Gus Yasin bertemu ACI untuk menjajaki kerja sama pendidikan. Santri Jawa Tengah berpeluang mendapat beasiswa dan belajar di Turki. Foto ist.
Dalam pertemuan itu, salah satu yang dibahas adalah peluang beasiswa bagi santri Jawa Tengah untuk memperdalam ilmu hadis di Turki.
Taj Yasin mengatakan, Syekh Muhyiddin datang untuk memperkenalkan lembaga pendidikan yang dikelolanya di Turki sekaligus menawarkan program beasiswa bagi santri yang ingin memperdalam ilmu hadis.
“Beliau memberikan beasiswa kepada santri-santri yang ingin melanjutkan pendidikan, khususnya pendidikan hadis di pondok beliau,” kata Taj Yasin.
Menurut dia, salah satu program yang ditawarkan berupa pembelajaran selama satu tahun secara daring. Setelah mengikuti pembelajaran dan ujian, peserta yang lulus akan diberangkatkan ke Turki.
Di sana, mereka akan mengikuti pendidikan secara langsung selama sekitar satu bulan. Selama berada di Turki, peserta juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal dan konsumsi.
Gus Yasin menilai tawaran tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam memperluas akses pendidikan bagi santri. Apalagi, Jawa Tengah memiliki sekitar 5.378 pondok pesantren.
Pemprov Jateng sendiri mulai mengembangkan program beasiswa bagi santri melalui Lembaga Fasilitasi Sinergi Pesantren (LFSP) Jawa Tengah. Tahun ini, sebanyak 73 santri asal Jawa Tengah memperoleh beasiswa pendidikan. Dari jumlah tersebut, 15 santri melanjutkan pendidikan ke sejumlah negara, antara lain Yaman, Mesir, dan China.
“Tidak menutup kemungkinan kami juga akan melakukan kerja sama dengan Ma’had beliau (Awwamah Center Indonesia),” kata Taj Yasin.
Sementara itu, Direktur ACI, Syekh Muhyiddin Awwamah, mengatakan tawaran kerja sama dengan Indonesia merupakan bagian dari upaya memperluas pendidikan ilmu hadis.
Saat ini, lembaganya telah memiliki jaringan dengan lembaga pendidikan di lebih dari 70 negara dan sekitar 250 pusat pendidikan hadis.
Khusus di Indonesia, Awwamah Center telah menjalin kerja sama dengan sekitar 40 lembaga pendidikan, termasuk pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan keagamaan.
Menurut Muhyiddin, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan pendidikan hadis karena memiliki jumlah pesantren yang sangat banyak dan perhatian terhadap pendidikan keagamaan.
Namun, ia menilai pendidikan ilmu hadis secara khusus masih perlu diperkuat. Menurutnya, selama ini banyak lembaga pendidikan lebih fokus pada bidang fikih, tasawuf, akidah, dan bahasa Arab.
Sementara itu, lembaga yang secara khusus membina kader untuk mendalami ilmu hadis masih relatif terbatas.
Ia mengatakan, Awwamah Center telah melakukan pembinaan terhadap para santri dari lembaga-lembaga pendidikan yang bekerja sama melalui pembelajaran daring selama sekitar satu tahun terakhir.
Para peserta mengikuti pembelajaran secara bertahap dan menjalani ujian pada setiap tahap. Mereka yang berhasil menyelesaikan tahapan tersebut berkesempatan mengikuti pendidikan intensif selama satu bulan di Turki.
Selama di Turki, para peserta akan belajar langsung kepada Syekh Muhyiddin Awwamah dan ayahandanya, Syekh Al-Allamah Muhammad Awwamah.
Setelah kembali ke Indonesia, pembinaan tidak berhenti. Para peserta akan mendapatkan pendidikan lanjutan agar dapat mengembangkan kemampuan mereka sekaligus mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada santri lain di pesantren atau mahasiswa di lembaga pendidikan masing-masing.
Selain ilmu hadis, peserta juga akan dibekali kemampuan meneliti dan mengkaji naskah-naskah kuno karya para ulama.
Sebagai informasi, Syekh Muhyiddin merupakan ulama kelahiran Aleppo, Suriah. Ia kemudian tinggal di Madinah selama sekitar 49 tahun sebelum pindah ke Turki. Menurutnya, kepindahan tersebut dilakukan setelah mendapat undangan dari Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mengembangkan ilmu hadis di negara itu.
Kunjungan ke Jawa Tengah kali ini merupakan kunjungan keduanya setelah kunjungan pertama pada 2025. Kunjungan tersebut menjadi tindak lanjut berbagai program pendidikan yang telah dijalankan bersama lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia selama sekitar satu tahun terakhir.
