Hadratussyaikh hingga Gus Kikin, Ini Pengasuh Pesantren Tebuireng dari Masa ke Masa

Moh. Miftahul Arief
0
Gerbang Pesantren Tebuireng. Foto Youtube Tebuireng Official.

EDUKASIA.ID - KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, pengasuh Pesantren Tebuireng itu banyak diperbincangkan publik, usai ditetapkan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031dalam Muktamar ke 35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Senin 31 Agustus 2026.

Sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng, Gus Kikin merupakan penerus estafet kepemimpinan pesantren yang didirikan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari lebih dari satu abad lalu.

Sebagai salah satu pesantren terbesar di Indonesia, Tebuireng memiliki sejarah panjang yang diwarnai kepemimpinan ulama dan tokoh nasional. Masing-masing memberikan warna tersendiri dalam perkembangan pesantren tersebut.

Tidak hanya menjaga tradisi keilmuan pesantren, para pengasuh Tebuireng juga berkontribusi dalam dunia pendidikan, dakwah, organisasi, hingga kehidupan kebangsaan.

Berikut pengasuh Pesantren Tebuireng dari masa ke masa, mulai Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari hingga Gus Kikin, dilansir dari tebuireng.online:

1. Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari


KH. M. Hasyim Asy'ari merupakan pendiri Pesantren Tebuireng sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU). Beliau lahir di kawasan Pesantren Gedang, Jombang, pada 1871 dan tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang kuat tradisi keilmuannya.

Sejak usia muda, KH. Hasyim Asy'ari dikenal gemar menuntut ilmu. Beliau belajar di sejumlah pesantren di Jawa, seperti Wonokoyo, Langitan, Siwalan Panji, hingga Kademangan Bangkalan. Pengembaraan ilmiahnya kemudian berlanjut ke Makkah.

Selama di Tanah Suci, beliau berguru kepada banyak ulama terkemuka. Setelah kembali ke tanah air, KH. Hasyim Asy'ari mendirikan Pesantren Tebuireng pada 1899. Di bawah kepemimpinannya, Tebuireng berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam paling berpengaruh di Indonesia.

2. KH. Abdul Wahid Hasyim


KH. Abdul Wahid Hasyim merupakan putra KH. M. Hasyim Asy'ari yang dikenal sebagai ulama, negarawan, sekaligus pembaru pendidikan Islam. Ia lahir pada 1 Juni 1914 dan tumbuh dalam lingkungan pesantren Tebuireng.

Sejak kecil, Wahid Hasyim memiliki minat baca yang sangat tinggi. Selain mendalami ilmu agama, ia juga mempelajari bahasa Arab, Belanda, dan Inggris secara mandiri. Ketertarikannya terhadap ilmu umum membuat wawasan keislamannya berkembang semakin luas.

Saat memimpin Tebuireng, Wahid Hasyim mulai memperkenalkan pembaruan pendidikan melalui sistem madrasah yang menggabungkan pelajaran agama dan pengetahuan umum. Selain itu, ia juga dikenal sebagai tokoh nasional yang pernah menjabat Menteri Agama Republik Indonesia.

3. KH. Abdul Karim Hasyim


KH. Abdul Karim Hasyim merupakan salah satu putra Hadratussyaikh yang melanjutkan kepemimpinan Pesantren Tebuireng setelah KH. Wahid Hasyim. Sejak kecil ia tumbuh dan memperoleh pendidikan di lingkungan pesantren.

Sebagian besar pendidikannya ditempuh di Tebuireng. Selain aktif dalam dunia pendidikan, ia juga pernah mengemban tugas sebagai pengawas pendidikan agama dan dosen di lingkungan perguruan tinggi Islam.

Pada masa kepemimpinannya, madrasah menghadapi tantangan besar akibat berkembangnya sistem sekolah formal. Meski demikian, KH. Abdul Karim tetap melakukan pembenahan pendidikan, termasuk memperkuat jenjang Mu'allimin untuk mencetak guru-guru yang kompeten.

4. KH. Ahmad Baidlawi


KH. Ahmad Baidlawi merupakan menantu KH. M. Hasyim Asy'ari yang berasal dari Banyumas, Jawa Tengah. Ia dikenal sebagai santri yang cerdas, tekun, dan memiliki kedalaman ilmu agama.

