Pancasila di Kota Wali: dari Grebeg Besar hingga Dapur Umum Banjir

Redaksi
0

Oleh: Muhammad Fairuz Abad, Mahasiswa PJJ Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

EDUKASIA.ID - Apa gunanya hafal lima sila kalau di tenda pengungsian kita tidak tahu cara membantu tetangga? Demak megah dalam upacara tahunan, tetapi ujian Pancasila yang sebenarnya justru terjadi di tenda pengungsian. Dari pelosok kota Demak yang tepatnya berada di Kecamatan Guntur Desa Trimulyo penulis berada. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Grobogan yang mana kacamata penulis terbuka.

Pada pertengahan Februari 2024, jumlah pengungsi korban banjir di Demak tercatat mencapai 25.518 jiwa (Kowad Kodam IV/Diponegoro Sumbang 10 Ribu Nasi Bungkus kepada Korban Banjir Demak, n.d.). Angka itu bisa dibaca sebagai statistik bencana. Namun, di baliknya ada cerita lain: ribuan orang yang tidak dibiarkan menghadapi musibah sendirian. Ada yang memasak, ada yang menarik perahu, ada yang membawa obat. Tidak ada yang membuka buku PPKn untuk melakukannya, tetapi di situlah Pancasila bekerja.

Pancasila sering dipelajari sebatas hafalan, padahal nilainya paling terasa ketika dipraktikkan. Penelitian Shofa (2022), di sejumlah desa di Jawa Timur menunjukkan bahwa nilai religius, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan dapat terwujud dalam kehidupan warga sehari-hari. Tulisan ini menelusuri apakah hal serupa juga terlihat di Demak, kabupaten yang dijuluki Kota Wali. Contohnya diambil dari tradisi keagamaan, penanganan banjir 2024, pemilihan kepala daerah, dan kondisi kesejahteraan warga.

Sila Pertama: Religiusitas yang Menyatukan

Demak identik dengan Islam di Jawa, dan identitas itu terpelihara lewat tradisi Grebeg Besar. Upacara ini digelar setiap 10 Dzulhijjah bertepatan dengan Idul Adha (Nurrokhmah et al., 2022). Rangkaiannya mencakup ziarah ke makam Raden Fatah di kompleks Masjid Agung Demak dan ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu. Pada malam menjelang hari raya, tumpeng songo diarak dari pendopo kabupaten menuju serambi Masjid Agung Demak (Ariyanti, n.d.).

Kajian terbaru memberi gambaran yang lebih dalam. Kurniawati et al., (2025) menemukan bahwa arak-arakan, doa bersama, dan berbagi makanan dalam Grebek Besar membawa makna teologis sekaligus menguatkan kohesi sosial dan identitas bersama. Dalam bahasa Pancasila, tradisi ini memperlihatkan sila pertama yang hidup dalam budaya lokal. Iman tidak berhenti di ruang ibadah, melainkan menjadi alasan warga berkumpul, bersyukur, dan berbagi. uin-malang

Sila pertama juga tidak boleh dipahami sebagai hak istimewa satu kelompok. Menurut Shofa (2022), negara menjamin kemerdekaan setiap pemeluk agama untuk memeluk agamanya sebagaimana diatur dalam Pasal 29 ayat (2) UUD NRI 1945. Karena itu, kebanggaan atas tradisi Islam di Demak perlu berjalan bersama sikap menghormati keyakinan lain.

Sila Kedua dan Ketiga: Kemanusiaan dan Persatuan di Tengah Banjir


Ujian terberat bagi dua sila ini datang pada Februari 2024. Hujan lebat memicu banjir di Demak sejak 5 Februari, dan genangan meluas hingga tujuh kecamatan (Banjir Bandang di Demak, Upaya Evakuasi Terhambat Arus, n.d.). Penyebab utamanya, tanggul sungai jebol (Kondisi Terkini Banjir Demak, Relawan NU Terus Bergerak Lakukan Penanganan, n.d.). Kecamatan Karanganyar menjadi salah satu daerah terparah.

Respons warga dan berbagai lembaga menunjukkan kemanusiaan yang adil dan beradab dalam bentuk nyata. Relawan NU Peduli Jawa Tengah mengerahkan perahu dan relawan dari Pati dan Kota Semarang, dengan fokus mengevakuasi lansia dan warga yang sakit (Kondisi Terkini Banjir Demak, Relawan NU Terus Bergerak Lakukan Penanganan, n.d.). BAZNAS membuka dapur umum di Desa Gajah yang menyediakan 3.000 porsi makanan per hari (Sediakan Berbagai Layanan, Baznas Hadir Bantu Korban Banjir di Demak, n.d.). Dapur umum TNI di Posko SMK Ganesha Gajah menyediakan sekitar 10.000 bungkus nasi bagi pengungsi dan relawan (Banjir Masih Rendam Demak, Ini yang Dibutuhkan Korban Terdampak, n.d.). Hingga pertengahan Februari, dapur umum NU Peduli tersebar di 12 titik di Kecamatan Mijen dan Karanganyar (Relawan NU Peduli Demak Berikan Pengobatan dan Terapi Gratis untuk Warga Terdampak Banjir, n.d.). Ketika warga mulai jatuh sakit, relawan kesehatan turun tangan, dan pengobatan gratis kembali digelar pada Maret 2024 setelah banjir bandang susulan (Relawan NU Peduli Demak Berikan Pengobatan dan Terapi Gratis untuk Warga Terdampak Banjir, n.d.). Kondisi Terkini Banjir Demak, Relawan NU Terus Bergerak Lakukan Penanganan.

