahat dalam kehidupan mereka.

NU yang Dekat dengan Warganya


Harapan kedua adalah lahirnya NU yang lebih dekat dengan akar rumput. Ada kalanya organisasi besar menghadapi persoalan klasik: semakin besar struktur, semakin jauh pula jarak antara pusat organisasi dengan warga di tingkat bawah. PBNU berada di Jakarta, PWNU berada di provinsi, PCNU berada di kabupaten/kota, MWCNU berada di kecamatan, dan ranting berada di desa atau kelurahan. Namun, jangan sampai jarak administratif tersebut berubah menjadi jarak emosional. Justru ranting NU harus menjadi ujung tombak perkhidmatan.

PBNU perlu mendengar suara ranting. Para pengurus di tingkat pusat perlu mengetahui bagaimana sesungguhnya kehidupan warga NU di desa-desa. Apa yang mereka butuhkan? Apa yang menjadi kesulitan mereka? Bagaimana nasib madrasah diniyah? Bagaimana keberlangsungan TPQ? Bagaimana kondisi guru ngaji? Bagaimana masa depan anak-anak muda NU? Bagaimana UMKM warga Nahdliyin? Bagaimana kondisi pesantren kecil yang hidup dengan segala keterbatasannya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu jauh lebih penting bagi warga daripada sekadar hiruk-pikuk politik organisasi.Karena NU yang kuat sesungguhnya bukan NU yang kuat di pusat, tetapi NU yang kuat sampai ke ranting-rantingnya.

Kalau ranting hidup, NU hidup. Kalau MWC kuat, NU kuat. Kalau pesantren berkembang, madrasah maju, kader muda tumbuh, dan ekonomi warga bergerak, maka sesungguhnya NU sedang membangun peradaban dari bawah.

KH Miftachul Akhyar: Menjaga Ruh dan Marwah Keulamaan


Dalam duet kepemimpinan baru ini, sosok KH Miftachul Akhyar diharapkan menjadi penjaga ruh keulamaan dan marwah organisasi. Rais Aam bukan sekadar jabatan struktural. Ia adalah simbol kepemimpinan moral dan keagamaan. Karena itu, warga NU berharap KH Miftachul Akhyar dapat menjadi teduhnya NU, tempat semua kalangan dapat mencari nasihat dan orientasi.

Di tengah dunia yang semakin bising, masyarakat membutuhkan suara ulama yang menenangkan. Di tengah media sosial yang penuh dengan pertengkaran, masyarakat membutuhkan teladan yang menunjukkan adab. Di tengah politik identitas yang mudah memecah masyarakat, umat membutuhkan kepemimpinan yang mengajarkan persaudaraan. Dan di tengah perubahan zaman yang sangat cepat, warga membutuhkan ulama yang mampu menjelaskan bagaimana tradisi keislaman NU dapat tetap relevan tanpa kehilangan akar dan jati dirinya.

Karena itu, harapan besar kepada KH Miftachul Akhyar adalah agar beliau dapat menjadi jangkar spiritual NU: menjaga agar NU tidak kehilangan arah ketika menghadapi perubahan zaman.

Tradisi tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal harus terus hidup bukan hanya sebagai slogan, tetapi menjadi karakter nyata dalam kehidupan organisasi.

Gus Kikin: Manajerial, Konsolidasi, dan Energi Baru


Sementara itu, kepada Gus Kikin, warga berharap lahir energi baru dalam menggerakkan organisasi. Sebagai Ketua Umum, Gus Kikin mempunyai tanggung jawab besar dalam mengonsolidasikan organisasi dan menerjemahkan nilai-nilai keulamaan ke dalam program nyata. Profil Gus Kikin sendiri tidak jauh dari tradisi pesantren dan NU; ia dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan sebelumnya menjabat Ketua PWNU Jawa Timur.

Di sinilah duet kepemimpinan ini memiliki peluang besar.KH Miftachul Akhyar menjaga ruhnya; Gus Kikin menggerakkan langkahnya. KH Miftachul Akhyar memberikan orientasi moral dan keulamaan; Gus Kikin menerjemahkannya dalam tata kelola organisasi, program, kaderisasi, dan pelayanan umat.

Keduanya dapat menjadi pasangan kepemimpinan yang saling melengkapi: ulama dan manajer, tradisi dan inovasi, keteduhan dan gerakan, kebijaksanaan dan eksekusi.

Jika sinergi tersebut berjalan baik, PBNU dapat memasuki fase baru yang lebih solid, lebih tertata, dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Jangan Lupakan Warga NU Kelas Bawah


Ada satu harapan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendasar: jangan lupakan warga NU kelas bawah. Mereka adalah mayoritas. Mereka mungkin tidak memiliki jabatan dalam struktur organisasi. Mereka tidak selalu hadir dalam forum-forum nasional. Nama mereka mungkin tidak pernah muncul di media. Tetapi merekalah yang setiap malam menghidupkan masjid dan mushola. Merekalah yang menghadiri pengajian. Merekalah yang mengadakan tahlilan, yasinan, manaqiban, istighasah, shalawatan, dan berbagai tradisi keagamaan NU.

