Arief Ajie Pamungkas Emnoor berfoto bersama keluarga usai dinyatakan lulus dan meraih gelar doktor dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang, Senin (28/9/2026). Foto IST
Semarang. EDUKASIA.ID - Di tengah kesibukannya sebagai dosen dan pengemudi taksi online, Arief Ajie Pamungkas Emnoor berhasil meraih gelar doktor dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam UIN Walisongo Semarang pada Senin 28 September 2026.
Keberhasilan tersebut menjadi buah dari perjuangan panjangnya menyeimbangkan peran sebagai akademisi, kepala keluarga, sekaligus pencari nafkah tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Siang hari mengajar, malam hari mencari penumpang. Rutinitas itulah yang dijalani Arief Ajie Pamungkas Emnoor selama menempuh pendidikan doktoral sambil merantau bersama istri dan anak di Kota Cirebon.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dosen inspiratif tersebut tidak hanya mengandalkan penghasilannya sebagai dosen. Di sela-sela aktivitas mengajar dan menyelesaikan studi, ia juga bekerja sebagai pengemudi taksi online.
"Prinsip saya, keluarga adalah segala-galanya. Saya harus bertanggung jawab tanpa mengorbankan pihak mana pun, baik keluarga maupun tempat kerja," ujar Arief.
Keputusan tersebut diambil karena kebutuhan hidup keluarga harus tetap terpenuhi. Karena itu, waktu luang di luar aktivitas kampus dimanfaatkannya untuk mencari penumpang.
Pilihan menjadi pengemudi taksi online tidak pernah dianggapnya sebagai sesuatu yang memalukan.
"Capek sih iya, namun malu tidak, karena saya bekerja mencari nafkah dengan cara halal. Teman-teman justru mensupport," katanya.
Menjalani peran sebagai dosen, mahasiswa doktoral, kepala keluarga, sekaligus pengemudi taksi online tentu bukan perkara mudah. Waktu bersama keluarga harus dibagi dengan pekerjaan dan studi. Sejumlah rencana pribadi maupun keluarga juga harus ditunda.
Pada ujian terbuka promosi doktor yang digelar di Ruang Promosi Doktor Lantai 3 Kampus 1 UIN Walisongo Semarang, Arief mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji.
Sidang yang digelar di Ruang Promosi Doktor Lantai 3 Kampus 1 UIN Walisongo itu dipimpin Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. selaku ketua sidang dan Prof. Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag. sebagai sekretaris sidang menobatkannya sebagai doktor ke 452 UIN Walisongo.
Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. H. Awaludin Pimay, Lc., M.Ag., Dr. Agus Riyadi, S.Sos.I., M.S.I., Dr. Arief Rachman, M.S.I., Dr. Hj. Siti Solikhati, M.A., Dr. Hatta Abdul Malik, S.Sos.I., M.Si., dan Dr. Sulistio, S.Ag., M.Si.
Dalam promosi doktor tersebut, Arief mempertahankan disertasi berjudul Retorika Dakwah Digital: Studi Kasus Habib Jindan.
Penelitian itu bertujuan menganalisis eksistensi dakwah Habib Jindan di tengah kontroversi terkait nasab habaib, mengkaji retorika dakwah digital yang digunakannya, mengidentifikasi faktor-faktor di luar kerangka retorika klasik, serta merumuskan model retorika dakwah digital berdasarkan temuan penelitian.
Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data penelitian bersumber dari video ceramah Habib Jindan yang diunggah melalui kanal YouTube Al-Fachriyah periode 2016-2026 dan akun Instagram @alhabibjindan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi dakwah Habib Jindan dipertahankan melalui rekonstruksi nasab sebagai amanah dan tanggung jawab moral, penguatan otoritas keilmuan dan moral, kritik internal, serta kontekstualisasi kontroversi sebagai materi dakwah.
Arief menemukan bahwa retorika dakwah Habib Jindan dibangun melalui integrasi unsur ethos, pathos, dan logos yang menghasilkan komunikasi otoritatif, emosional, argumentatif, dan adaptif.
Selain itu, analisis terhadap empat video yang menjadi objek penelitian menunjukkan penerapan lima kanon retorika klasik secara sistematis, yaitu inventio atau penemuan gagasan, dispositio atau penyusunan materi, elocutio atau gaya bahasa, memoria atau penguasaan materi, serta pronuntiatio/actio atau penyampaian pesan.
Salah satu temuan penting dalam penelitian tersebut adalah adanya dua faktor yang dinilai melampaui kerangka retorika klasik, yakni otoritas sanadiyah dan otoritas barakah.
Otoritas sanadiyah merujuk pada legitimasi yang diperoleh melalui kesinambungan sanad keilmuan seorang pendakwah. Sementara itu, otoritas barakah merujuk pada legitimasi spiritual yang tumbuh dari keyakinan jamaah terhadap keberkahan amalan maupun majelis yang diikutinya.
Menurut Arief, kedua faktor tersebut berperan dalam membentuk penerimaan jamaah terhadap dakwah digital. Atas dasar temuan itu, ia merumuskan Model Retorika Dakwah Sanadiyah-Barakah.