Di akhir pertemuan, Pemprov Jateng, LFSP, dan ACI menandatangani Minutes of Meeting (MoM) sebagai dasar penyusunan kerja sama melalui Memorandum of Understanding (MoU).
Taj Yasin mengatakan, Syekh Muhyiddin datang untuk memperkenalkan lembaga pendidikan yang dikelolanya di Turki sekaligus menawarkan program beasiswa bagi santri yang ingin memperdalam ilmu hadis.
“Beliau memberikan beasiswa kepada santri-santri yang ingin melanjutkan pendidikan, khususnya pendidikan hadis di pondok beliau,” kata Taj Yasin.
Menurut dia, salah satu program yang ditawarkan berupa pembelajaran selama satu tahun secara daring. Setelah mengikuti pembelajaran dan ujian, peserta yang lulus akan diberangkatkan ke Turki.
Di sana, mereka akan mengikuti pendidikan secara langsung selama sekitar satu bulan. Selama berada di Turki, peserta juga mendapatkan fasilitas tempat tinggal dan konsumsi.
Gus Yasin menilai tawaran tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam memperluas akses pendidikan bagi santri. Apalagi, Jawa Tengah memiliki sekitar 5.378 pondok pesantren.
Pemprov Jateng sendiri mulai mengembangkan program beasiswa bagi santri melalui Lembaga Fasilitasi Sinergi Pesantren (LFSP) Jawa Tengah. Tahun ini, sebanyak 73 santri asal Jawa Tengah memperoleh beasiswa pendidikan. Dari jumlah tersebut, 15 santri melanjutkan pendidikan ke sejumlah negara, antara lain Yaman, Mesir, dan China.
“Tidak menutup kemungkinan kami juga akan melakukan kerja sama dengan Ma’had beliau (Awwamah Center Indonesia),” kata Taj Yasin.
Sementara itu, Direktur ACI, Syekh Muhyiddin Awwamah, mengatakan tawaran kerja sama dengan Indonesia merupakan bagian dari upaya memperluas pendidikan ilmu hadis.
Saat ini, lembaganya telah memiliki jaringan dengan lembaga pendidikan di lebih dari 70 negara dan sekitar 250 pusat pendidikan hadis.
Khusus di Indonesia, Awwamah Center telah menjalin kerja sama dengan sekitar 40 lembaga pendidikan, termasuk pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan keagamaan.
Menurut Muhyiddin, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan pendidikan hadis karena memiliki jumlah pesantren yang sangat banyak dan perhatian terhadap pendidikan keagamaan.
Namun, ia menilai pendidikan ilmu hadis secara khusus masih perlu diperkuat. Menurutnya, selama ini banyak lembaga pendidikan lebih fokus pada bidang fikih, tasawuf, akidah, dan bahasa Arab.
Sementara itu, lembaga yang secara khusus membina kader untuk mendalami ilmu hadis masih relatif terbatas.
Ia mengatakan, Awwamah Center telah melakukan pembinaan terhadap para santri dari lembaga-lembaga pendidikan yang bekerja sama melalui pembelajaran daring selama sekitar satu tahun terakhir.
Para peserta mengikuti pembelajaran secara bertahap dan menjalani ujian pada setiap tahap. Mereka yang berhasil menyelesaikan tahapan tersebut berkesempatan mengikuti pendidikan intensif selama satu bulan di Turki.
Selama di Turki, para peserta akan belajar langsung kepada Syekh Muhyiddin Awwamah dan ayahandanya, Syekh Al-Allamah Muhammad Awwamah.
Setelah kembali ke Indonesia, pembinaan tidak berhenti. Para peserta akan mendapatkan pendidikan lanjutan agar dapat mengembangkan kemampuan mereka sekaligus mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada santri lain di pesantren atau mahasiswa di lembaga pendidikan masing-masing.
Selain ilmu hadis, peserta juga akan dibekali kemampuan meneliti dan mengkaji naskah-naskah kuno karya para ulama.
Sebagai informasi, Syekh Muhyiddin merupakan ulama kelahiran Aleppo, Suriah. Ia kemudian tinggal di Madinah selama sekitar 49 tahun sebelum pindah ke Turki. Menurutnya, kepindahan tersebut dilakukan setelah mendapat undangan dari Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mengembangkan ilmu hadis di negara itu.
Kunjungan ke Jawa Tengah kali ini merupakan kunjungan keduanya setelah kunjungan pertama pada 2025. Kunjungan tersebut menjadi tindak lanjut berbagai program pendidikan yang telah dijalankan bersama lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia selama sekitar satu tahun terakhir.
Di akhir pertemuan, Pemprov Jateng, LFSP, dan ACI menandatangani Minutes of Meeting (MoM) sebagai dasar penyusunan kerja sama melalui Memorandum of Understanding (MoU).





Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.