Mereka pula yang menjadi penyambung tradisi NU dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, jangan sampai NU menjadi besar secara kelembagaan tetapi terasa jauh secara sosial. Jangan sampai gedung NU semakin megah, tetapi ranting-rantingnya semakin lemah. Jangan sampai program semakin banyak, tetapi guru ngaji semakin kesulitan. Jangan sampai organisasi semakin modern, tetapi pesantren kecil justru semakin tertinggal. Dan jangan sampai NU berbicara tentang peradaban dunia, tetapi persoalan sederhana warga di kampung tidak terdengar.

NU harus mampu membangun peradaban dari bawah.


Kaderisasi: Jangan Hanya Mencari Pengurus, tetapi Menyiapkan Pewaris Harapan berikutnya adalah penguatan kaderisasi. NU memiliki sejarah panjang kaderisasi melalui pesantren, madrasah, perguruan tinggi, IPNU, IPPNU, PMII, Ansor, Fatayat, Muslimat, dan berbagai lembaga serta badan otonom lainnya. Namun, tantangan generasi muda hari ini berbeda.

Mereka hidup dalam dunia digital, kecerdasan buatan, media sosial, ekonomi kreatif, dan perubahan sosial yang sangat cepat. Karena itu, kader NU masa depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca kitab. Ia juga harus memiliki literasi teknologi, kemampuan berpikir kritis, kemampuan berorganisasi, kewirausahaan, kepemimpinan, dan wawasan global.

Tetapi modernitas tersebut harus tetap berakar pada akhlak dan tradisi keilmuan pesantren. Inilah tantangan besar NU: melahirkan generasi yang modern tanpa tercerabut dari tradisi; terbuka terhadap dunia tetapi tetap kokoh dalam nilai; menguasai teknologi tetapi tidak kehilangan spiritualitas.

Duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin diharapkan mampu menjadikan kaderisasi sebagai agenda strategis jangka panjang, bukan sekadar program rutin organisasi.

NU dan Kemaslahatan Bangsa


Harapan warga NU tidak berhenti pada persoalan internal organisasi. NU adalah bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia. Karena itu, NU harus terus menjadi kekuatan moral yang menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

NU tidak harus menjadi organisasi politik untuk dapat berkontribusi dalam politik kebangsaan. Justru kekuatan NU akan semakin besar apabila ia mampu menjaga jarak yang sehat dari kepentingan politik praktis, sekaligus tetap aktif memberikan pandangan moral terhadap persoalan kebangsaan.

Pernyataan Gus Kikin setelah terpilih sebagai Ketua Umum bahwa NU merupakan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, bukan organisasi untuk berpolitik, memberikan sinyal penting tentang orientasi tersebut.

Warga akar rumput tentu berharap sikap tersebut diterjemahkan dalam kebijakan nyata. NU harus menjadi rumah bagi semua warga bangsa. NU harus dapat berdialog dengan pemerintah tanpa kehilangan daya kritis. NU harus dapat bekerja sama dengan berbagai kelompok masyarakat tanpa kehilangan prinsip. NU harus dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan tanpa berubah menjadi alat kekuasaan.

Dengan demikian, NU dapat menjalankan politik kebangsaan dalam pengertian yang lebih luhur: politik kemaslahatan, politik kebijaksanaan, dan politik kebangsaan yang berpihak kepada kepentingan rakyat.

Ekonomi Umat: Dari Doa Menuju Kemandirian


Salah satu persoalan yang paling dirasakan warga akar rumput adalah ekonomi. Banyak warga NU yang hidup dari sektor informal: pedagang kecil, petani, nelayan, buruh, pengusaha mikro, guru, dan pekerja dengan penghasilan terbatas. NU memiliki potensi ekonomi yang sangat besar karena jumlah warganya demikian luas. Namun potensi tersebut harus dikonsolidasikan secara profesional.

Harapannya, PBNU ke depan dapat semakin serius mengembangkan ekosistem ekonomi warga: koperasi, UMKM, wakaf produktif, zakat, pesantrenpreneur, digitalisasi usaha, penguatan rantai pasok, hingga akses pembiayaan.

Warga tidak hanya membutuhkan ceramah tentang pentingnya kemandirian ekonomi. Mereka membutuhkan pendampingan untuk menjadi mandiri secara ekonomi. Inilah bentuk dakwah yang sangat konkret.

Ketika seorang pedagang kecil dapat mengembangkan usahanya, ketika seorang petani mendapatkan akses pasar yang lebih baik, ketika santri mampu menjadi pengusaha, ketika pesantren mampu mengembangkan unit usaha produktif, sesungguhnya NU sedang menjalankan dakwah bil-hal.

