Andrea Sempat Buang Draft Skripsi, Kini Jadi Wisudawan Terbaik Unesa

Arifah
0

Wisudawan terbaik Unesa Andrea Shifani. Foto Unesa.

SURABAYA, EDUKASIA.ID - Bagi Andrea Shifani, perjalanan menuntaskan kuliah di Fakultas Psikologi (Fpsi) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) bukanlah jalan tol yang mulus.

Di balik predikat wisudawan terbaik dan IPK 3,91 yang diraihnya, ada masa-masa sunyi ketika mahasiswi penerima beasiswa asal Jombang ini merasa tertinggal jauh di belakang kawan-kawannya.

Titik terberat itu datang di tahun terakhir perkuliahan. Saat teman-teman seangkatannya sudah sibuk menyusun bab-bab akhir skripsi, proposal penelitian Andrea justru harus dirombak total usai seminar.

Ia terpaksa membuang seluruh draft awalnya dan membangun kembali penelitian dari titik nol untuk membedah fenomena sosial yang mengusik nuraninya: bagaimana luka fatherless (ketidakhadiran sosok ayah) membayangi ketakutan perempuan muda terhadap pernikahan (marriage is scary).

Rasa cemas dan tekanan batin sempat membuatnya goyah. Di tengah perasaan terisolasi karena harus merintis ulang arah, Andrea memilih berdamai dengan keadaan dan tidak membandingkan langkahnya dengan orang lain.

“Enggak harus target yang besar. Dari target kecil ke target besar itu juga sudah bagus,” kenang Andrea tentang caranya bertahan dan merayap sedikit demi sedikit.

Ujian tidak berhenti di ruang seminar. Ketika mendapat kesempatan berharga untuk magang sebagai asisten psikolog di RS Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang, Malang, Andrea sempat berniat mundur. Masalahnya klasik namun nyata bagi keluarga sederhana: keterbatasan biaya operasional dan ongkos hidup di luar kota.

Di momen krusial itulah, sang ibu berdiri menjadi benteng utamanya. Sang ibu menolak membiarkan keterbatasan ekonomi memadamkan mimpi anaknya, lalu mendorong Andrea untuk tetap berangkat menghadapi realitas dunia klinis dan pasien jiwa secara langsung.

Dukungan emosional dari rumah serta rasa tanggung jawab moral sebagai penerima beasiswa mematangkan mentalitas Andrea. Ia menata masa kuliahnya dengan disiplin sederhana: mendedikasikan tahun pertama untuk fondasi akademik, tahun kedua dan ketiga untuk berani tampil di konferensi internasional, hingga tahun keempat untuk terjun ke masyarakat dan menuntaskan studi.

Prinsip hidupnya tidak muluk-muluk. Andrea mengaku bukan siswa paling mencolok atau paling vokal di kelas, namun ia memegang teguh kedisiplinan untuk terus hadir, rajin, dan konsisten.

Keberhasilan Andrea Shifani menjadi bukti nyata bahwa prestasi tertinggi tidak selalu lahir dari kemudahan, melainkan dari keteguhan hati seorang anak daerah yang berani memulai kembali dari awal setiap kali dijatuhkan keadaan

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top