Model tersebut memperluas pemahaman retorika dakwah yang selama ini lebih banyak bertumpu pada persuasi rasional dan emosional. Dalam model ini, legitimasi keilmuan dan keyakinan spiritual menjadi bagian yang turut membentuk efektivitas komunikasi dakwah di ruang digital.
Arief berharap, temuan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian retorika dakwah Islam, khususnya dalam memahami dinamika otoritas keagamaan dan komunikasi dakwah di era media digital.
Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag., menilai disertasi Arief mengangkat tema yang relevan dengan perkembangan dakwah kontemporer.
"Temuan Mas Arief yang menekankan pentingnya penyesuaian retorika dakwah di era digital sangat penting," ujarnya.
Menurut Muhyar, dakwah saat ini dituntut lebih kreatif dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi.
"Dakwah di era ini memang harus lebih kreatif, responsif, dialektis, instant access, dan memanfaatkan berbagai sarana teknologi baik audio, video, maupun pelibatan AI agar lebih menarik," katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak boleh mengorbankan kualitas dan akurasi pesan dakwah.
"Dakwah di era digital tetap harus memegang prinsip tashdiq, yaitu memastikan akurasi konten dan tidak terjebak pada tashawwur yang hanya menampilkan narasi dangkal, apalagi sekadar pencitraan dan mengejar followers," tegasnya.
Teliti Dakwah Digital Habib Jindan
Dalam promosi doktor tersebut, Arief mempertahankan disertasi berjudul Retorika Dakwah Digital: Studi Kasus Habib Jindan.
Penelitian itu bertujuan menganalisis eksistensi dakwah Habib Jindan di tengah kontroversi terkait nasab habaib, mengkaji retorika dakwah digital yang digunakannya, mengidentifikasi faktor-faktor di luar kerangka retorika klasik, serta merumuskan model retorika dakwah digital berdasarkan temuan penelitian.
Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data penelitian bersumber dari video ceramah Habib Jindan yang diunggah melalui kanal YouTube Al-Fachriyah periode 2016-2026 dan akun Instagram @alhabibjindan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksistensi dakwah Habib Jindan dipertahankan melalui rekonstruksi nasab sebagai amanah dan tanggung jawab moral, penguatan otoritas keilmuan dan moral, kritik internal, serta kontekstualisasi kontroversi sebagai materi dakwah.
Arief menemukan bahwa retorika dakwah Habib Jindan dibangun melalui integrasi unsur ethos, pathos, dan logos yang menghasilkan komunikasi otoritatif, emosional, argumentatif, dan adaptif.
Selain itu, analisis terhadap empat video yang menjadi objek penelitian menunjukkan penerapan lima kanon retorika klasik secara sistematis, yaitu inventio atau penemuan gagasan, dispositio atau penyusunan materi, elocutio atau gaya bahasa, memoria atau penguasaan materi, serta pronuntiatio/actio atau penyampaian pesan.
Temukan Otoritas Sanadiyah dan Barakah
Salah satu temuan penting dalam penelitian tersebut adalah adanya dua faktor yang dinilai melampaui kerangka retorika klasik, yakni otoritas sanadiyah dan otoritas barakah.
Otoritas sanadiyah merujuk pada legitimasi yang diperoleh melalui kesinambungan sanad keilmuan seorang pendakwah. Sementara itu, otoritas barakah merujuk pada legitimasi spiritual yang tumbuh dari keyakinan jamaah terhadap keberkahan amalan maupun majelis yang diikutinya.
Menurut Arief, kedua faktor tersebut berperan dalam membentuk penerimaan jamaah terhadap dakwah digital. Atas dasar temuan itu, ia merumuskan Model Retorika Dakwah Sanadiyah-Barakah.
Model tersebut memperluas pemahaman retorika dakwah yang selama ini lebih banyak bertumpu pada persuasi rasional dan emosional. Dalam model ini, legitimasi keilmuan dan keyakinan spiritual menjadi bagian yang turut membentuk efektivitas komunikasi dakwah di ruang digital.
Arief berharap, temuan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian retorika dakwah Islam, khususnya dalam memahami dinamika otoritas keagamaan dan komunikasi dakwah di era media digital.
Dakwah Digital Harus Kreatif dan Adaptif
Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Muhyar Fanani, M.Ag., menilai disertasi Arief mengangkat tema yang relevan dengan perkembangan dakwah kontemporer.
"Temuan Mas Arief yang menekankan pentingnya penyesuaian retorika dakwah di era digital sangat penting," ujarnya.
Menurut Muhyar, dakwah saat ini dituntut lebih kreatif dan mampu memanfaatkan perkembangan teknologi.
"Dakwah di era ini memang harus lebih kreatif, responsif, dialektis, instant access, dan memanfaatkan berbagai sarana teknologi baik audio, video, maupun pelibatan AI agar lebih menarik," katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi tidak boleh mengorbankan kualitas dan akurasi pesan dakwah.
"Dakwah di era digital tetap harus memegang prinsip tashdiq, yaitu memastikan akurasi konten dan tidak terjebak pada tashawwur yang hanya menampilkan narasi dangkal, apalagi sekadar pencitraan dan mengejar followers," tegasnya.





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.