NU sebagai Rumah Besar yang Teduh


Pada akhirnya, harapan terbesar warga akar rumput mungkin sangat sederhana: jangan biarkan NU kehilangan keteduhannya. Warga NU ingin memiliki rumah besar yang tidak mudah bertengkar. Mereka ingin melihat para kiai saling menghormati. Mereka ingin melihat para pengurus saling menguatkan. Mereka ingin melihat perbedaan pendapat diselesaikan melalui musyawarah.

Mereka ingin melihat NU menjadi contoh bagaimana sebuah organisasi besar dapat mengelola perbedaan dengan adab. Bukankah salah satu kekuatan terbesar NU selama ini adalah kemampuan menjaga tradisi musyawarah, menghormati ulama, dan merawat keragaman?

Karena itu, kepemimpinan baru harus mampu melakukan rekonsiliasi dan konsolidasi. Tidak ada lagi kelompok yang merasa kalah dan kelompok yang merasa menang. Muktamar telah selesai. Kompetisi telah berakhir. Kini saatnya semua kembali menjadi satu keluarga besar.

Yang menang bukan KH Miftachul Akhyar. Yang menang bukan Gus Kikin. Yang menang adalah NU. Dan lebih jauh lagi, yang harus menang adalah kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia.

Menjadikan NU Lebih Baik


Duet KH Miftachul Akhyar–Gus Kikin tentu menghadapi pekerjaan yang tidak ringan. Mereka akan berhadapan dengan perubahan sosial yang cepat, tantangan ekonomi, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan generasi, dinamika politik nasional, dan berbagai persoalan keumatan yang semakin kompleks.

Tetapi NU memiliki modal yang luar biasa besar: ulama, pesantren, madrasah, perguruan tinggi, badan otonom, lembaga, jaringan sosial, dan terutama jutaan warga yang memiliki ikatan emosional yang kuat dengan NU. Modal terbesar itu harus disatukan.

Karena itu, harapan warga akar rumput kepada kepemimpinan baru bukanlah sesuatu yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin NU lebih dekat, lebih teduh, lebih kuat, lebih mandiri, lebih profesional, lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih bermanfaat.

NU tidak harus menjadi organisasi yang paling keras suaranya. NU cukup menjadi organisasi yang paling terasa manfaatnya.Tidak harus selalu tampil di panggung. Yang penting hadir di tengah masyarakat. Tidak harus mengejar kebesaran. Yang penting mampu memberikan kemaslahatan.Sebab hakikat organisasi keagamaan bukanlah seberapa tinggi ia berdiri, tetapi seberapa banyak manusia yang tertolong oleh keberadaannya.

NU yang Dirindukan


Akhirnya, NU yang dirindukan warga adalah NU yang kembali kepada akar sejarahnya: NU yang lahir dari pesantren, tumbuh bersama masyarakat, dibimbing para ulama, dan mengabdi kepada bangsa.

NU yang mengajarkan Islam dengan kelembutan. NU yang menjaga tradisi tanpa anti terhadap inovasi. NU yang mencintai Indonesia tanpa kehilangan identitas keislamannya. NU yang kritis terhadap kekuasaan tanpa menjadi musuh pemerintah. NU yang mampu bekerja sama dengan siapa pun tanpa kehilangan prinsip. NU yang membangun ekonomi umat tanpa meninggalkan kaum miskin. NU yang menguasai teknologi tanpa kehilangan adab. NU yang berbicara tentang masa depan tanpa melupakan akar sejarahnya. Dan terutama, NU yang selalu membuat warga kecil merasa: “NU iku duweke aku.” NU itu milik saya. Bukan milik elite.Bukan milik kelompok tertentu. Bukan milik mereka yang memiliki jabatan. Tetapi milik seluruh warga Nahdliyin.

Karena itu, kepada KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin, warga NU akar rumput menitipkan harapan yang sederhana namun sangat dalam: bawalah NU menjadi organisasi yang lebih baik, lebih maslahat, lebih menenteramkan umat, dan lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Jadikan lima tahun ke depan bukan sekadar periode kepengurusan, tetapi periode kebangkitan khidmah. Jadikan PBNU bukan hanya pusat administrasi organisasi, tetapi pusat inspirasi, keteladanan, dan pelayanan umat.

Dan jadikan NU sebagai kekuatan moral yang terus meneguhkan bahwa Islam yang ramah, Islam yang moderat, Islam yang berakar pada tradisi keilmuan pesantren, dan Islam yang mencintai bangsa adalah Islam yang mampu menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin dalam mengemban amanah ini. Semoga keduanya mampu menyatukan seluruh potensi Nahdlatul Ulama.

Semoga NU semakin dekat dengan warganya, semakin kuat menjaga agama, semakin besar kontribusinya bagi bangsa, dan semakin nyata kemaslahatannya bagi masyarakat.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top