Dari sudut pandang sila ketiga, yang menarik adalah keragaman pelakunya. Relawan organisasi keagamaan, lembaga zakat, aparat TNI, dan warga biasa bekerja di posko yang sama dengan tujuan yang sama. Perbedaan seragam dan asal organisasi tidak menghalangi kerja sama. Ini sejalan dengan temuan Shofa (2022), bahwa budaya gotong royong menjadi wujud nyata persatuan di tengah perbedaan. Gotong royong di Demak bukan slogan, melainkan kerja yang menghasilkan ribuan porsi makanan dan nyawa yang terselamatkan.

Sila Keempat: Demokrasi dan Partisipasi Warga


Sila keempat berbicara tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan. Di tingkat kabupaten, wujud paling mudah diamati adalah pemilihan umum. Pada Pilkada 2024, KPU Kabupaten Demak melaporkan partisipasi pemilih mencapai 74,7 persen untuk pemilihan gubernur dan 74,2 persen untuk pemilihan bupati, meningkat dibandingkan pilkada sebelumnya (Di Demak, Partisipasi Pemilih Pilkada Meningkat – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, n.d.).

Angka ini patut dihargai, tetapi jangan dianggap sebagai ukuran tunggal. Mencoblos sekali dalam lima tahun belum otomatis berarti musyawarah berjalan sehat. Shofa (2022), mencatat bahwa dalam komunitas yang rukun, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan tokoh pemuda rutin berdiskusi dan bermusyawarah untuk menyiapkan perayaan keagamaan. Artinya, musyawarah paling bermakna ketika dilakukan terus-menerus di tingkat paling dekat dengan warga. Di Demak, penanganan banjir yang melibatkan banyak pihak dan pembagian posko per wilayah dapat dibaca sebagai latihan musyawarah dan koordinasi semacam itu, meskipun dalam sumber yang saya telaah hal ini tidak dinyatakan secara eksplisit sebagai musyawarah.

Sila Kelima: Keadilan yang Masih Diperjuangkan


Pancasila juga menuntut keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Menurut data BPS yang dihimpun (databoks.katadata.co.id, n.d.), persentase penduduk miskin Kabupaten Demak pada 2025 sebesar 10,87 persen, turun 1,02 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini adalah kabar baik. Namun, jumlah penduduk miskin masih 131.470 jiwa. Di balik persentase, ada ratusan ribu orang yang hidupnya bergantung pada pekerjaan tidak menentu dan rentan terhadap bencana seperti banjir. katadatakatadata

Hubungan antara bencana dan kemiskinan perlu diperhatikan. Keluarga dengan tabungan tipis akan lebih sulit bangkit setelah rumahnya terendam berminggu-minggu. Pada Februari 2024, tercatat sekitar 11.500 kepala keluarga terdampak banjir di Demak (Banjir Masih Rendam Demak, Ini yang Dibutuhkan Korban Terdampak, n.d.). Sila kelima mengingatkan bahwa kedermawanan saja tidak cukup. Dibutuhkan kebijakan yang membuat warga tidak terus berada dalam posisi rawan.

Tantangan: Dari Solidaritas Sesaat ke Kebiasaan


Sejumlah catatan perlu diberikan agar gambaran ini tidak terlalu manis. Pertama, solidaritas saat bencana bersifat reaktif. Warga bergerak cepat ketika air sudah naik, sedangkan pencegahan, seperti perawatan tanggul, tidak cukup digerakkan oleh semangat relawan. Banjir bandang kembali terjadi pada Maret 2024 dan bahkan merendam RSINU Demak (Banjir Bandang di Demak, Upaya Evakuasi Terhambat Arus, n.d.; Relawan NU Peduli Demak Berikan Pengobatan dan Terapi Gratis untuk Warga Terdampak Banjir, n.d.). Kedua, tradisi seperti Grebeg Besar berisiko menjadi sekadar tontonan kalau nilai syukur dan persaudaraannya tidak dihidupkan di luar hari perayaan. Nurrokhmah et al., (2022) sendiri mencatat bahwa tujuan penyelenggaraannya meliputi pelestarian budaya, syiar Islam, dan peningkatan pendapatan asli daerah, sehingga dimensi ekonomi dan nilai perlu dijaga seimbang. Ketiga, partisipasi pemilih yang tinggi perlu diikuti pengawasan warga terhadap kebijakan setelah pemilihan.

Pancasila di Demak tampak paling jelas bukan di dinding kantor atau teks upacara, melainkan dalam kerja bersama warganya. Sila pertama hidup dalam Grebeg Besar, sila kedua dan ketiga dalam dapur umum dan perahu evakuasi saat banjir 2024, sila keempat dalam partisipasi pemilih dan musyawarah, dan sila kelima dalam upaya menekan kemiskinan yang belum tuntas. Tugas generasi muda, termasuk mahasiswa, adalah menjaga agar nilai-nilai itu tidak berhenti sebagai reaksi darurat, tetapi menjadi kebiasaan: terlibat dalam kegiatan desa, mengawasi kebijakan, dan membantu tetangga sebelum bencana datang.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top