Kemampuannya membuat KH. Hasyim Asy'ari memberikan kepercayaan besar kepadanya. Bahkan, ia pernah melanjutkan studi ke Tanah Suci dan kemudian ke Universitas Al-Azhar di Mesir.

Saat dipercaya memimpin Tebuireng, KH. Ahmad Baidlawi lebih banyak berfokus menjaga stabilitas dan kesinambungan pendidikan pesantren. Ia mempertahankan sistem yang telah dibangun pendahulunya sambil memastikan proses belajar mengajar berjalan dengan baik.

5. KH. Abdul Choliq Hasyim


KH. Abdul Choliq Hasyim merupakan putra KH. M. Hasyim Asy'ari yang dikenal memiliki karakter tegas dan disiplin. Sejak kecil ia memperoleh pendidikan langsung dari ayahnya sebelum melanjutkan belajar ke berbagai pesantren.

Perjalanan keilmuannya berlanjut hingga ke Makkah. Pengalaman belajar tersebut membentuk kapasitasnya sebagai seorang ulama dan pemimpin pesantren.

Ketika memimpin Tebuireng, KH. Abdul Choliq Hasyim memberi perhatian besar pada penguatan sistem salaf. Ia menghidupkan kembali pengajaran kitab kuning dengan melibatkan sejumlah ulama untuk memperkuat tradisi keilmuan pesantren.

6. KH. Muhammad Yusuf Hasyim


KH. Muhammad Yusuf Hasyim atau yang akrab disapa Pak Ud merupakan putra bungsu KH. M. Hasyim Asy'ari. Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan Tebuireng yang sarat dengan tradisi pendidikan dan pengabdian.

Ia menempuh pendidikan di sejumlah pesantren, antara lain Sedayu Lawas Gresik, Krapyak Yogyakarta, dan Pondok Modern Gontor. Selain dikenal sebagai kiai, Pak Ud juga memiliki kemampuan organisasi yang kuat.

Di bawah kepemimpinannya, Tebuireng terus berkembang dan memperluas peran sosialnya di masyarakat. Sosok Pak Ud juga dikenal luas karena kiprahnya dalam berbagai aktivitas kebangsaan dan organisasi kemasyarakatan.

7. KH. Salahuddin Wahid


KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah merupakan cucu KH. M. Hasyim Asy'ari dan putra KH. Wahid Hasyim. Ia lahir di Jombang pada 11 September 1942.

Berbeda dengan sebagian besar pengasuh sebelumnya, Gus Sholah menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Bandung (ITB). Latar belakang akademik tersebut membuatnya memiliki pandangan yang terbuka terhadap perkembangan pendidikan dan teknologi.

Saat menjadi pengasuh Tebuireng, Gus Sholah melakukan banyak pembaruan. Ia memperkuat sistem pendidikan, meningkatkan tata kelola lembaga, dan mendorong Tebuireng agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan tradisi pesantren.

8. KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)


KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin merupakan cicit Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari. Ia lahir pada 17 Agustus 1958 dan saat ini menjadi Pengasuh Pesantren Tebuireng.

Sebelum memimpin Tebuireng, Gus Kikin memiliki pengalaman panjang di dunia usaha dan organisasi. Ia juga aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama serta memperoleh berbagai amanah kepemimpinan di organisasi tersebut.

Sejak menjadi pengasuh pada 2020, Gus Kikin berupaya melanjutkan program-program yang telah dirintis pendahulunya. Di bawah kepemimpinannya, jaringan alumni terus diperkuat dan sejumlah cabang Tebuireng berkembang di berbagai daerah. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kontribusi Tebuireng dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Penutup

Lebih dari satu abad sejak didirikan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari, Pesantren Tebuireng terus berkembang melalui estafet kepemimpinan para pengasuhnya. Masing-masing memiliki pendekatan dan kontribusi berbeda sesuai tantangan zamannya.

Meski demikian, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga tradisi keilmuan, memperkuat pendidikan Islam, dan melanjutkan perjuangan yang telah dirintis pendiri pesantren. Hingga kini, Tebuireng tetap menjadi salah satu pesantren terkemuka di Indonesia dan terus melahirkan generasi yang berkiprah bagi agama, bangsa, dan negara.

Posting Komentar

0 Komentar

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.

Posting Komentar (0)

#buttons=(Ok, Go it!) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Ok, Go it!
To Top